5 Indikator Kepahitan Hati

3. KESALAHAN KECIL MENGGANTIKAN KEBAIKAN BESAR

Ciri berikutnya, saat kita pahit hati tidak memperhitungkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang itu. Jika dari 10 perbuatan, 9 diantaranya adalah perbuatan baik sedangkan hanya 1 saja perbuatan jelek yang kecil, kita menganggap 1 kesalahan kecil itu lebih besar dari 9 perbuatan baik lainnya.

Fokus kita adalah melihat kejelekan / kesalahan. Itu sebabnya kebaikan dan perubahan positif apapun yang terjadi pada orang itu, kita mengabaikannya dan bahkan seringkali dengan sengaja kita tidak mau menerima dan mempercayainya.

 

JosuaIwanWahyudi6

 

4. MENCARI PENDUKUNG

Ciri khas unik ketika kita pahit hati adalah kita mencari pendukung. Artinya, kita selalu memposisikan diri sebagai korban dan ingin semua orang berada di pihak kita. Itu sebabnya ketika kita menceritakan kejelekan/kesalahan orang itu, kita ingin semua orang menyetujui cerita itu.

Ketika ada orang yang mencoba bersikap netral dengan berkata, “ah, mungkin maksud dia nggak begitu kali…” atau “ya siapa tahu dia sekarang sudah berubah”, maka kita akan berusaha keras menjelaskan betapa jelek/salahnya dia, dan biasanya kita akan merasa tidak dibela dan menganggap orang yang mendengar cerita tidak berada di pihak kita.

Apalagi, jika pernyataan-pernyataan netral / positive thinking itu dilontarkan berkali-kali, maka kita biasanya menjadi marah atau menjadi malas bercerita lagi karena merasa bercerita pada orang yang salah.

 

5. PENYANGKALAN

Ciri kelima ketika kita pahit hati adalah, menyangkali bahwa kita merasa kepahitan, padahal sesungguhnya, dalam hati kecil kita tahu ada bagian hati kita yang masih terluka.

Biasanya, kita akan berkata, “aku sudah mengampuni kok, aku nggak mau kepahitan”, tapi anehnya, meski kita mengaku sudah mengampuni, tetap saja gejala 1-4 yang ada di atas masih terus kita lakukan.

Dan yang menarik, semakin kita menyangkali, semakin kita merasakan kepahitan yang mendalam. Penyangkalan bagaikan menutup luka dalam keadaan basah menganga. Tindakan itu bukannya memulihkan, malah membusukkan luka tersebut.

Sebagai orang yang pernah hidup dalam kepahitan, harus diakui kadangkala saya berusaha keras untuk menyangkali bahwa saya sedang terluka dan pahit hati. Tapi, sesungguhnya hati nurani saya tahu bahwa saya sudah mengalami kondisi kepahitan.

Semakin lama kita membiarkan diri untuk menjadi pahit hati, semakin hancur hidup kita karena semua potensi kita mendadak lumpuh, dan arah hidup kita menjadi terfokus kepada “pembuktian diri”, kita tidak lagi mengejar panggilan Tuhan dalam hidup kita, melainkan sibuk melakukan “yang terbaik” untuk membuktikan diri bahwa kita benar dan dia salah.

Semoga 5 indikator di atas menolong Anda untuk menganalisa kondisi hati Anda, dan marilah kita terus menjaga hati kita murni, karena dari situlah seluruh kehidupan kita berasal.

 

Josua Iwan Wahyudi
@josuawahyudi

3 thoughts on “Sebuah Pertanyaan?

  1. Sangat bagus pembahasan dari artikel ini, menelaah hal-hal yang cenderung diabaikan dan membuat gamer secara tak sadar berperilaku hal-hal yang berujung destruksi terhadap hidupnya di dunia nyata. Terus sharing hal yang bermanfaat ya kak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *