penulisJosuaIwanWahyudi

Menjadi Penulis Seperti JIW?

Saya pernah menemukan sebuah buku yang sama sekali tidak ada tulisannya, dan hanya berisi symbol-simbol saja. Mungkin sebagian orang akan berkata bahwa dia tidak menulis buku, dia menggambar di buku. Tapi bagi saya, ini adalah satu dari sekian banyak cara untuk berkomunikasi lewat sebuah buku.

Artinya, ada banyak sekali kemungkinan yang bisa dilakukan oleh seorang penulis dalam menyampaikan pesannya melalui sebuah buku. Tidak melulu harus menggunakan sebuah cara yang itu-itu saja dan yang kebanyakan orang lain lakukan.

Bahkan, saya pernah membaca sebuah buku yang gaya bahasanya sangat tidak baku, bertentangan dengan pola kalimat bahasa yang benar, dan penuh dengan istilah-istilah yang tidak pada tempatnya, tapi anehnya, justru gaya itulah yang membuat pesannya tersampaikan.

Mengapa orang berpikir menulis itu susah? Karena dia mencoba untuk menulis seperti orang lain, bukan menulis sesuai seperti apa yang keluar dari dalam dirinya.

Jangankan menulis, berjalan seperti gaya jalan orang lain saja pastilah susah untuk kita lakukan bukan? Berbicara dengan logat dan gaya seperti orang lain juga tidak mudah dilakukan. Begitu pula dengan menulis!

Lagian, orang menganggap sesuatu itu sulit karena dia belum tahu cara mudah untuk melakukannya dan belum pernah melakukannya.

Dalam 3 tahun terakhir, setelah saya sudah begitu fasih menulis dan bagi saya menerbitkan sebuah buku adalah semudah seperti memasak sebuah mie instan, saya bahkan bisa menyelesaikan sebuah naskah untuk buku setebal 150 halaman, hanya dalam waktu 4 hari saja!

Mengapa? Karena saya sudah tahu caranya, dan saya sudah terbiasa dengan cara itu.

 

“SIAPA YANG MAU BACA TULISAN SAYA?”

Ini adalah pemikiran teraneh yang banyak dilontarkan orang, sebagai alasan kenapa mereka tidak mau menulis. Saya adalah orang yang paling giat memprovokasi orang lain untuk menulis, tapi tidak jarang saya berhadapan dengan alasan ini: “siapa yang mau baca tulisan saya pak?”

Jika dipikir-pikir, status di Facebook yang isinya “sampah” dan penuh kata-kata tak berguna saja, masih mau dibaca oleh banyak orang. Bahkan, buku-buku yang isinya tidak jelas, menggunakan kalimat yang memusingkan, dan pada akhirnya lebih banyak membuat kita pusing ketimbang tercerahkan, itu saja ada orang yang mau membacanya! (termasuk saya!)

Jadi, tidak ada tulisan yang tidak dibaca. Masalah orang menyukainya atau tidak, itu urusan belakangan. (maskud saya belakangan, ada banyak trik untuk bisa membuat sebuah tulisan ‘ancur’ menjadi tulisan yang disukai).

Hal pertama yang harus Anda pahami adalah, ada banyak orang yang MAU membaca tulisan Anda! Tapi Anda takkan pernah mengetahui fakta ini, sampai Anda menerbitkan tulisan Anda!

 

Jadi, setelah saya selidiki, rupanya, banyak orang tidak menulis dan menerbitkan buku bukan karena mereka tidak mampu dan tidak bisa. Justru lebih banyak saya jumpai karena mereka TIDAK MAU atau TIDAK SADAR BAHWA MEREKA MAMPU!

Kalau siapapun bertanya, “pak, bisakah saya menjadi penulis seperti bapak?” Jawaban saya jelas: BISA!

Anda mungkin belum tentu bisa menulis seperti saya, tapi Anda bisa menjadi penulis seperti saya!

 

Josua Iwan Wahyudi
Instagram: @JosuaIwanWahyudi

WRITINGWORKSHOP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *