Apakah Tuhan Sungguh Ada?

JADI, TUHAN ADA ATAU TIDAK?

Nah, bicara soal beriman. Banyak orang tidak sadar bahwa iman tumbuh karena adanya dasar untuk mempercayai.

Banyak orang Kristen berkata “kalau beriman itu jangan banyak berpikir lagi”. Sebenarnya ini adalah sebuah pernyataan yang sangat keliru. Beriman itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari proses berpikir. Selalu ada jawaban “kenapa” kita bisa percaya pada seseorang padahal belum pernah bertemu dan punya pengalaman dengan orang itu.

Sebagai contoh, istri saya mengenalkan saya dengan seseorang yang akan diajak bisnis. Saya belum pernah satu kalipun bertemu dan mengetahui orang itu, tapi saya “beriman” bahwa orang ini akan menjadi partner bisnis saya yang baik. Mengapa saya bisa punya iman itu? Karena istri saya yang mengenalkannya pada saya. Karena saya percaya pada istri saya, itu sebabnya, muncul iman untuk orang tak dikenal itu.

Selalu ada dasar untuk munculnya sebuah iman.

Mengapa kita bisa mempercayai bahwa Tuhan itu ada? atau Apa dasar yang memicu munculnya iman Anda?

Jika dasar Anda adalah “karena kata orang begitu”, maka ketika suatu hari ada orang yang mengguncang dasar Anda, maka iman Anda juga akan turut terguncang.

Misalnya, banyak orang menjadi Kristen dan mengaku percaya pada Yesus. Ketika saya mengajukan pertanyaan “kenapa kamu percaya kalau Yesus itu Tuhan?” mereka menjawab, “karena dari kecil diajarinnya begitu…”

Jawaban seperti ini adalah dasar iman yang rapuh, mengapa? Karena kalau saya melanjutkan pertanyaan saya, “dari kecil saya tidak diajarin begitu, berarti saya boleh ya tidak percaya Yesus? Berarti Yesus itu cuma tokoh fiksi yang di’brainwash’kan sejak kecil saja?” Apa kira-kira yang akan terjadi dengan orang itu? Kemungkina besar imannya akan guncang karena dasarnya untuk beriman tidak teguh.

Jika Anda mengaku diri Anda mempercayai bahwa Tuhan itu ada, apa dasar Anda untuk memiliki iman tersebut?

Jika Anda masih ragu-ragu, izinkanlah saya menuliskan 2 dari sejumlah pemikiran (karena akan terlalu panjang untuk ditulis semuanya) yang mungkin bisa menjadi dasar Anda untuk beriman bahwa Tuhan itu ada.

 

SIAPA YANG MEMULAI SEMUANYA?

Ketika saya melakukan pelayanan di Nan Jing, Cina, bulan April 2016. Saya sedang naik taxi bersama dengan rekan yang mengantarkan saya. Di dalam taxi itu secara tak sengaja, rekan saya terlibat pembicaraan dengan si supir dan sampailah kepada topik tentang tuhan.

Rekan saya bertanya, “kamu percaya pada Tuhan gak?” (dalam bahasa mandarin tentunya), dia menjawab “tidak, saya percaya dengan diri saya sendiri”. Dalam suasana yang santai dan tak terlalu serius, lalu rekan saya bertanya, “kalau tidak ada Tuhan, siapa yang menciptakan kamu?”, lalu dia memberikan jawaban yang membuat kami seisi taxi tertawa, “orang tua saya!”

Jawaban yang sungguh benar dari konteks yang berbeda. Rekan saya mengajukan pertanyaan yang esensial, supir taxi itu menjawab dalam konteks yang pragmatis. Meski tampak nyambung antara jawaban dan pertanyaan, tapi sebenarnya jawaban itu tidak benar-benar nyambung dengan pertanyaannya.

Sayang percakapan terhenti, andaikan bisa dilanjutkan, tentu masuk akal untuk bertanya, “lalu siapa yang menciptakan orang tuamu, dan orang tua mereka, dan orang tua mereka, hingga siapa yang menciptakan manusia pertama?”

Ada teori-teori mengenai evolusi, Big Bang dan bermacam teori lain yang berusaha menjawab pertanyaan ini, namun tetap saja, kalau semua material yang ada di bumi ini bersifat diciptakan dan non kekal, lalu entity apa yang pertama kali bisa memulai semuanya?

Bukankah yang mengawali semuanya haruslah entity yang kekal, karena material yang non kekal selalu akan membutuhkan materi sebelumnya untuk bisa tercipta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *