ClashRoyale2

Supercell, Clash Royale, dan Kecerdasan Emosi?

Baru-baru ini, Supercell, salah satu pengembang game online terkemuka yang populer lewat Clash of Clan (COC) dan HayDay, melepaskan sebuah pengumuman untuk salah satu fiturnya yang ada pada game andalan terbarunya: Clash Royale (CR).

Seperti pendahulunya (COC), Clash Royale juga dengan cepat meraih popularitas dan menjadi salah satu trend setter dunia game online.

Salah satu fitur yang ada dalam game ini adalah “emotes”, yaitu fasilitas untuk memunculkan gambar-gambar “emoticon” di tengah-tengah permainan. Entah apa alasan pemikiran awal tujuan diberikannya fasilitas ini. Namun yang jelas, pada kenyataannya, fasilitas emotes ini banyak digunakan para pemain untuk mengejek, menggoda, dan mencemooh lawan yang berhasil dikalahkan.

Walaupun beberapa pemain “positif” menggunakan fasilitas emotes ini untuk beramah-tamah, namun lebih banyak pemain yang memakai emotes sebagai alat untuk mengejek dan menghina lawan.

Bagi Anda yang memainkan game ini, Anda pasti merasakan sendiri betapa kesalnya ketika lawan yang mengalahkan Anda lalu memasang emotes tertawa yang berulang-ulang. Namun, disinilah sebenarnya cerdiknya Supercell. Pengembang game ini memang pandai memainkan emosi para player. Ketika pemain kesal karena dikalahkan, kecenderungannya, dia akan bermain lagi untuk “membalas” kekalahannya (walau lawannya sudah berganti).

Faktor “diejek” inilah yang justru membuat orang ingin bermain lagi dan lagi.

Dan lebih jauh lagi, orang yang merasa kesal karena diejek, bisa terjebak menjadi impulsif menggunakan uangnya untuk membeli “gem” yang membuatnya agar lebih cepat kuat sehingga tidak mudah kalah.

 

GELOMBANG PROTES

Menariknya, rupanya banyak sekali player yang merasa terganggu dengan adanya fasilitas emotes yang digunakan secara negatif ini. Banyak pemain yang merasa fasilitas tersebut kecil manfaatnya dan lebih banyak mendatangkan kekesalan. Itu sebabnya, muncul gelombang protes untuk Supercell menghilangkan fasilitas ini.

Namun, jika Anda pengamat dunia game, terutama mengikuti perkembangan Supercell. Anda akan mengetahui bahwa Supercell termasuk game developer yang bisa dibilang “angkuh”. Seingat saya, Supercell meski diprotes seperti apapun, tidak pernah berniat mengikuti kemauan playernya, dan tetap memaksakan keinginannya sendiri.

Wajar, karena Supercell merasa sudah sangat percaya diri, bahwa meskipun kita terganggu, kita tetap akan memainkan gamenya karena tidak ada developer lain yang bisa membuat game sebagus dia.

Alhasil, meski banyak sekali yang meminta fasilitas emotes dihilangkan. Supercell tidak mau melakukannya dan malah membuat pengumuman yang mengemukakan alasan kenapa Supercell tidak mau menghilangkan emotes ini, meski banyak mendatangkan efek negatif untuk player. Alasannya (menurut saya) sangat dibuat-buat dan tak masuk akal: untuk mengingatkan para player bahwa lawan mereka adalah manusia yang bisa berinteraksi, bukan robot atau program komputer. That’s it!

Menurut saya, ini hanyalah sebuah alasan “klise” untuk press release semata. Dibalik semua itu, saya menganalisa, karena justru efek “negatif” yang mengesalkan itulah yang sebenarnya mendatangkan banyak uang untuk Supercell. Ketika seorang player berduit diejek oleh lawannya setelah kalah, dia bisa dengan mudah terpancing untuk mengeluarkan uang untuk memperkuat levelnya agar tidak dikalahkan dan diejek lagi. Selain itu, efek diejek juga membuat orang-orang yang kematangan emosionalnya belum dewasa, ingin main lagi dan lagi sampai dia menang.

Pernahkah Anda bermain sebuah game tertentu dengan anak kecil? Kebanyakan, kalau anak kecil itu kalah, dia akan kesal dan menantang minta main lagi. Semakin kalah, dia semakin tidak ingin berhenti dan meminta rematch terus-menerus sampai dia menang. Sekali menangpun belum cukup, karena dia sudah kalah berkali-kali, dia harus menang berkali-kali supaya bisa puas.

Apa yang terjadi kalau pola ini dilakukan orang dewasa yang memegang uang?

Supercell memanfaatkan “Celah” ketidakdewasaan emosi ini (yang dimiliki sangat banyak player), untuk mengeruk keuntungan dan membuat gamenya menjadi “candu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *