Boikot Starbucks!

avatar150Cukup mengherankan ketika topik “Starbucks dan LGBT” menjadi mencuat hari-hari ini, karena sebenarnya, (kalau saya tidak salah ingat), sudah agak lama Starbucks dengan jelas menunjukkan posisi mereka sebagai pendukung LGBT.

Dan sebenarnya bukan cuma Starbucks, tapi cukup banyak perusahaan papan atas internasional yang (meski tidak selalu dalam bentuk pernyataan resmi) sebenarnya menunjukkan “perilaku mendukung” kepada LGBT.

Sebut saja misalnya Disney. Meski bukan program resmi dari Disney, tetapi mereka dengan senang hati “membiarkan” adanya Disney Gay Days dimana hari itu puluhan ribu kaum gay berkumpul untuk merayakan komunitas mereka di sebuah tempat yang “penuh keajaiban” macam Disneyland. (Namanya juga “bisnis”, asalkan menguntungkan, LGBT juga fine-fine aja bagi mereka!)

Bagaimana dengan merk sepatu Nike yang mengeluarkan edisi khusus “BeTrue” dengan desain pelangi di saat momentum maraknya LGBT mulai berkembang dan diakui?

Dan, bahkan, mulai berkembang budaya perayaan diakuinya pernikahan sesama jenis di Amerika dalam bentuk digelarnya diskon-diskon khusus bagi pasangan gay ketika mereka membeli barang di berbagai department store, kafe, restoran, dan tempat-tempat lainnya.

Teman saya Andy Zain, yang kebetulan dalam perjalanan ke Amerika yang bertepatan dengan perayaan legitimasi pernikahan sesama jenis, menggambarkan suasananya mirip seperti “Jakarta Great Sale”, tapi khusus bagi para pasangan gay. Nyaris semua outlet memberikan diskon khusus bagi pasangan gay.

Jadi bagaimana? Kalau kita hidup disana, perlukah kita memboikot semua tenant, toko, dan produk yang ikut-ikutan memberikan diskon khusus gay? (itu artinya, kita memboikot 80% dari barang yang biasanya kita beli). Perlukah kita berhenti mengunjungi Disneyland dan melarang semua orang yang kita kenal untuk berkunjung kesana?

Bagaimana dengan Facebook yang jelas-jelas menyatakan dukungannya kepada pernikahan sesama jenis melalui dibuatnya Profile Picture pelangi (yang akhirnya dipakai dimana-mana)? Perlukah kita semua berhenti memakai Facebook sebagai bentuk boikot?

Lalu bagaimana juga dengan CEO Microsoft, Satya Nadella yang jelas menyatakan dukungannya kepada kaum gay? Dan bagaimana dengan CEO Apple, Tim Cook, yang sudah secara public menyatakan bahwa dirinya adalah gay? ( bahkan Bill Gates, Sundar Pichai – Android, dan Mark Zuckerberg, Bill Clinton, dan Richard Branson – Virgin Air, menyatakan encouragemet atas pengakuan Tim). Dengan demikian, jelas sekali kedua pemimpin eksekutif itu akan membangun budaya perusahaan yang “kondusif” bagi LGBT dan kalau punya kesempatan, mungkin mereka akan mengarahkan perusahaan mereka untuk mendukung LGBT (apalagi kalau ada keuntungan bisnisnya).

Jadi, perlukah kita berhenti memakai Windows dan semua produk Apple?


 

APA POSISI SAYA?

Saya orang Kristen. Saya memperhitungkan diri saya sebagai orang yang peduli dengan moralitas dan kerohanian. Saya termasuk salah satu pemimpin strategis dalam sebuah gereja. Saya sudah 23 tahun melayani. Dan ya, sampai hari ini ada beberapa orang gay yang saya muridkan dan konselingi.

Saya jelas berada di posisi yang tidak bersetuju 100% dengan pernikahan sesama jenis. Walaupun relationship sesama jenis sering mengatakan bahwa dasar mereka adalah kasih (dan itu sangat alkitabiah! Bukankah Allah adalah kasih? Jadi kenapa kalau ada orang saling mengasihi kok dilarang-larang? – begitulah argumen umum yang sering diajukan). Tapi pertanyaannya, adakah hubungan gay yang tidak melibatkan kegiatan atau nafsu seksual di dalamnya?

Ketika kegiatan seksual dilakukan oleh sesama jenis, jelas ini sesuatu yang tidak benar. Dari desain (maaf) alat kelamin saja, sudah jelas tidak ada kesesuaian, jika aktifitas seksual dilakukan oleh sesama jenis. Lalu kodrat “beranak cucu” juga bisa hanya bisa terjadi melalui pria dan wanita.

Bayangkan kalau sejak awal semuanya adalah pasangan sesama jenis. Bukankah manusia akan punah secepat-cepatnya? Maksud saya menyampaikan ini bukanlah apa-apa, hanya ingin menunjukkan bahwa “kodrat” dan desain awalnya saja, sudah jelas-jelas terlihat.

Lalu, asmara dan kasih adalah dua hal yang berbeda. 1 Yohanes 4:8 menyatakan bahwa Allah adalah AGAPE. Saya yakin Anda pasti sudah memahami bahwa Agape adalah bentuk kasih yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan asmara yang adalah “Eros”. Bahkan, kasih pertemanan yang umumnya adalah “Philea atau Filio” saja, levelnya masih berbeda dengandibawah Agape.

Jadi, menyamakan hubungan “kasih” antar sesama jenis dengan Agape Allah adalah sebuah konsep pembenaran yang tidak pada tempatnya.

TAPI, saya tidak pernah sekalipun berpikir untuk memboikot, apalagi menyerukan pemboikotan terhadap (misalnya) Starbucks atau apapun dan siapapun.

Mengapa?

SATU. Pemboikotan bukan hanya tidak akan memberikan pengaruh perubahan, tetapi lebih dari itu, semakin menjauhkan teman-teman LGBT dari kasih yang sesungguhnya.

Meski Anda seorang gembala dengan jemaat 1 juta orang sekalipun, dan bersama-sama memboikot Starbucks, Facebook, Disneyland, Nike, Microsoft, dan Apple, Anda pikir akan membawa perubahan dengan berhentinya perilaku hubungan sesama jenis?

Justru, itu seperti menyiram bensin ke dalam api. Mereka akan semakin berusaha membuktikan bahwa mereka layak diterima dan diperlakukan seperti orang lain pada umumnya.

Dan lebih dari itu, pemboikotan melukai para teman LGBT.

Seperti yang berulang-ulang selalu saya katakan dalam sesi debat, ngobrol, dan diskusi saya dengan Ivan Podiman, gereja dipanggil untuk menjadi PEWARTA KASIH di bumi, BUKAN sebagai hakim. Kita baru akan ikut menghakimi NANTI setelah Yesus sang Hakim Agung menjemput dan “mengubah” kita sempurna (bukan sekarang!).

Saat ini, kita dipanggil untuk menceritakan kepada sebanyak mungkin orang betapa Tuhan mengasihi manusia sedalam apapun kejatuhan mereka. Dan betapa inginnya Tuhan memiliki relationship Agape dengan mereka. Termasuk dengan teman-teman LGBT!

 

DUA. Saya membedakan antara kaum gay dengan aktifitas gay.

Begini, kalau ada orang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan hubungan seks “non konservatif”, misalnya dengan melakukan hubungan seks ramai-ramai dengan berapa orang sekaligus. Apakah kemudian kita harus langsung meng”exclude” dan condemn orang itu?

Memang benar apa yang dia lakukan itu mungkin salah. Tapi, sadarkah Anda bahwa perjalanan hidup masa lalu orang itu bisa saja mengantarkan dia menjadi seperti itu. Dan tidak mudah baginya untuk “melawan” kecenderungan yang muncul itu.

Contoh lebih “ringan”. Orang yang sudah kecanduan pornografi berat selama bertahun-tahun. Tidak mudah untuknya dalam 1 malam tiba-tiba berubah dan selesai dengan semuanya dan memastikan tidak akan pernah lagi muncul godaan untuk melihat pornografi lagi. Bahkan, saya mengenal ada banyak mantan pecandu pornografi yang berjuang seumur hidupnya melawan kecenderungannya. Perjuangannya berlangsung sampai akhir hidupnya.

Saya memandang teman-teman LGBT juga begitu.

Ada sebuah proses tertentu yang membuat mereka memiliki kecenderungan itu. Dan, tidak mudah bagi mereka untuk dalam 1 malam berhenti dan tiba-tiba tidak lagi memiliki dorongan homoseksual. Kalau Anda pernah menemani proses pertumbuhan kerohanian seorang gay, Anda akan tahu betul bagaimana beratnya perjuangan mereka melawan “diri mereka sendiri”.

Orang-orang seperti ini layak ditemani. Layak dikasihi. Layak didukung, dan layak di”belong”.

Setiap orang itu memiliki “perjuangan seumur hidup” mereka masing-masing. Hanya lantaran ini berkaitan dengan homoseksual, bukan berarti ini menjadi lebih “najis” atau menjadi lebih hina. Dan hei, bahkan mungkin mereka tidak pernah ingin atau memilih untuk menjadi seperti itu.

Lalu, apakah itu artinya saya mentoleransi perilaku (seksual) gay?

Belajar dari Yesus, makin kesini saya makin menyadari. Yesus dalam semua pelayanannya, selalu melakukan proses 3B: Belong – Belief – Behaviour.

Yang Yesus lakukan adalah mengasihi dan menerima (Belong) pribadi orang yang berdosa. Barulah Dia kemudian membangun hubungan untuk mengubah Beliefs mereka melalui hubungan dan pengajaran. Dengan demikian perubahan Behaviour hanyalah akibat yang akan dituai kemudian.

Tapi kita orang Kristen, seringkali menerapkan proses terbalik: Behaviour – Belief – Belong. Kita menyeleksi orang dari perilaku mereka dan dari keyakinan mereka, ketika keduanya berbeda dengan kita, maka kita tidak mau mem”belong” mereka.

Saya yakin sepenuhnya, orang yang sudah berjumpa dengan Agape Tuhan, TIDAK MUNGKIN TIDAK berubah! Tugas kita cuma memperkenalkan dan menuntun orang untuk berjumpa dengan Agape itu, dan Agape itu sendirilah yang akan mengerjakan proses perubahannya. Bukan kita.

Sayangnya, kita selalu punya sikap “God Wannabe”. Kita yang menentukan standar-standar dan berpikir kitalah yang akan mengubah orang menjadi lebih benar dan kudus. (Lha wong, mengubah diri-sendiri aja sudah sulit sekali, kok ingin mengubah orang lain?)

Itu sebabnya, saya yakin, bukanlah bagian saya untuk mengutuki, mengintervensi, maupun memboikot semua aktifitas gay. Bagian saya adalah bagaimana teman-teman LGBT ini bisa berjumpa dengan Agape, sebuah kasih yang levelnya berbeda sekali dengan apa yang mereka dapatkan melalui relationship LGBT mereka. Sebuah kasih yang tak ada habis-habisnya dan melampaui akal budi kita untuk mencernanya. Sebuah kasih yang takkan pernah kita sangka ada di dunia ini. Sampai mereka menyadari bahwa “kasih” LGBT mereka tidaklah sampai separuh dari kasih Agape yang mereka jumpai ini.

Inilah yang membuat banyak orang berubah hidupnya. Saya meninggalkan banyak dosa dan kebiasaan lama saya bukan karena apa-apa, lantaran karena saya berjumpa dengan kasih Agape di saat saya sedang berdosa-berdosanya. Mirip seperti Matius yang diajak Tuhan menjadi muridNya, justru ketika dia sedang di rumah cukai, menghitung uang hasil perasannya. Mirip seperti Paulus yang dijumpai Agape dalam perjalanannya hendak menganiaya jemaat. Mirip seperti wanita pelacur yang berjumpa Agape justru ketika dia mau dirajam karena tertangkap basah berzinah habis-habisan.

Apakah Anda masih yakin bahwa kasih Agape ini sanggup memberikan perubahan kepada siapapun? Seringkali, kita mulai sibuk menggunakan cara-cara kita sendiri dan penilaian/pemikiran kita sendiri dalam “meluruskan” dunia yang bengkok ini. Kenapa? Karena kita tidak yakin dan tidak lagi percaya bahwa kasih Tuhan sanggup mengubah kehidupan orang lain. Sampai-sampai kita harus “turun tangan” sendiri membela kebenaran melalui cara-cara pemboikotan dan sejenisnya.

Daripada sibuk melakukan semua itu, bukankah sebaiknya energi kita dialokasikan untuk menceritakan kasih super dahsyat ini?

 

TIGA. Tindakan pemboikotan, bagi saya adalah sebuah kebodohan.

Kenapa?

Tidakkah Anda pikir dibalik perusahaan itu ada banyak sekali orang non-LGBT yang menggantungkan hidupnya disana? Lalu, Anda mendoakan supaya perusahaan ini tutup melalui pemboikotan? Akan kemanakah mayoritas non-LGBT itu? Anda mau menyediakan lapangan kerja sepadan untuk mereka?

“Siapa suruh mereka kerja di perusahaan yang tidak Alkitabiah?”

Lho, bukankah kita ini seperti domba yang DIUTUS di tengah serigala? Bukankah kita disuruh PERGI ke seluruh ujung dunia? Bukankah kita ini GARAM dan TERANG di tengah dunia yang hambar dan gelap?

Kalau kita ramai-ramai bekerja di perusahaan yang semuanya isinya orang Kristen, kenapa nggak bikin gereja aja sekalian? Bukankah justru kitalah yang seharusnya membawa perubahan?

Dan, yakinkah Anda bahwa Tuhan juga menyerukan pemboikotan?

Menegakkan kebenaran, tanpa menegakkan kasih, adalah sama fatalnya seperti menegakkan kasih tanpa menegakkan kebenaran.

Maksud saya adalah, jika memang Anda geram dengan makin maraknya perkembangan LGBT dimana-mana, masih ada banyak tindakan lain (yang lebih efektif) yang bisa dilakukan daripada hanya sekedar memboikot dan melarang-larang.

Jika memang kita adalah kepala dan bukan ekor, cobalah bikin coffee shop tandingan yang lebih hebat dan mendunia, atau bikin aplikasi social media yang lebih sangar dari Facebook, atau buat perusahaan teknologi yang menyaingi Apple dan Microsoft, dan tunjukkan culture Kerajaan Allah melalui semua bisnis itu!

Ah… PR kita memang masih banyak yah? Jadi, daripada sibuk berkoar-koar seperti “tetangga” kita itu… Mendingan kita perhatikan hidup kita dulu dengan seksama, adakah kita menjadi batu sandungan sampai Injil (kasihTuhan)  tidak bisa diterima? Adakah kita sudah berkarya dengan benar sehingga punya exposure yang equal untuk menyuarakan sebuah culture tertentu? Adakah kita sudah menjadi gereja seperti yang Yesus lakukan selama di bumi?

Kalau belum… why don’t we just shut our mouth, and start doing something (really) useful for His Kingdom?


Artikel lain berkaitan dengan topik “Gay”:
Gay Marriage: My Personal Opinion


 

by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: @josuaiwanwahyudi

2 thoughts on “Boikot Starbucks!

  1. Mas, saya mau tanya ini meskipun ini gak terjadi di negara kita karena gay marriage belum disahkan: catering punya orang Kristen yg dipesen buat same sex marriage. Ada yg militan, pokoknya gak mau meskipun diancam dituntut. Tapi saya yakin lebih banyak yg galau, antara harus mengasihi & melayani (customer), tapi dengan “syarat” menyetujui pernikahan gay sebagai perwujudan pelayanan yg tidak diskriminatif. Apalagi kalau bikin wedding cake, sering harus pasang boneka2 pengantin cowo+cowo / cewe+cewe atau hiasan rainbow flag. Saya yakin orang2 ini bukan pembenci gay, dan mereka mungkin gak masalah kalau order hilang sekalipun. Tapi mendapat reputasi sebagai orang Kristen yg jahat, itu lebih nyesek buat mereka.

    • Jawaban untuk ini masih pro dan kontra, karena itu saya akan menjawab dari personal opinion saya yang bisa saja berbeda dengan apa yang diyakini orang lain.

      Menurut saya, berdoalah kepada Tuhan dan minta hikmat, apa jawaban yang membuat Anda damai sejahtera, lakukanlah itu. Jadi, menurut saya keputusannya bisa situasional sekali, ada masanya Anda melakukannya, ada masanya Anda menolak. Yang penting Anda melakukan semuanya karena dasar kasih (bukan sentimen) dan ada damai sejahtera waktu melakukannya. Apapun pendapat orang, tidak selalu harus menjadi penting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *