QZ8501: HIDUP TIDAK SELAMANYA

Padahal, kakak sulung saya adalah yang paling tampak sehat diantara kami semua, dan juga usianya masih tergolong muda (42 tahun) dan sedang berada dalam masa-masa terbaik kehidupannya.

Banyak sekali orang berpikir bahwa kematian hanyalah berteman dengan mereka yang usianya sudah senja dan enggan atau jarang sekali menghampiri mereka yang masih muda.

Tapi peristiwa QZ8501 ini benar-benar seolah berteriak kepada saya bahwa hidup ini sungguh benar-benar sebuah misteri dan kematian bisa menghampiri siapa saja dalam keadaan apa saja.

Ketika kakak saya meninggal 2 tahun yang lalu, itu membuat saya sangat menghargai hidup, terutama menghargai waktu-waktu saya bersama istri. Lalu QZ8501 ini juga sekali lagi membuat saya semakin kuat untuk menghargai setiap detik yang saya miliki.

post27

Bisa saja pada suatu pagi nafas saya sudah terhenti dan tak bangun lagi. Bisa saja suatu perjalanan seru yang fantastis saya adalah momen terakhir saya (seperti yang terjadi pada seorang pendeta hebat Myles Monroe). Bisa saja tawa saya dalam sebuah acara adalah tawa terakhir yang saya pertontonkan. Bisa saja kotbah saya pada sebuah pelayanan adalah kotbah terakhir yang pernah saya sampaikan. Bisa saja sebuah saat makan siang di sebuah depot sederhana dengan istri saya adalah makan siang terakhir dalam hidup saya. Terlalu banyak kemungkinan bahwa hidup saya bisa berakhir kapan saja, di usia mana saja, dan dalam keadaan apapun! (tak peduli sesehat apa, sekaya apa, sekuat apa, dan seperti apa kondisimu saat itu!)

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.