3 “Leadership Regeneration” Pitfalls

Semoga artikel kali ini tidak terlalu berat.

Setelah bertahun-tahun terjun dalam dunia human development dan memberikan training serta konsultansi di berbagai perusahaan maupun organisasi sosial, saya menemukan kenyataan bahwa arah sebuah organisasi (apapun organisasinya), sangat bergantung kepada leader mereka. Bahkan sistem yang tampaknya dibangun untuk meng’obyektif’kan sebuah keputusan pun, tetap dipengaruhi oleh subyektifitas “selera” dan passion sang leader.

Bagaimanapun kata leader itu sendiri memiliki bagian arti “yang diikuti”, dan tugas mereka adalah to lead on, yaitu menuntun orang-orang yang ia bawa. Jadi tidak heran bahwa seobyektif-obyektif’nya sistem organisasi yang coba dibuat, tetap saja, karakteristik sang leader ikut menentukan pada akhirnya.

Dalam skala organisasi, seperti apa orang-orang yang mengisi posisi leadership akan menentukan seperti apa organisasinya. Begitu pula, kualitas para leader dengan sendirinya membentuk kualitas dari organisasi itu.

Jika Anda ingin memiliki sebuah organisasi dengan high quality performance, maka Anda harus memastikan bahwa organisasi Anda juga diisi oleh para leader yang memiliki high quality performance. Jika Anda ingin memiliki sebuah organisasi dengan excellent attitudes & working ethics, maka para leader dalam organisasi Anda harus memilikinya lebih dahulu.

Dengan kenyataan ini, maka sudah jelas bahwa organisasi manapun harus concern dan berfokus pada agenda leadership development mereka. Bukan hanya kita harus terus mengembangkan para leader yang ada dan men’stretch’ kapasitas mereka, tetapi kita juga harus terus melahirkan dan menumbuhkan sebanyak mungkin orang dengan kualitas level leader (meski mereka belum tentu menduduki jabatan leadership tertentu).

Semakin banyak orang dengan kualitas leader dalam sebuah organisasi, maka semakin tinggi level kedewasaan, produktifitas, efektifitas, dan performa organisasi itu.

Namun, anehnya, di banyak organisasi, proses pengembangan leader ini belum benar-benar menjadi agenda utama (bahkan ada yang tidak masuk agenda sama sekali). Namun, di saat yang sama, para petinggi organisasi tersebut tetap menginginkan peningkatan performa.

Maka, kondisi inilah yang saya sebut dengan kondisi macetnya leadership regeneration. Artinya, organisasi tersebut berhenti menghasilkan (men’generate’) leader. Dengan keadaan seperti ini, mustahil untuk Anda berharap hasil dan performa tinggi yang konsisten.

JosuaIwanWahyudi2

 

Mengapa kondisi ini terjadi? Mengapa banyak petinggi organisasi yang masih belum aware dengan pentingnya men’generate orang-orang berkualitas leader?

Setidaknya ada 3 alasan yang umum sekali saya jumpai:

1. “Oh, Begitu Ya?”

Alasan pertama, simply karena mereka sama sekali tidak tahu bahwa kualitas organisasi mereka ditentukan oleh kualitas orang-orang yang menduduki posisi leadership dalam organisasi itu. Dengan demikian, mereka sama sekali tidak berpikir untuk melakukan leadership development apapun. Dan ketika mereka diberitahu tentang fakta (yang saya tulis di atas), mereka merespon dengan “Oh, begitu ya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *