josuaiwanwahyudi-perceraian

Yesus Mengijinkan Perceraian?

Sekitar 15 tahun yang lalu, kata “perceraian” masih memberikan gambaran yang mengerikan dan menjadi salah satu hal yang sebisa mungkin dihindari kebanyakan pasangan yang menikah.

Tetapi hari ini, perceraian menjadi sesuatu yang biasa. Generasi modern semakin bisa menerima bahwa perceraian hanyalah sebuah pilihan kehidupan yang mirip seperti kalau kita merasa tidak cocok bekerja di sebuah perusahaan, resign adalah pilihan masuk akal dan lumrah.

Di Indonesia sendiri, menurut data  BKKBN tahun 2013, data resmi yang tercatat menunjukkan bahwa 1 dari 10 pasangan menikah, berakhir dengan perceraian. Data ini tidak dihitung dengan pasangan yang sebenarnya sudah berpisah tapi tidak mengajukan gugatan cerai resmi ke pengadilan.

Sedangkan data menurut kementrian agama tahun 2014, Indonesia termasuk negara dengan tingkat perceraian tertinggi di Asia Pasifik.

Dengan semakin berubahnya kultur gaya hidup modern, semakin banyak public figure yang dengan mudah bercerai, menikah lagi, bercerai lagi, dan menikah lagi, maka, kita sedang disajikan sebuah “live brainwash” bahwa perceraian adalah sesuatu yang biasa dan tak perlu dilebih-lebihkan.

Para orang percaya semakin digelisahkan ketika ternyata semakin banyak juga para pendeta dan pelayan Tuhan (sebagian bahkan ternama dan memiliki pengikut yang besar), juga ternyata melakukan perceraian. Ini membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya bagaimanakah Tuhan memandang perceraian?

Beberapa orang bahkan mengutip Matius 5:31-32 sebagai dasar bahwa “Yesus saja mengijinkan perceraian lho!”

 

RELATIONSHIP BASED ATAU LAW BASED?

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin Anda memahami dasarnya dulu. Tanpa memahami dasar ini, Anda akan terjebak hanya kepada “boleh dan tidak”, tanpa memahami benar-benar apa esensinya.

Jika Anda memahami betul, pada saat Anda menikah, Anda akan melakukan pernikahan dalam 2 bentuk, yaitu pernikahan yang dilakukan secara rohani, melalui proses “pemberkatan nikah”, dan pernikahan yang dilakukan secara hukum yang berlaku di Indonesia, yaitu “catatan sipil”.

Itu sebabnya, gereja mengeluarkan surat akte pernikahan dan pemerintah juga memberikan Anda surat akte pernikahan.

Di dalam kekristenan, kita meyakini bahwa pernikahan yang sesungguhnya bukan hanya terjadi secara legal/hukum, melainkan justru secara fisik (tubuh & jiwa – daging) dan roh (maleakhi 2:13-16).

Suatu hari, Yesus ditantang oleh para orang farisi dan mereka bertanya “bolehkah seorang pria menceraikan istrinya?”, pertanyaan ini diajukan untuk menjebak Yesus, sebab menurut Taurat yang diajarkan Musa, memang ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat perceraian boleh dilakukan. Terutama jika menyangkut adanya perzinahan yang dilakukan oleh salah satu pihak.

3 thoughts on “Yesus Mengijinkan Perceraian?

  1. Bagaimana dengan kasus KDRT – yang sampai mengancam jiwa – dalam sebuah pernikahan, misalnya, atau perselingkuhan dan poligami? Bisakah perceraian dipandang dari perspektif hitam atau putih?

  2. Tapi saya banyak melihat orang yang bercerai karena suami melakukan perselingkuhan a tau tidak memberikan nafkah ke Istri dan Anak Anak,sedangkan menuntut hak sebagai suami,nah jika ini terjadi Kak Iwan,tindakan bijak apa yang harus dilakukan?

  3. @dewi & @vina

    ini my personal opinion yah… tidak mewakili gereja saya, hehehe…

    pertama, apakah pernikahannya dilakukan di “dalam Kristus”? bukan cuma sekedar urusan ada pemberkatan nikah lho, tapi apakah keduanya sudah lahir baru dan memiliki roh yang sama dari Yesus? Jika iya, maka hukum penyatuan roh itu terjadi. jika tidak, maka sebenarnya pemberkatan nikah itu cuma ritual “fisik” semata. karena bagaimana mungkin terang dan gelap bisa bersatu? kalau rohnya udah beda asalnya, gimana Tuhan mau nyatuin dengan diriNya juga?

    maka, menurut saya, kalau memang dari awal udah tidak di dalam kristus, maka boleh2 saja untuk berpisah. makanya pasangan yang lahir barunya belakangan, melakukan re-marriage dan pemberkatan nikah, karena itu bukan bicara ritual, itu bicara spiritual.

    kedua, kalau keduanya sudah di dalam kristus (benar2 lahir baru). maka, saya berpendapat tetap harus menjadi covenant keeper apapun yang terjadi. Karena kalau roh Kristus ada dalam diri seseorang, pastilah dia tidak akan tahan berlama2 hidup dalam dosa dan pelanggaran, sehingga potensi untuk berubahnya ada.

    Kalau terjadi KDRT? ketidakadilan dll? Boleh berpisah sementara (demi alasan keamanan dan perlindungan terhadap anak), tetapi harus tetap didoakan agar terjadi pemulihan dan tetap menjadi covenant keeper. Mudah? tentu saja tidak. Tapi apakah ini masuk akal? menurut saya ya! Karena sudah ada banyak kasus dan testimoni dimana ketika salah satu pihak “error”, pihak yang benar berdoa dan membawa sungguh2 ke hadapan Tuhan, dan terjadi pemulihan.

    Bahkan ada beberapa kasus yang sudah sangat parah dan tampaknya sudah tak mungkin bisa pulih, tapi toh ternyata Tuhan bisa melakukan keajaiban ketika salah satu tetap berdoa dan memegang covenant.

    Ketiga, bagi saya, kalau memang dari awal bangun hubungannya benar. Memang dari awal membangun hubungan di dalam kristus dan melibatkan kristus, rasanya KDRT akan kecil peluangnya untuk terjadi.

    Keempat, poligami? Kok bisa2nya orang di dalam kristus berpikir tentang poligami? perlu dicek benar2 sudah lahir baru atau belum? hehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *