ahok-divonis-penjara

Saya Malu, Ahok!

avatar150Saya rasa hari ini, 9 Mei 2017, adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling memalukan bagi (mungkin dan seharusnya) sebagian besar orang yang mengaku dirinya “anak Tuhan” dan mengaku “cinta bangsa Indonesia”.

Saya secara pribadi, mengakui, sayalah salah satu orang yang merasa malu.

Keputusan “bersalah” yang diberikan kepada Ahok yang mengirimnya kepada penjara sungguh membuat saya malu. Selama 23 tahun menjadi orang Kristen dan selama 37 tahun saya hidup di bumi Indonesia, belum pernah saya merasakan rasa malu yang sekuat dan sebesar ini.

Saya tidak malu dengan pernyataan bersalah yang disematkan kepada Ahok. Saya justru malu kepada diri saya sendiri. Tiba-tiba, saya merasa malu dengan sebutan yang (seringnya) kita bangga-banggakan sebagai “anak Tuhan”.

Selama beberapa bulan, kita dipertontonkan dengan “suguhan” perjuangan habis-habisan yang dilakukan oleh Ahok demi memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Mungkin banyak orang yang membenci dia. Banyak orang yang bahkan menganggapnya bukan orang Indonesia lantaran mata sipit, logat oriental, dan agama “kafir”nya. Tapi, sebenarnya, andaikan kita benar-benar melihat secara obyektif dengan melepas kacamata “keagamawian” kita semua. Kita akan melihat bahwa orang bernama Ahok ini, begitu cintanya pada Indonesia, sampai begitu nekat menerobos semua sistem dan kebiasaan yang sebenarnya merugikan dan mempersulit dirinya untuk bisa berkontribusi bagi bangsa.

Beberapa orang, baik teman maupun saudara, pernah berkomentar, “Ahok itu ngapain sih? Udahlah gak usah maksa jadi gubernur, hidup tenang aja dan menikmati hidup. Ngapain dia susah-susah gitu, sementara banyak orang nggak akan ngerti apa yang berusaha dia perjuangkan”.

Tapi begitulah cinta.

Kalau kamu pernah merasakan cinta, kamu akan paham mengapa seseorang mau melakukan hal yang paling rugi bagi dirinya demi orang lain. Begitu besarnyakah cinta Ahok kepada Indonesia? Sampai-sampai keluarganya dipertaruhkan, masa depannya dipertaruhkan, kenyamanannya dilepaskan, dan bahkan nyawanya sendiri dipertaruhkan. Cinta model apa ini? Apakah Ahok terlalu bodoh untuk melihat bahwa dia hanyalah warga keturunan Tionghoa yang menjadi minoritas dengan agama yang juga minoritas?

Apakah Ahok terlalu naif dan tolol untuk mengetahui bahwa perjuangan yang sedang dia lakukan adalah seperti Leonidas (dalam film 300) yang melawan begitu banyak pasukan gabungan. Bahkan, meski mungkin Ahok juga sudah tahu pada akhirnya, hal-hal seperti sekarang ini bisa saja terjadi, toh dia tetap memilih melakukan perjuangannya demi cintanya buat bangsa ini.

Kalau meminjam analogi dari sepenggal lirik lagu Hillsong “What a beautiful name”, kurang lebih seperti ini, “ke’rese’an sebagian bangsa ini memang besar, tapi cinta Ahok kepada bangsa ini lebih besar”.

Sebagai orang-orang intelektual, saya yakin banyak sekali orang-orang logis yang berteriak kepada Ahok, “Apa yang kau lakukan!? Orang-orang yang kau perjuangkan itu tak bisa menghargai perjuanganmu dan takkan pernah mengerti perjuanganmu! Mereka tak layak untuk mendapatkan hidupmu! Tinggalkan saja mereka!” Seperti banyak status social media yang berkata, “Jakarta tidak layak untuk punya Ahok” dan mungkin kini, “Indonesia tak layak untuk memiliki Ahok”.

Teriakan yang sama yang Yunus serukan pada Tuhan, “Niniwe tidak layak mendapat belas kasihMu”.

Tapi toh, Ahok tetap mencintai bangsa ini.

Inilah yang memilukan dan memalukan hati saya. Selama ini, kita orang Kristen setiap minggu berteriak-teriak dalam “doa” untuk bangsa dan negara. Berkumpul di Senayan atas nama doa untuk bangsa. Melakukan semua “kegerakan cinta bangsa”.

Tapi, sesungguhnya kita “hanya menyaksikan” Ahok berjuang sendiri bersama segelintir pasukan 300’nya. Sementara mayoritas dari kita lebih banyak “mendukung dalam doa” yang sebenarnya hanyalah retorika perwujudan dari rasa takut, perwujudan dari keengganan kita meninggalkan zona nyaman, dan perwujudan dari ketidakcintaan kita terhadap bangsa ini. Betapa rohani dan kudusnya “tameng” persembunyian kita.

(walau tak selalu begitu) Momen-momen dan event-event yang dibuat atas nama “doa bagi bangsa” tak jarang hanya menjadi ajang show off massa gereja, berbagi panggung dan mic bicara, dan sekedar euforia atas nama cinta bangsa. Sampai kapan kita akan bermain-main “cinta-cinta’an” dengan model seperti ini? Dengan sekian besar kekuatan gereja “yang diurapi” dan diisi oleh puluhan ribu orang hebat yang menempati berbagai posisi strategis di bangsa ini, sungguhkah hanya segini yang bisa kita lakukan untuk negeri ini?

Pertanyaan yang sama berlaku kepada saya, sungguhkah hanya segini yang bisa dilakukan Josua Iwan Wahyudi untuk bangsa ini?

Memang, tentu saja, tidak semua orang bisa melakukan seperti yang Ahok lakukan. Tidak semua orang bisa berpolitik (dengan benar). Tidak semua orang seberani dan “segahar” Ahok. Tapi setidaknya, apa yang sudah kita lakukan selama ini, selain menyanyi dan mengucap harapan (yang seringnya dilakukan tanpa kesungguhan hati)?

Pertanyaan ini yang benar-benar mengguncang saya hari ini.

Kita bisa saja, berkata, “Oh, saya bekerja juga untuk membangun perekonomian bangsa kok”, “Oh, bisnis saya menghidupi ribuan karyawan lho…”, “Oh, saya membuat pelayanan-pelayanan sosial untuk bangsa Indonesia kok…”, “Oh, melalui profesi saya sebagai guru, saya sudah berperan membangun bangsa kok…”, dan berbagai komentar senada lainnya.

Okelah, itu semua bagus. Tapi, marilah hari ini kita benar-benar bertanya dalam hati nurani terdalam kita. Sungguhkah engkau mencintai bangsa ini? Apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Cukupkah segitu?

Kalau apa yang sudah dilakukan Ahok, sama sekali tidak menggerakkan hati dan setidaknya menampar hati sebagian kita (yang selama ini mungkin belum melakukan apa-apa), maka saya tidak tahu lagi, hal apa yang bisa menggerakkan hati ini.

Hanya sekedar memasang profil picture Pancasila, mengumpat-umpat di social media, membuat meme-meme sindiran, dan (sebenarnya mungkin) menulis artikel semacam ini, sesungguhnya tidaklah terlalu berdampak besar untuk kemajuan bangsa ini.

Saya pribadi, siang hari ini sungguh-sungguh berpikir. Kalau saya memang tak bisa turun di jalanan berdemo. Kalau saya tak bisa berpolitik. Apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang trainer, pembicara, dan penulis buku. Saya mencoba sungguh-sungguh memeras otak saya, harus ada sebuah tindakan nyata yang benar-benar bisa membawa perubahan kepada “core” bangsa ini. Mungkin saya akan memulainya dari jalur yang menjadi keahlian saya.

Bagaimana dengan dirimu?

Ayolah kawan, cukuplah berteriak kepada Tuhan. Sudah saatnya kita berbuat sesuatu.
Itu kalau kamu memang cinta Indonesia.

Malulah pada Ahok… (dan pada Tuhan).


by Josua Iwan Wahyudi
follow instagram JosuaIwanWahyudi

 


muak-pada-gereja

Muak Pada Gereja!

avatar150Zaman sedang berubah.

Teknologi jelas menjadi pendorong perubahan ini. Perubahan apa yang saya maksud? Lahirnya sebuah generasi muda yang muak kepada gereja.

Sadar atau tidak, ini sedang terjadi.

Tetapi, sebenarnya situasi semacam ini bukanlah pertama kali. Sejarah itu seolah seperti memiliki siklus. Ketika fase perjuangan menghasilkan fase kestabilan, maka biasanya muncul fase penyalahgunaan dan penyelewengan yang kemudian mengembalikan kita pada fase perjuangan lagi. Seolah-olah siklus ini terus berulang-ulang dalam sejarah.

Dalam dunia gereja juga munculnya protes Martin Luther terhadap “ulah” gereja pada masa itu juga merupakan bagian dari siklus sejarah yang saya ungkapkan di atas.

Dan sepertinya, akhir-akhir ini, mulai lahir generasi baru yang sudah muak dengan gereja. Muak kepada perpuluhan yang disalahgunakan banyak pendeta untuk memperkaya diri-sendiri. Muak kepada kotbah-kotbah mimbar yang dipakai sebagai “mantra sihir” untuk mengendalikan perilaku jemaat sesuai keinginan. Muak kepada sikap munafik para pelayan Tuhan yang kudus di mimbar tapi kudis dalam keseharian. Muak kepada glamornya kehidupan para hambaNya di saat permasalahan sosial sedang menganga dimana-mana. Dan, muak ketika Yesus “dicongkel” dari pemberitaan dan mulai digantikan dengan berbagai hal yang menyenangkan telinga pendengarnya.

Saya rasa munculnya “gerakan kemuakkan” ini harus dilihat dengan bijaksana baik oleh pihak gereja maupun pihak yang melakukan protes kemuakkan itu sendiri.

 

SEBUAH PANGGILAN UNTUK GEREJA

Saya rasa, gereja (dalam hal ini, para pemimpin eksekutif lembaga organisasi kegerejaan) perlu mulai peka dengan proses perubahan generasi yang terjadi. Kegelisahan generasi muda yang terjadi hari ini, sebenarnya menunjukkan bahwa teriakan hati mereka akan pernyataan Tuhan yang benar dan hidup itu kian nyata.

Hanya saja, cara mereka mengungkapkan kebutuhan ini adalah dalam bentuk tantangan (dan seringkali celaan maupun sindiran) kepada pihak (pemimpin) gereja. Mengapa? Lantaran ada terlalu banyak hal-hal yang tak masuk akal dan tidak dijelaskan dengan proper kepada generasi muda.

Penelitian dari George Barna mengatakan bahwa usia 15-29 tahun adalah masa usia dengan tingkat kehadiran, keterlibatan, dan interest paling rendah kepada gereja dan kekristenan. Karena mereka melihat gereja dan kekristenan tidak bisa dijelaskan dengan sesuai dalam frame pandangan mereka dan mereka melihat banyaknya kemunafikan yang terjadi.

Generasi muda hari ini sudah sangat berbeda. Mereka punya akses penuh kepada bahasa asli Alkitab beserta seluruh kupasan mendalam dari penulis-penulis ahli. Mereka juga punya akses penuh kepada pemikiran atheisme dan filosofi-filosofi modern. Mereka bisa memperbandingkan semuanya dengan gamblang.

Pendidikan dan teknologi yang canggih juga sudah melatih cara berpikir mereka untuk lebih analitik dan lebih komprehensif dalam memahami sesuatu. Sehingga cara mereka “beriman” dan mempercayai sesuatu menjadi tidak “sebuta” generasi-generasi sebelumnya.

Gereja tidak bisa lagi hanya sekedar berbicara “atas nama Tuhan” dan meminta mereka percaya dan menelan bulat-bulat tanpa penjelasan yang memadai sesuai dengan frame cara pandang mereka dan teladan yang sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan di mimbar.

Dan lagi, dengan kemampuan teknologi, kehidupan manusia kian transparan. Kemunafikan lebih mudah terungkap. Bahkan hal-hal mendetail bisa diburu hanya dengan bermodal social media. Gereja memang tak bisa lagi “memoles” dan menutupi hanya dari tampilan mingguan di atas mimbar.

Itu sebabnya, ketika generasi muda modern menemukan ada terlalu banyak ketidaksesuaian antara Alkitab, common sense, perilaku yang ditunjukkan, dan kenyataan yang terjadi, disitulah generasi muda menjadi muak.

Tetapi, teriakan kemuakkan, ini sebenarnya adalah bentuk keinginan mereka untuk melihat adanya kebenaran yang nyata dalam gereja dan kekristenan. Harusnya, teriakan kemuakkan ini, menjadi semacam cermin bagi kita, para pemimpin gereja, untuk bertanya, apakah kita masih di jalur yang benar-benar Tuhan inginkan, ataukah kita sudah mulai membuat perjalanan kita sendiri?

Teriakan ini juga sekaligus sebenarnya menjadi sebuah panggilan besar di zaman-zaman ini, bahwa ada sebuah kebutuhan mendalam akan pencarian sosok Tuhan dalam generasi muda sekarang ini. Jika gereja tidak peka dengan panggilan ini, dan malah lebih-lebih mengabaikan dan malah menyerang panggilan ini, maka akan ada masanya gereja benar-benar ditinggalkan sepenuhnya.

 

SEBUAH PANGGILAN UNTUK GENERASI MUDA

Tetapi bagi siapapun yang sedang muak dengan gereja, berita buruknya (setidaknya inilah keyakinan saya), bahwa Tuhan tidak akan pernah berhenti untuk menggunakan gerejaNya sebagai alatNya. Jadi, kalau kemuakkan ini membuat kita meninggalkan Tuhan dan meninggalkan iman kita, maka jelas ada sesuatu yang salah disini.

Gerakan pembaharuan gereja memang lahir dari tokoh-tokoh yang muak dengan kemunafikan dan penyalahgunaan otoritas gerejawi, tetapi mereka menerima “rasa muak” itu sebagai sebuah panggilan kudus untuk menolong gereja kembali kepada panggilanNya yang sejati, bukan untuk menghancurkan, menenggelamkan, dan menyerang gereja.

Itu sebabnya, saya ingin menyampaikan seruan hati saya kepada setiap generasi muda yang mungkin sedang membaca artikel ini. Kalau kamu menemui sesuatu yang memuakkan di gerejamu, itu bukanlah alasan untuk kamu boleh melukai dan menghancurkan siapapun.

Saya khawatir, rasa muak kita, bisa dengan cepat berubah menjadi kebencian mendalam, sehingga kita bisa tertawa dengan sinis melihat gereja yang menurut kita ngawur. Lalu, kita bisa dengan santai memunculkan kalimat-kalimat sarkasme kepada orang-orang yang menurut kita tampak munafik (tanpa kita belum pernah kenal betul-betul secara mendalam seperti apa hidupnya).

Saya khawatir, rasa muak kita, bisa dengan cepat berubah menjadi rasa pahit. Kita merasa terluka ketika melihat gereja yang kita anggap ngawur justru makin banyak jemaatnya. Kita bahkan mengutuki gereja-gereja yang “tampak kaya” agar mereka semua tersandung kasus pidana penyalahgunaan uang. Tanpa sadar kita menjadi pihak yang menuduh dan dengan bahagia mencari-cari kesalahan yang bisa diumbar di media demi membenarkan pemikiran kita.

Saya khawatir, rasa muak kita, bisa dengan cepat berubah menjadi kemarahan yang menutup mata hati kita pada kenyataan bahwa Tuhan masih bekerja melawat umatNya meski lewat ketidaksempurnaan gereja. Rasa marah kita terlalu besar untuk bisa melihat bahwa Tuhan masih mengasihi manusia lewat ketidaksempurnaan gerejaNya dan pada gilirannya, kemarahan kita seperti kemarahan Yunus yang menggugat kenapa Tuhan masih sayang kepada orang-orang yang sudah tidak layak disayangi.

Sadarkah kamu, bahwa kalau kamu diijinkan untuk melihat (atau mengalami sendiri dan menjadi korban) kemunafikan atau penyelewengan gereja, bisa jadi itu sebuah panggilan Tuhan untuk kamu mulai bertindak. Bayangkan kalau Martin Luther waktu itu menjadi pahit hati dan memilih meninggalkan gereja sepenuhnya dan bahkan meninggalkan imannya?

Dalam setiap masa krisis, pahlawan muncul. Dalam masa-masa sukar, selalu ada generasi yang bangkit. Jika menurutmu, gereja sedang berada di masa kekelaman akibat penyelewengan, jangan-jangan memang itu sebuah panggilan untuk melakukan apa yang benar.

Jadi, marilah kita bertanya dalam hati kita. Apakah hanya gereja saja yang menurutmu sedang keluar dari jalurNya. Atau jangan-jangan kita juga?

Kalau kita sama-sama keluar dari jalurNya, bukankah kita tidak berhak untuk berkata-kata?


by Josua Iwan Wahyudi
follow instagram JosuaIwanWahyudi


gua-bukan-cina

Gua (Bukan) Cina! – Secuil Harapan Kepada Anies Baswedan

avatar150Tulisan ini didorong oleh status Facebook teman saya Amanda Tandiary, yang menceritakan ketika ia berangkat kerja menuju kantornya dengan mengendarai motor lucu kebanggaannya itu. Di tengah jalan, seorang supir angkot memacu kendaraannya mendahului Amanda sambil berteriak “Woy Cina Minggir!”. Ungkapan kekesalan itu muncul lantaran angkot itu terhalang oleh motor teman saya ketika dia ingin ber”cepat-cepat.

Kejadian seperti ini mungkin sudah menjadi “biasa” bagi sebagian besar kaum Tionghoa di Indonesia. Padahal, menurut saya ini masihlah kejadian yang luar biasa bagi sebuah negeri yang sudah merdeka 70 tahun dan yang membuat ironis, kemerdekaan itu diraih, diusahakan, dan diperjuangan dengan keringat, darah, dan (mungkin puluhan hingga ratusan ribu nyawa yang terkorban) yang semuanya terdiri dari beragam suku dan etnis.

Kalau ditanya, Indonesia ini siapa yang mendirikannya? Kita semua yang tahu sejarah akan sangat kesulitan menjawabnya. Karena, seluruh etnis dan suku yang mendiami negeri ini turut menyumbang andilnya. Termasuk orang-orang yang tadi dibilang “cina” itu.

Saya sendiri. Sejak TK sampai SMA sudah berulangkali menerima perlakuan dan perkataan sinis semacam itu. Saya masih ingat betul ketika saya bermain di halaman rumah saya (waktu itu saya masih berusia 5 tahunan) dan kemudian lewatlah beberapa anak-anak sebaya saya yang kebetulan adalah suku jawa (saya tidak mau menyebutnya sebagai pribumi karena saya merasa saya juga adalah pribumi).

Segerombolan anak-anak itu berteriak dengan wajah mengintimidasi dan bahasa tubuh yang seolah ingin mem’bully saya “Hei Cina! Sini kamu cina!” Tentu saja reaksi normal saya adalah berlari cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan sayup-sayup saya bisa mendengar tawa anak-anak itu.

Sejak kejadian itu, pikiran polos anak-anak saya berkecamuk dalam kepala, “Emang kenapa ya mereka begitu? Emang kenapa kalau saya Cina?”

Ketika saya bertumbuh makin dewasa, saya semakin “terbiasa” (maksudnya bukan menjadi tidak tersakiti karena biasa, melainkan sudah berulang kali menerima perkataan semacam itu, sehingga kejadian luar biasa itu menjadi kejadian yang sudah biasa terjadi.)

Saya masih ingat ketika saya sekolah di SMP negeri.  Dalam satu kelas, hanya ada 2 orang yang kebetulan bersuku Tionghoa. Saya dan satu teman pria saya (yang memang amat jauh lebih sipit dari saya *lol*). Saat itu, sedang ada Porseni (semacam kompetisi olahraga antar kelas). Lalu, wali kelas saya, dengan sepihak dan tanpa “demokrasi” menunjuk saya dan teman sipit saya itu untuk menyumbang konsumsi bagi seluruh anggota kelas, yaitu berupa air mineral dan snack.

Kejadian itu sungguh membuat saya bertanya-tanya. Kenapa harus saya dan teman saya itu? Kenapa tidak ada pembicaraan dan diskusi? Padahal, kalau dilihat, dalam satu kelas yang ekonominya bagus dan layak menjadi donatur ada beberapa orang. Apakah karena saya “cina” lalu diasosiasikan bahwa kami pasti kaya?

Rupanya perilaku para guru yang notabene harusnya menjadi pasukan garda terdepan dalam mengajarkan mengenai kebhinekaan dan persatuan, justru malah menjadi role model pendidikan bahwa rasisme dan pembedaan memang adalah bagian tak terpisahkan dari kultur bangsa ini. Bayangkan, jika ratusan sekolah dan ribuan guru melakukan “hal-hal kecil” ini setiap hari di kelas-kelas dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Guru yang mendapat kehormatan untuk “digugu dan ditiru” itu sudah meneladankan sesuatu yang justru mengkhianati kemerdekaan itu sendiri dan memundurkan semangat perjuangan seluruh pendiri bangsa kita.

Belum lagi kisah istri saya ketika dia SMA dan lagi-lagi kebetulan bersekolah di sekolah negeri yang satu kelas hanya ada segelintir siswa Tionghoa.

Guru PPKNnya pernah berkata kepadanya (kurang lebih), “kamu itu Cina, walaupun kamu pinter dan belajar, nilaimu gak akan mungkin tertinggi di kelas ini!” Seolah-olah nasibnya sudah ditentukan oleh sang guru bahwa apapun yang dilakukan, tidak akan ada kesempatan bagi “orang cina”.

 

DARI MANA SEMUANYA INI?

Kini, setelah saya benar-benar dewasa. Setelah saya merasa sudah lebih sanggup memberikan pemaknaan yang lebih luas. Saya baru kemudian semakin tergugah. Bagaimana caranya anak-anak usia 5 tahunan (yang mengganggu saya di kisah awal saya), tahu soal istilah “cina” dan punya bahasa tubuh yang begitu intimidatif, padahal baru pertama kali mereka berjumpa dengan saya?

Bagaimana teman SMP saya mengancam saya sambil menarik kerah baju saya “Lu Cina, kalo gak mau kasih contekan awas lu!”?

Dan sejuta kisah-kisah lainnya yang lebih memilukan?

Saya yakin sekali, waktu Indonesia didirikan, jelas bukan semangat dan jiwa semacam ini yang dibawa dan dijadikan landasan negara ini.

Saya mulai menyadari bahwa “kebencian” ini menyusup justru melalui PENDIDIKAN. Bagaimana orang tua mendidik anaknya dan bagaimana para guru bersikap. Sebagai orang yang belajar soal manusia, psikologi, dan perkembangan emosi manusia bertahun-tahun, saya menyadari, tidak ada yang lebih kuat pengaruhnya ketimbang orang tua dan guru (orang yang dianggap pendidik).

Pola emosi dibentuk sejak kecil. Mustahil seseorang punya kebencian kepada seorang individu yang baru saja ia jumpai, kecuali, pola emosi benci itu memang sudah dibentuk sejak ia bahkan belum tahu apa arti kebencian itu sendiri.

Ketika anak-anak ini melihat bahwa orang tua dan guru-guru mereka “legal” dalam melakukan pembedaan dan penekanan kepada kaum minoritas tertentu, maka mereka dengan cepat segera belajar bahwa ketika mereka berada di pihak mayoritas mereka berhak untuk melakukan hal yang sama.

Tidak heran, meski Indonesia sudah berganti generasi beberapa kali, budaya dan kebiasaan rasis dan pembedaan ini masih saja terjadi disana-sini.

Ini pula yang kemudian membuat saya mengerti mengapa banyak sekali rekan-rekan saya yang sudah pernah tinggal di luar negeri (terutama negeri yang memang penuh keberagaman dan tingkat rasisnya minim), ketika kembali ke Indonesia, mereka merasa sangat “muak” dengan keadaan ini.

Salah satu peserta workshop menulis saya, pernah menceritakan keinginannya untuk menulis buku soal keberagaman. Hal ini didorong oleh pengalamannya ketika berada di Cina dan Australia dimana begitu beragam suku etnis yang ada disana. Bahkan tim nasional berbagai cabang olahraga mereka, diisi oleh beragam etnis, mulai dari Cina, Vietnam, Korea, India, dan tentu saja etnis “Barat”. Tapi mereka semua menyebut diri mereka Australia.

Namun, di kelas menulis ini, peserta saya mengungkapkan keengganannya untuk menjadikan ini buku karena dia khawatir masyarakat Indonesia belum bisa menerima hal-hal seperti ini. Tentu saya saya dan hampir seluruh peserta kelas kami mendorong keras dan memberinya keberanian untuk tetap mewujudkan buku ini. (if you read this Cecilia Liando, you should finish your writing!)

Di luar negeri bukannya tidak ada rasis. Seperti rekan saya Andrew Ardianto berkata, selalu ada orang-orang rasis dimanapun tempatnya.

Hanya saja, saya tidak rela jika itu ada di Indonesia yang saya cintai, tidak rela pula jika itu terjadi di Jakarta yang adalah ibu kota negera yang terkenal dengan masyarakatnya yang heterogen, dan saya lebih tidak rela lagi jika itu terjadi di rumah-rumah yang dilakukan oleh para orang tua saat mengajari anaknya. Dan yang lebih gila lagi, yang membuat saya benar-benar tak bisa menerimanya, jika itu terjadi di sekolah-sekolah dan dilakukan oleh para guru! Para pendidik mulia.

 

HUBUNGANNYA SAMA ANIES BASWEDAN?

Disinilah harapan saya taruh kepada sosok Anies Baswedan. Meski saya tidak memilihnya di Pilkada lalu. Tapi, karena dia sudah nyaris pasti akan menjadi gubernur berikutnya. Bukan tanpa alasan saya meletakkan pengharapan saya ini kepadanya.

Pertama, karena dia akan menjadi gubernur ibu kota negara yang menjadi barometer dan prototype seluruh kota lain di negeri ini. Kedua, karena seperti yang selalu didengungkan Pandji Pragiwaksono dan seperti janjinya sendiri bahwa dia akan “merangkul” semua pihak untuk berjalan bersama dan menjadikan keberagaman dalam persatuan sebagai warna Jakarta. Ketiga, karena selama bertahun-tahun dia dikenal sebagai salah satu sosok yang “pendidikan banget”.

Saya berharap selama 5 tahun ke depan, di Jakarta, tidak ada lagi supir metromini yang akan meneriaki teman chubby saya itu dengan kata-kata rasis. Saya berharap, tidak ada lagi guru-guru yang mengajarkan pembedaan dan rasis dalam sikap-sikap mereka di sekolah. Tidak ada lagi sebutan-sebutan sinis yang disematkan berdasarkan kesukuan, warna kulit, dan perbedaan. Saya sungguh berharap, 5 tahun lagi ketika Anies Baswedan menyelesaikan periodenya memimpin, kita akan menemukan masyarakat Jakarta yang dengan bangga menyebut dirinya orang Indonesia, dan dengan bangga pula menyebut saudaranya yang berbeda suku dan warna kulit sebagai sesamanya orang Indonesia juga.

Saya berharap, tidak ada lagi ketakutan bagi yang minoritas dan tidak ada lagi arogansi intimidatif atau sikap semena-mena bagi mereka yang kebetulan menjadi mayoritas.

Saya tahu mungkin bagi sebagian orang, harapan saya ini konyol dan mungkin adalah harapan yang nyaris sulit menjadi kenyataan. Tapi, harapan saya ini bukan tanpa dasar dan bukan hanya berdasar “iman buta”.

Harapan saya masih ada karena membaca dan mengetahui bagaimana Indonesia ini dulunya dibangun. Berkali-kali dalam kesempatan ketika saya diminta menjadi pembicara seminar atau training di perusahaan-perusahaan, saya selalu berkata dengan bangga, “Indonesia tidak dibangun oleh koruptor!”

Perkataan saya ini muncul karena saya pernah membaca kisah ketika Bung Hatta rela konflik dengan istrinya dan perang dingin beberapa hari lantaran ia merahasiakan keputusan negaran untuk memotong nilai mata uang negara dari istrinya. Padahal Bung Hatta tahu istrinya sudah menabung lama untuk membeli mesin jahit, sehingga ketika terjadi pemotongan nilai mata uang, pupuslah harapan istri Bung Hatta untuk membeli mesin jahit.

Istri Bung Hatta marah karena harusnya suaminya sebagai wakil presiden tahu jauh-jauh hari bahwa ini akan terjadi, setidaknya jika Bung Hatta membocorkan informasi ini kepadanya, dia bisa meminjam uang dulu untuk menutupi kekurangan dan buru-buru membeli mesin jahit. Tapi Bung Hatta sama sekali tidak berniat melakukan itu karena baginya itu rahasia negara.

Indonesia itu aslinya keren banget. Para pahlawan dan pendiri bangsa kita itu, serius, keren banget. Dan saya juga yakin sekali bangsa ini didirikan dengan semangat persatuan yang membanggakan dan memukau. Makanya ada yang namanya Sumpah Pemuda dan makanya slogan “Bhineka Tunggal Ika” bertengger di cengkeraman Sang Burung Garuda, lambang kebanggaan kita.

Bangsa kita tidak dimulai dengan rasisme dan pembedaan. DNA kita BUKAN ITU! Itulah yang membuat saya masih punya harapan.

Apalagi ketika Pandji dalam tweetnya berkata bahwa ia tidak yakin Ahok sanggup menunaikan tugas mendidik warga Jakarta untuk menghargai keberagaman. Pandji yakin Anieslah orang yang paling mampu dan bisa. Maka, sekarang harapan saya (dan mungkin juga harapan banyak orang) beralih kepada sosok yang mungkin bisa saja lebih mampu.

 

APAKAH SAYA BENAR-BENAR CINA?

Sebagai penutup. Bagi Anda yang kebetulan bukan orang Tionghoa atau yang merasa diri Anda adalah “pribumi”. Izinkan saya mengungkapkan apa perasaan dan pendapat saya yang mungkin bisa jadi mewakili banyak orang Tionghoa lainnya di Indonesia.

Meski mungkin ada yang membaca ini sambil tertawa leceh dan berkata “gua gak peduli apa perasaan dan pikiran lu!”

Tapi, since ini adalah blog saya, ya saya dengan cuek hati akan tetap curcol.

Sejak saya kecil sampai detik ini. Saya tidak pernah merasa diri saya orang Cina. Itu sebabnya sejak kecil saya selalu bingung kalau ada orang memanggil saya “Hai Cina!”. Seriusan, yang saya lakukan ketika pulang adalah memandang diri saya di depan cermin sambil kebingungan, “kenapa saya dipanggil cina?”

Saya lebih fasih berbahasa Jawa dan Indonesia daripada berbahasa “cina”. Logat bicara saya Jawa banget, bukan cina banget. Memang saya suka Chinese food, tapi saya juga suka rawon, pecel, soto dan banyak Indonesian food sebesar saya menyukai Japanese food, western dan Chinese food.

Dan bahkan, ini curahan hati jujur saya. Ketika saya berkesempatan berkunjung ke Cina dan sempat beberapa hari disana. Jujur saja, saya tak betah. Dan bahkan saya berkata kepada istri saya, “Saya tidak terima kalau saya dibilang orang Cina!” Lantaran saya merasa cara mereka hidup dan berperilaku “bukan gua banget”

Bahkan, mama saya pernah berkata, “kamu dalam hidup harus pernah satu kali pergi ke Cina, karena disanalah leluhurmu. Kamu waktu kesana akan terasa berbeda, seolah-olah itu kampung halamanmu”

Saya tidak tahu dengan orang lain. Tapi ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Shenzhen, saya memang langsung berasa berbeda. Bedanya, saya merasa “kayaknya ini bukan tempat saya deh…”

Detik ini, saya jelas tidak mau disebut “orang cina”. Kepergian saya ke Shenzhen semakin meneguhkan bahwa saya bukan orang cina.

Jadi, jangan paksa saya untuk mengubah identitas saya sebagai orang Indonesia. Saya lahir di negeri ini. Berbicara dengan bahasa negeri ini. Makan nasi hasil tanah negeri ini. Saya orang pribumi. Saya orang Indonesia.

Saya bukan Cina…


by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi