Stop (Ritual) Perpuluhan!

avatar150Perpuluhan sudah menjadi pro dan kontra sejak saya menerima Yesus sebagai Tuhan pada tahun 1994. Namun, sekarang ini, topik perpuluhan kian ramai diperdebatkan. Dan menariknya, menurut riset Barna Group (yang sayangnya, dilakukan di Amerika), tren orang dalam memberikan perpuluhan kian menurun. Terutama, di kalangan generasi muda. Continue reading


Saya Malu, Ahok!

avatar150Saya rasa hari ini, 9 Mei 2017, adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling memalukan bagi (mungkin dan seharusnya) sebagian besar orang yang mengaku dirinya “anak Tuhan” dan mengaku “cinta bangsa Indonesia”.

Saya secara pribadi, mengakui, sayalah salah satu orang yang merasa malu.

Keputusan “bersalah” yang diberikan kepada Ahok yang mengirimnya kepada penjara sungguh membuat saya malu. Selama 23 tahun menjadi orang Kristen dan selama 37 tahun saya hidup di bumi Indonesia, belum pernah saya merasakan rasa malu yang sekuat dan sebesar ini.

Saya tidak malu dengan pernyataan bersalah yang disematkan kepada Ahok. Saya justru malu kepada diri saya sendiri. Tiba-tiba, saya merasa malu dengan sebutan yang (seringnya) kita bangga-banggakan sebagai “anak Tuhan”.

Selama beberapa bulan, kita dipertontonkan dengan “suguhan” perjuangan habis-habisan yang dilakukan oleh Ahok demi memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Mungkin banyak orang yang membenci dia. Banyak orang yang bahkan menganggapnya bukan orang Indonesia lantaran mata sipit, logat oriental, dan agama “kafir”nya. Tapi, sebenarnya, andaikan kita benar-benar melihat secara obyektif dengan melepas kacamata “keagamawian” kita semua. Kita akan melihat bahwa orang bernama Ahok ini, begitu cintanya pada Indonesia, sampai begitu nekat menerobos semua sistem dan kebiasaan yang sebenarnya merugikan dan mempersulit dirinya untuk bisa berkontribusi bagi bangsa.

Beberapa orang, baik teman maupun saudara, pernah berkomentar, “Ahok itu ngapain sih? Udahlah gak usah maksa jadi gubernur, hidup tenang aja dan menikmati hidup. Ngapain dia susah-susah gitu, sementara banyak orang nggak akan ngerti apa yang berusaha dia perjuangkan”.

Tapi begitulah cinta.

Kalau kamu pernah merasakan cinta, kamu akan paham mengapa seseorang mau melakukan hal yang paling rugi bagi dirinya demi orang lain. Begitu besarnyakah cinta Ahok kepada Indonesia? Sampai-sampai keluarganya dipertaruhkan, masa depannya dipertaruhkan, kenyamanannya dilepaskan, dan bahkan nyawanya sendiri dipertaruhkan. Cinta model apa ini? Apakah Ahok terlalu bodoh untuk melihat bahwa dia hanyalah warga keturunan Tionghoa yang menjadi minoritas dengan agama yang juga minoritas?

Apakah Ahok terlalu naif dan tolol untuk mengetahui bahwa perjuangan yang sedang dia lakukan adalah seperti Leonidas (dalam film 300) yang melawan begitu banyak pasukan gabungan. Bahkan, meski mungkin Ahok juga sudah tahu pada akhirnya, hal-hal seperti sekarang ini bisa saja terjadi, toh dia tetap memilih melakukan perjuangannya demi cintanya buat bangsa ini.

Kalau meminjam analogi dari sepenggal lirik lagu Hillsong “What a beautiful name”, kurang lebih seperti ini, “ke’rese’an sebagian bangsa ini memang besar, tapi cinta Ahok kepada bangsa ini lebih besar”.

Sebagai orang-orang intelektual, saya yakin banyak sekali orang-orang logis yang berteriak kepada Ahok, “Apa yang kau lakukan!? Orang-orang yang kau perjuangkan itu tak bisa menghargai perjuanganmu dan takkan pernah mengerti perjuanganmu! Mereka tak layak untuk mendapatkan hidupmu! Tinggalkan saja mereka!” Seperti banyak status social media yang berkata, “Jakarta tidak layak untuk punya Ahok” dan mungkin kini, “Indonesia tak layak untuk memiliki Ahok”.

Teriakan yang sama yang Yunus serukan pada Tuhan, “Niniwe tidak layak mendapat belas kasihMu”.

Tapi toh, Ahok tetap mencintai bangsa ini.

Inilah yang memilukan dan memalukan hati saya. Selama ini, kita orang Kristen setiap minggu berteriak-teriak dalam “doa” untuk bangsa dan negara. Berkumpul di Senayan atas nama doa untuk bangsa. Melakukan semua “kegerakan cinta bangsa”.

Tapi, sesungguhnya kita “hanya menyaksikan” Ahok berjuang sendiri bersama segelintir pasukan 300’nya. Sementara mayoritas dari kita lebih banyak “mendukung dalam doa” yang sebenarnya hanyalah retorika perwujudan dari rasa takut, perwujudan dari keengganan kita meninggalkan zona nyaman, dan perwujudan dari ketidakcintaan kita terhadap bangsa ini. Betapa rohani dan kudusnya “tameng” persembunyian kita.

(walau tak selalu begitu) Momen-momen dan event-event yang dibuat atas nama “doa bagi bangsa” tak jarang hanya menjadi ajang show off massa gereja, berbagi panggung dan mic bicara, dan sekedar euforia atas nama cinta bangsa. Sampai kapan kita akan bermain-main “cinta-cinta’an” dengan model seperti ini? Dengan sekian besar kekuatan gereja “yang diurapi” dan diisi oleh puluhan ribu orang hebat yang menempati berbagai posisi strategis di bangsa ini, sungguhkah hanya segini yang bisa kita lakukan untuk negeri ini?

Pertanyaan yang sama berlaku kepada saya, sungguhkah hanya segini yang bisa dilakukan Josua Iwan Wahyudi untuk bangsa ini?

Memang, tentu saja, tidak semua orang bisa melakukan seperti yang Ahok lakukan. Tidak semua orang bisa berpolitik (dengan benar). Tidak semua orang seberani dan “segahar” Ahok. Tapi setidaknya, apa yang sudah kita lakukan selama ini, selain menyanyi dan mengucap harapan (yang seringnya dilakukan tanpa kesungguhan hati)?

Pertanyaan ini yang benar-benar mengguncang saya hari ini.

Kita bisa saja, berkata, “Oh, saya bekerja juga untuk membangun perekonomian bangsa kok”, “Oh, bisnis saya menghidupi ribuan karyawan lho…”, “Oh, saya membuat pelayanan-pelayanan sosial untuk bangsa Indonesia kok…”, “Oh, melalui profesi saya sebagai guru, saya sudah berperan membangun bangsa kok…”, dan berbagai komentar senada lainnya.

Okelah, itu semua bagus. Tapi, marilah hari ini kita benar-benar bertanya dalam hati nurani terdalam kita. Sungguhkah engkau mencintai bangsa ini? Apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Cukupkah segitu?

Kalau apa yang sudah dilakukan Ahok, sama sekali tidak menggerakkan hati dan setidaknya menampar hati sebagian kita (yang selama ini mungkin belum melakukan apa-apa), maka saya tidak tahu lagi, hal apa yang bisa menggerakkan hati ini.

Hanya sekedar memasang profil picture Pancasila, mengumpat-umpat di social media, membuat meme-meme sindiran, dan (sebenarnya mungkin) menulis artikel semacam ini, sesungguhnya tidaklah terlalu berdampak besar untuk kemajuan bangsa ini.

Saya pribadi, siang hari ini sungguh-sungguh berpikir. Kalau saya memang tak bisa turun di jalanan berdemo. Kalau saya tak bisa berpolitik. Apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang trainer, pembicara, dan penulis buku. Saya mencoba sungguh-sungguh memeras otak saya, harus ada sebuah tindakan nyata yang benar-benar bisa membawa perubahan kepada “core” bangsa ini. Mungkin saya akan memulainya dari jalur yang menjadi keahlian saya.

Bagaimana dengan dirimu?

Ayolah kawan, cukuplah berteriak kepada Tuhan. Sudah saatnya kita berbuat sesuatu.
Itu kalau kamu memang cinta Indonesia.

Malulah pada Ahok… (dan pada Tuhan).


by Josua Iwan Wahyudi
follow instagram JosuaIwanWahyudi

 


Muak Pada Gereja!

avatar150Zaman sedang berubah.

Teknologi jelas menjadi pendorong perubahan ini. Perubahan apa yang saya maksud? Lahirnya sebuah generasi muda yang muak kepada gereja.

Sadar atau tidak, ini sedang terjadi.

Tetapi, sebenarnya situasi semacam ini bukanlah pertama kali. Sejarah itu seolah seperti memiliki siklus. Ketika fase perjuangan menghasilkan fase kestabilan, maka biasanya muncul fase penyalahgunaan dan penyelewengan yang kemudian mengembalikan kita pada fase perjuangan lagi. Seolah-olah siklus ini terus berulang-ulang dalam sejarah.

Dalam dunia gereja juga munculnya protes Martin Luther terhadap “ulah” gereja pada masa itu juga merupakan bagian dari siklus sejarah yang saya ungkapkan di atas.

Dan sepertinya, akhir-akhir ini, mulai lahir generasi baru yang sudah muak dengan gereja. Muak kepada perpuluhan yang disalahgunakan banyak pendeta untuk memperkaya diri-sendiri. Muak kepada kotbah-kotbah mimbar yang dipakai sebagai “mantra sihir” untuk mengendalikan perilaku jemaat sesuai keinginan. Muak kepada sikap munafik para pelayan Tuhan yang kudus di mimbar tapi kudis dalam keseharian. Muak kepada glamornya kehidupan para hambaNya di saat permasalahan sosial sedang menganga dimana-mana. Dan, muak ketika Yesus “dicongkel” dari pemberitaan dan mulai digantikan dengan berbagai hal yang menyenangkan telinga pendengarnya.

Saya rasa munculnya “gerakan kemuakkan” ini harus dilihat dengan bijaksana baik oleh pihak gereja maupun pihak yang melakukan protes kemuakkan itu sendiri.

 

SEBUAH PANGGILAN UNTUK GEREJA

Saya rasa, gereja (dalam hal ini, para pemimpin eksekutif lembaga organisasi kegerejaan) perlu mulai peka dengan proses perubahan generasi yang terjadi. Kegelisahan generasi muda yang terjadi hari ini, sebenarnya menunjukkan bahwa teriakan hati mereka akan pernyataan Tuhan yang benar dan hidup itu kian nyata.

Hanya saja, cara mereka mengungkapkan kebutuhan ini adalah dalam bentuk tantangan (dan seringkali celaan maupun sindiran) kepada pihak (pemimpin) gereja. Mengapa? Lantaran ada terlalu banyak hal-hal yang tak masuk akal dan tidak dijelaskan dengan proper kepada generasi muda.

Penelitian dari George Barna mengatakan bahwa usia 15-29 tahun adalah masa usia dengan tingkat kehadiran, keterlibatan, dan interest paling rendah kepada gereja dan kekristenan. Karena mereka melihat gereja dan kekristenan tidak bisa dijelaskan dengan sesuai dalam frame pandangan mereka dan mereka melihat banyaknya kemunafikan yang terjadi.

Generasi muda hari ini sudah sangat berbeda. Mereka punya akses penuh kepada bahasa asli Alkitab beserta seluruh kupasan mendalam dari penulis-penulis ahli. Mereka juga punya akses penuh kepada pemikiran atheisme dan filosofi-filosofi modern. Mereka bisa memperbandingkan semuanya dengan gamblang.

Pendidikan dan teknologi yang canggih juga sudah melatih cara berpikir mereka untuk lebih analitik dan lebih komprehensif dalam memahami sesuatu. Sehingga cara mereka “beriman” dan mempercayai sesuatu menjadi tidak “sebuta” generasi-generasi sebelumnya.

Gereja tidak bisa lagi hanya sekedar berbicara “atas nama Tuhan” dan meminta mereka percaya dan menelan bulat-bulat tanpa penjelasan yang memadai sesuai dengan frame cara pandang mereka dan teladan yang sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan di mimbar.

Dan lagi, dengan kemampuan teknologi, kehidupan manusia kian transparan. Kemunafikan lebih mudah terungkap. Bahkan hal-hal mendetail bisa diburu hanya dengan bermodal social media. Gereja memang tak bisa lagi “memoles” dan menutupi hanya dari tampilan mingguan di atas mimbar.

Itu sebabnya, ketika generasi muda modern menemukan ada terlalu banyak ketidaksesuaian antara Alkitab, common sense, perilaku yang ditunjukkan, dan kenyataan yang terjadi, disitulah generasi muda menjadi muak.

Tetapi, teriakan kemuakkan, ini sebenarnya adalah bentuk keinginan mereka untuk melihat adanya kebenaran yang nyata dalam gereja dan kekristenan. Harusnya, teriakan kemuakkan ini, menjadi semacam cermin bagi kita, para pemimpin gereja, untuk bertanya, apakah kita masih di jalur yang benar-benar Tuhan inginkan, ataukah kita sudah mulai membuat perjalanan kita sendiri?

Teriakan ini juga sekaligus sebenarnya menjadi sebuah panggilan besar di zaman-zaman ini, bahwa ada sebuah kebutuhan mendalam akan pencarian sosok Tuhan dalam generasi muda sekarang ini. Jika gereja tidak peka dengan panggilan ini, dan malah lebih-lebih mengabaikan dan malah menyerang panggilan ini, maka akan ada masanya gereja benar-benar ditinggalkan sepenuhnya.

 

SEBUAH PANGGILAN UNTUK GENERASI MUDA

Tetapi bagi siapapun yang sedang muak dengan gereja, berita buruknya (setidaknya inilah keyakinan saya), bahwa Tuhan tidak akan pernah berhenti untuk menggunakan gerejaNya sebagai alatNya. Jadi, kalau kemuakkan ini membuat kita meninggalkan Tuhan dan meninggalkan iman kita, maka jelas ada sesuatu yang salah disini.

Gerakan pembaharuan gereja memang lahir dari tokoh-tokoh yang muak dengan kemunafikan dan penyalahgunaan otoritas gerejawi, tetapi mereka menerima “rasa muak” itu sebagai sebuah panggilan kudus untuk menolong gereja kembali kepada panggilanNya yang sejati, bukan untuk menghancurkan, menenggelamkan, dan menyerang gereja.

Itu sebabnya, saya ingin menyampaikan seruan hati saya kepada setiap generasi muda yang mungkin sedang membaca artikel ini. Kalau kamu menemui sesuatu yang memuakkan di gerejamu, itu bukanlah alasan untuk kamu boleh melukai dan menghancurkan siapapun.

Saya khawatir, rasa muak kita, bisa dengan cepat berubah menjadi kebencian mendalam, sehingga kita bisa tertawa dengan sinis melihat gereja yang menurut kita ngawur. Lalu, kita bisa dengan santai memunculkan kalimat-kalimat sarkasme kepada orang-orang yang menurut kita tampak munafik (tanpa kita belum pernah kenal betul-betul secara mendalam seperti apa hidupnya).

Saya khawatir, rasa muak kita, bisa dengan cepat berubah menjadi rasa pahit. Kita merasa terluka ketika melihat gereja yang kita anggap ngawur justru makin banyak jemaatnya. Kita bahkan mengutuki gereja-gereja yang “tampak kaya” agar mereka semua tersandung kasus pidana penyalahgunaan uang. Tanpa sadar kita menjadi pihak yang menuduh dan dengan bahagia mencari-cari kesalahan yang bisa diumbar di media demi membenarkan pemikiran kita.

Saya khawatir, rasa muak kita, bisa dengan cepat berubah menjadi kemarahan yang menutup mata hati kita pada kenyataan bahwa Tuhan masih bekerja melawat umatNya meski lewat ketidaksempurnaan gereja. Rasa marah kita terlalu besar untuk bisa melihat bahwa Tuhan masih mengasihi manusia lewat ketidaksempurnaan gerejaNya dan pada gilirannya, kemarahan kita seperti kemarahan Yunus yang menggugat kenapa Tuhan masih sayang kepada orang-orang yang sudah tidak layak disayangi.

Sadarkah kamu, bahwa kalau kamu diijinkan untuk melihat (atau mengalami sendiri dan menjadi korban) kemunafikan atau penyelewengan gereja, bisa jadi itu sebuah panggilan Tuhan untuk kamu mulai bertindak. Bayangkan kalau Martin Luther waktu itu menjadi pahit hati dan memilih meninggalkan gereja sepenuhnya dan bahkan meninggalkan imannya?

Dalam setiap masa krisis, pahlawan muncul. Dalam masa-masa sukar, selalu ada generasi yang bangkit. Jika menurutmu, gereja sedang berada di masa kekelaman akibat penyelewengan, jangan-jangan memang itu sebuah panggilan untuk melakukan apa yang benar.

Jadi, marilah kita bertanya dalam hati kita. Apakah hanya gereja saja yang menurutmu sedang keluar dari jalurNya. Atau jangan-jangan kita juga?

Kalau kita sama-sama keluar dari jalurNya, bukankah kita tidak berhak untuk berkata-kata?


by Josua Iwan Wahyudi
follow instagram JosuaIwanWahyudi