3 “Leadership Regeneration” Pitfalls

2. “Nanti akan muncul pada waktunya”

Masih banyak orang yang berpikir bahwa orang dengan kualitas leader akan muncul dengan sendirinya melalui proses pembentukan alami seiring waktu dan keadaan. Sehingga, harusnya dengan berjalannya waktu, orang-orang di dalam organisasi kita seharusnya terus berkembang dan suatu hari akan mencapai level kualitas seorang leader.

Dan karena menyerahkan pada proses “alami” ini, maka banyak orang merasa tidak perlu untuk secara khusus membuang waktu, energi, dan uang untuk melakukan leadership development. Toh, pada waktunya nanti, kita hanya tinggal menuai munculnya orang-orang berkapasitas leader. Ibarat bayi, toh, suatu hari dia akan jadi orang dewasa dengan sendirinya.

Pemikiran ini separuh benar, dan separuh salah. Benar, jika memang organisasi Anda sudah memiliki “empowering environtment” untuk memproses siapapun yang ada dalam organisasi Anda untuk menjadi seorang leader. Artinya, sudah ada sistem organisasi yang membuat siapapun yang bergabung dalam organisasi Anda, mau tidak mau terbentuk dengan mentalitas dan kapasitas seorang leader.

Ibaratnya, Anda sudah memiliki sebuah mesin otomatis dan yang perlu Anda lakukan hanyalah memasukkan “bahan mentah” ke dalam mesin itu dan dengan sendirinya, sistem dalam mesin itulah yang mengerjakan semua converting process dari bahan mentah menjadi produk jadi siap pakai.

Namun, itu artinya, Anda harus meletakkan sistem leadership development dalam organisasi Anda bukan? Tanpa adanya sistem semacam itu, takkan mungkin lahir para leader untuk organisasi Anda.

Masalahnya, banyak organisasi yang sama sekali tidak memiliki sistem pengembangannya namun berharap dengan sendirinya muncul para leader dari organisasi itu. Itu sama saja seperti Anda menanam benih di tanah yang tidak dipersiapkan, tak pernah disiram, dipupuk, dan dirawat, lalu berharap tumbuh tanaman dengan buah termanis.

Seorang leader dihasilkan dan dibentuk. Dalam konteks organisasi, (meskipun ada) Nyaris jarang sekali saya menemukan ada seorang leader muncul dengan sendirinya tanpa melalui proses nurturing dan development yang tepat.

JosuaIwanWahyudi4

 

3. “Jabatan akan memaksanya”

Salah satu praktek paling umum untuk dilakukan adalah “mendorong” seseorang pada sebuah posisi leadership dan berharap orang tersebut akan memiliki kualitas seorang leader karena dipaksa oleh keadaan harus memimpin.

Pemikiran ini mirip dengan pemikiran, “ceburkan saja seseorang ke dalam air dan seiring waktu, dia akan bisa berenang dengan sendirinya”. Well, metode seperti ini tak selamanya berhasil untuk urusan renang, setidaknya itu tak berhasil untuk saya. Malahan gara-gara tindakan pen”cemplung”an paksa itu sempet memberikan saya trauma mendalam dengan air. (dan tetap saya tak bisa berenang).

Masalahnya lagi, berenang totally different dengan menjadi seorang leader. Menaruh seseorang pada posisi leadership tanpa mempersiapkan dia untuk posisi itu, sama saja dengan tiba-tiba menyuruh orang yang belum bisa nyetir mobil, untuk mengemudi mobil sambil membawa penumpang.  Beruntunglah jika penumpangnya adalah orang santai yang tak peduli kemana Anda membawa, tapi bagaimana jika penumpangnya adalah ibu hamil yang segera melahirkan?

Menjadikan posisi leadership sebagai arena latihan adalah sebuah tindakan berisiko tinggi, kecuali memang kita meyakini orang tersebut memiliki potensi leadership yang kuat dan hanya tinggal perlu diaktifkan melalui jam terbang dan pengalaman lapangan yang real.

Sama seperti proses melahirkan seorang bayi. Jika memang sang ibu (organisasi) dan sang bayi (calon leader) sama-sama sehat, dan kuat, mungkin melahirkan di tengah hutan tanpa pertolongan orangpun bisa saja dilakukan. (terbukti memang itu pernah terjadi berkali-kali sepanjang sejarah kelahiran manusia).

Namun, bukankah melakukan persiapan jauh-jauh hari akan membuat peluang kelahiran sehat menjadi lebih tinggi dan meminimalkan resiko kematian sang bayi?

Oke, dari semua analogi, metafora, pengandaian yang sudah saya pakai di sepanjang artikel ini, apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan?

Sederhana, mulailah concern dan fokus kepada pengembangan leader dalam organisasi Anda. Semakin cepat Anda memulainya, semakin cepat organisasi Anda berkembang. That’s my point!

Josua Iwan Wahyudi
Master Trainer EQ Indonesia
@josuawahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *