QZ8501: HIDUP TIDAK SELAMANYA

Tapi, yang membuat saya terdorong menulis artikel ini bukanlah semua alasan itu.

Faktor pendorong terkuat sebenarnya adalah ketika kemarin malam (2 Januari 2015), saya melihat tayangan sebagian profil singkat para korban QZ8501. Sebagian besar mereka berusia masih (terhitung) muda dan tampak memiliki masa depan yang menjanjikan. Tak sedetikpun orang berpikir dan menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir dengan secepat itu dan dengan cara yang se”mengaget”kan itu.

Bayangkan, semuanya berangkat dengan semangat dan nuansa “liburan”. Saya pernah melakukan traveling semacam ini di musim liburan. Saya yakin Anda juga pernah mengalami situasi ini. Hanya sekedar menginjak kaki di kabin pesawatnya saja, Anda sudah bisa merasakan “hawa” senang-senang dan atmosfir keceriaan liburan itu.

Apalagi ini adalah tanggal 28 Desember! Hari Minggu! Bayangan tentang kemeriahan pesta tahun baru tentu sudah tergambar jelas di benak semua orang. Dan karena semua hal inilah, maka jelas tak seorangpun akan bisa bersikap biasa ketika mendengar kenyataan bahwa pesawat “traveling” ini tiba-tiba menghilang dan di kemudian hari ditemukan jatuh di perairan dengan potensi kenyataan tak ada penumpang yang selamat.

Orang Indonesia yang tak kaget dengan berita ini, mungkin orang yang sudah “kapalan” kulit empati dan simpatinya.

post25

Saya memiliki pengalaman dengan peristiwa kematian beberapa orang dekat. Berita QZ8501 ini dengan segera memunculkan flash back mengenai kematian orang-orang tersebut. Beberapa peristiwa kematian itu datang dengan tiba-tiba, tanpa peringatan, dan menghampiri orang yang sama sekali tidak saya sangka akan meninggal.

September 2013, kakak sulung saya meninggal setelah sebelumnya secara tiba-tiba mengalami pendarahan otak. Saat itu saya sedang di back stage bersiap-siap memberikan seminar motivasi kepada 1000 lebih mahasiswa baru di salah satu universitas di Jakarta. 3 menit menjelang saya dipanggil, saya menerima telepon dari kakak ketiga saya yang mengabarkan mengenai kakak sulung saya yang sedang berada di UGD.

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.