QZ8501: HIDUP TIDAK SELAMANYA

28 Desember 2014. Saya bersama istri sedang tergesa-gesa berlari memasuki ruang check in bandara Internasional Adi Sumarmo di Surakarta karena kami tiba (setelah 3,5 jam perjalanan dari madiun yang melelahkan) pada waktu yang sangat mepet dengan jam terakhir untuk melakukan check in.

Secara sekilas sambil berlari tergesa saya melihat sebuah tayangan di televisi bandara dengan judul “Pesawat Air Asia Surabaya-Singapore Dinyatakan Hilang”.

Tentu saja urusan check in dan kesibukan penerbangan pulang ke Jakarta membuat saya tidak terlalu mempedulikan kilasan berita yang saya lihat. Barulah ketika saya sampai menginjakkan kaki di rumah tercinta, saya menyalakan televise dan menyimak semua berita heboh QZ8501.

Sejujurnya, saya jenis orang yang sering anti mainstream. Artinya, kalau orang lagi heboh tentang apa, saya biasanya malas untuk ikut-ikutan. Termasuk ketika semua social media memuat penuh semua berita, ucapan, dan karya apapun mengenai hilangnya Air Asia QZ8501, saya menjadi malas untuk memposting apapun yang berkaitan dengan itu. (Saya tahu Anda pasti berpikir saya adalah orang yang aneh… Well, Anda bukan orang pertama yang berpikir demikian).

Tapi, dorongan untuk menulis artikel ini tidak tertahankan karena hari demi hari saya terus terngiang-ngiang dengan peristiwa ini.

post26

Kejadian hilangnya Air Asia QZ8501 ini terkesan begitu “dekat” dengan saya karena beberapa alasan. Pertama, karena keberangkatan mereka dari Surabaya. Surabaya adalah kota yang emotionally bounded dengan saya, karena istri saya pernah kuliah disana, dan waktu masa pacaran, kami melakukan LDR Jakarta-Surabaya. Sehingga, berjumpa dengan orang-orang Surabaya dengan gaya bicara logat “khas” mereka, atau sekedar hadir di kota itu atau melihat foto-foto kota itu, menguak memori romantic saya menjalani LDR 4tahun lamanya. Maka ketika berkenalan atau bertemu dengan seseorang yang asalnya dari Surabaya, itu membuat saya langsung punya kedekatan emosional tertentu.

Kedua, destinasi penerbangan ke Singapura sangatlah familiar sekali dengan kita orang Indonesia. Dan harus diakui, maskapai Air Asia adalah yang terbanyak mengangkut para traveler Indonesia menuju Singapura. Maka penerbangan dengan pesawat Air Asia menuju Singapura, terasa begitu “related” dengan kultur kita (terutama generasi muda). Tentu saja, dengan segera ini memunculkan sebuah firasat intuitif yang berbunyi “bisa saja saya yang berada di dalam pesawat itu…” (itu sebuah kemungkinan yang cukup besar bukan?)

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.