5 Indikator Kepahitan Hati

Guard your heart above all else, for it determines the course of your life.
Amsal 4:23

 

Salomo yang pernah dikenal sebagai orang paling bijaksana menuliskan salah satu nasihat dan  peringatan yang paling populer, yaitu untuk menjaga hati. Sejarah sudah membuktikan bahwa kata-kata Salomo ini 100% benar adanya. Semua yang kita lakukan dalam hidup ini bermuara dari hati kita.

Ketika hati kita bersih, maka bersih pula tindakan kita, sehingga kita juga akan menghasilkan kehidupan yang bersih. Namun, ketika hati kita menjadi kotor dan pahit, maka tindakan kita juga menjadi kotor dan pahit, sehingga pada gilirannya, membawa kita kepada kehidupan yang kotor dan pahit.

Tidaklah diragukan lagi bahwa Kekristenan berdiri di atas prinsip “from inside outside”, yaitu apa yang terpancar keluar dari hidup kita, semuanya berasal dari dalam diri kita. Kualitas yang kita tunjukkan ditentukan oleh kualitas hati kita. Itu sebabnya Salomo berpesan untuk menjaga kualitas internal kita (hati), agar apa yang terpancar keluar merupakan hal-hal yang benar.

Namun, sepanjang perjalanan waktu, nyaris tak terhitung lagi jumlah orang Kristen dan pelayan Tuhan (maupun “hamba Tuhan”) yang mengalami kepahitan hati. Bahkan banyak pula yang sudah pahit hatinya, namun tetap tidak sadar dan dengan tegas menyatakan bahwa “saya tidak kepahitan”.

Saya sendiri pernah mengalami pahit hati, itu sebabnya saya tahu persis bagaimana berada dalam kondisi kepahitan. Berdasarkan apa yang saya alami inilah, saya mencoba menuliskan indikator-indikator apa saja yang menandakan bahwa kita sedang mengalami pahit hati. Semoga indikator ini menolong kita dalam melakukan “heart check up” sebagai usaha kita memenuhi nasihat Salomo, yaitu menjaga hati.

JosuaIwanWahyudi5

 

1.TAK TAHAN MENCERITAKAN KEJELEKAN/KESALAHAN

Salah satu ciri pahit hati adalah kita ingin semua orang mengetahui kejelekannya. Kita tak tahan menceritakan perbuatannya yang melukai kita dan ingin sebanyak mungkin orang mengetahuinya. Semakin kita menceritakan kejelekannya, semakin kita bersemangat dan berkobar-kobar. Apalagi, jika ada orang lain yang “mendukung” dan meng”amin”i cerita kita, maka kita akan semakin bersemangat.

Sementara, ketika kita mengetahui bahwa orang tersebut sudah mulai berubah menjadi lebih baik, hati kita terasa “tidak rela” karena itu artinya kita tak bisa lagi menceritakan kejelekannya. Biasanya reaksi kita “ya puji Tuhanlah kalau dia sudah berubah”, tapi sebenarnya hati kita sulit menerima dan ada harapan kecil supaya dia tetap sama, sehingga kita bisa terus “mencela” dan menjelekkan dirinya

 

2. PEKA DENGAN KEJELEKAN/KESALAHAN

Ciri lain dari pahit hati adalah, kita selalu dengan cepat dan mudah menemukan kejelekan atau kesalahan-kesalahan orang itu. Meski itu kesalahan kecil sekalipun, kita menganggapnya sebagai kesalahan besar dan kita “eksploitasi” sebagai bahan untuk menyerang dia dan meneguhkan bahwa dia orang yang buruk. Semakin banyak kesalahan-kesalahan yang berhasil kita temukan, kita semakin merasa senang.

Namun, perasaan “senang” ini hanyalah bersifat sementara dan tak bisa dipuaskan. Itu sebabnya, biasanya kita terus mencoba mencari hal-hal jelek apalagi yang bisa ditemukan. Dan, ketika ada orang lain yang membawa kabar/cerita mengenai kejelekan atau kesalahan orang itu, dengan segera kita kembali menemukan rasa “senang” tadi.

Walaupun seringkali yang terjadi, kita berusaha “sok sedih/iba/prihatin” ketika mendengar kabar orang itu melakukan kesalahan lagi, namun, sesungguhnya ada bagian hati kita yang bergembira karena kita merasa diteguhkan bahwa dia memang orang yang buruk dan kitalah pihak yang benar (yang dikorbankan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *