MOBA dan EMOSI

Mobile Legend sedang booming.

Era COC dan game-game sejenisnya sedang memasuki masa senja, sedangkan era game MOBA terutama Mobile Legend dan AOV sedang memasuki masa “hot-hot’nya”!

Tapi, ternyata, bermain game model MOBA ini bahkan lebih menguras emosi daripada COC dan Clash Royale. Dulu, COC cukup menguras emosi ketika kita salah menurunkan troops atau si para prajurit kecil itu malah bergerak dan melakukan tidak sesuai yang kita harapkan.

Sedangkan Clash Royale, bisa bikin kita pengen banting handphone ketika musuh kita mengeluarkan emoji ketawa-ketawa, itu namanya kan pelecehan digital. Continue reading


Gua (Bukan) Cina! – Secuil Harapan Kepada Anies Baswedan

avatar150Tulisan ini didorong oleh status Facebook teman saya Amanda Tandiary, yang menceritakan ketika ia berangkat kerja menuju kantornya dengan mengendarai motor lucu kebanggaannya itu. Di tengah jalan, seorang supir angkot memacu kendaraannya mendahului Amanda sambil berteriak “Woy Cina Minggir!”. Ungkapan kekesalan itu muncul lantaran angkot itu terhalang oleh motor teman saya ketika dia ingin ber”cepat-cepat.

Kejadian seperti ini mungkin sudah menjadi “biasa” bagi sebagian besar kaum Tionghoa di Indonesia. Padahal, menurut saya ini masihlah kejadian yang luar biasa bagi sebuah negeri yang sudah merdeka 70 tahun dan yang membuat ironis, kemerdekaan itu diraih, diusahakan, dan diperjuangan dengan keringat, darah, dan (mungkin puluhan hingga ratusan ribu nyawa yang terkorban) yang semuanya terdiri dari beragam suku dan etnis.

Kalau ditanya, Indonesia ini siapa yang mendirikannya? Kita semua yang tahu sejarah akan sangat kesulitan menjawabnya. Karena, seluruh etnis dan suku yang mendiami negeri ini turut menyumbang andilnya. Termasuk orang-orang yang tadi dibilang “cina” itu.

Saya sendiri. Sejak TK sampai SMA sudah berulangkali menerima perlakuan dan perkataan sinis semacam itu. Saya masih ingat betul ketika saya bermain di halaman rumah saya (waktu itu saya masih berusia 5 tahunan) dan kemudian lewatlah beberapa anak-anak sebaya saya yang kebetulan adalah suku jawa (saya tidak mau menyebutnya sebagai pribumi karena saya merasa saya juga adalah pribumi).

Segerombolan anak-anak itu berteriak dengan wajah mengintimidasi dan bahasa tubuh yang seolah ingin mem’bully saya “Hei Cina! Sini kamu cina!” Tentu saja reaksi normal saya adalah berlari cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan sayup-sayup saya bisa mendengar tawa anak-anak itu.

Sejak kejadian itu, pikiran polos anak-anak saya berkecamuk dalam kepala, “Emang kenapa ya mereka begitu? Emang kenapa kalau saya Cina?”

Ketika saya bertumbuh makin dewasa, saya semakin “terbiasa” (maksudnya bukan menjadi tidak tersakiti karena biasa, melainkan sudah berulang kali menerima perkataan semacam itu, sehingga kejadian luar biasa itu menjadi kejadian yang sudah biasa terjadi.)

Saya masih ingat ketika saya sekolah di SMP negeri.  Dalam satu kelas, hanya ada 2 orang yang kebetulan bersuku Tionghoa. Saya dan satu teman pria saya (yang memang amat jauh lebih sipit dari saya *lol*). Saat itu, sedang ada Porseni (semacam kompetisi olahraga antar kelas). Lalu, wali kelas saya, dengan sepihak dan tanpa “demokrasi” menunjuk saya dan teman sipit saya itu untuk menyumbang konsumsi bagi seluruh anggota kelas, yaitu berupa air mineral dan snack.

Kejadian itu sungguh membuat saya bertanya-tanya. Kenapa harus saya dan teman saya itu? Kenapa tidak ada pembicaraan dan diskusi? Padahal, kalau dilihat, dalam satu kelas yang ekonominya bagus dan layak menjadi donatur ada beberapa orang. Apakah karena saya “cina” lalu diasosiasikan bahwa kami pasti kaya?

Rupanya perilaku para guru yang notabene harusnya menjadi pasukan garda terdepan dalam mengajarkan mengenai kebhinekaan dan persatuan, justru malah menjadi role model pendidikan bahwa rasisme dan pembedaan memang adalah bagian tak terpisahkan dari kultur bangsa ini. Bayangkan, jika ratusan sekolah dan ribuan guru melakukan “hal-hal kecil” ini setiap hari di kelas-kelas dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Guru yang mendapat kehormatan untuk “digugu dan ditiru” itu sudah meneladankan sesuatu yang justru mengkhianati kemerdekaan itu sendiri dan memundurkan semangat perjuangan seluruh pendiri bangsa kita.

Belum lagi kisah istri saya ketika dia SMA dan lagi-lagi kebetulan bersekolah di sekolah negeri yang satu kelas hanya ada segelintir siswa Tionghoa.

Guru PPKNnya pernah berkata kepadanya (kurang lebih), “kamu itu Cina, walaupun kamu pinter dan belajar, nilaimu gak akan mungkin tertinggi di kelas ini!” Seolah-olah nasibnya sudah ditentukan oleh sang guru bahwa apapun yang dilakukan, tidak akan ada kesempatan bagi “orang cina”.

 

DARI MANA SEMUANYA INI?

Kini, setelah saya benar-benar dewasa. Setelah saya merasa sudah lebih sanggup memberikan pemaknaan yang lebih luas. Saya baru kemudian semakin tergugah. Bagaimana caranya anak-anak usia 5 tahunan (yang mengganggu saya di kisah awal saya), tahu soal istilah “cina” dan punya bahasa tubuh yang begitu intimidatif, padahal baru pertama kali mereka berjumpa dengan saya?

Bagaimana teman SMP saya mengancam saya sambil menarik kerah baju saya “Lu Cina, kalo gak mau kasih contekan awas lu!”?

Dan sejuta kisah-kisah lainnya yang lebih memilukan?

Saya yakin sekali, waktu Indonesia didirikan, jelas bukan semangat dan jiwa semacam ini yang dibawa dan dijadikan landasan negara ini.

Saya mulai menyadari bahwa “kebencian” ini menyusup justru melalui PENDIDIKAN. Bagaimana orang tua mendidik anaknya dan bagaimana para guru bersikap. Sebagai orang yang belajar soal manusia, psikologi, dan perkembangan emosi manusia bertahun-tahun, saya menyadari, tidak ada yang lebih kuat pengaruhnya ketimbang orang tua dan guru (orang yang dianggap pendidik).

Pola emosi dibentuk sejak kecil. Mustahil seseorang punya kebencian kepada seorang individu yang baru saja ia jumpai, kecuali, pola emosi benci itu memang sudah dibentuk sejak ia bahkan belum tahu apa arti kebencian itu sendiri.

Ketika anak-anak ini melihat bahwa orang tua dan guru-guru mereka “legal” dalam melakukan pembedaan dan penekanan kepada kaum minoritas tertentu, maka mereka dengan cepat segera belajar bahwa ketika mereka berada di pihak mayoritas mereka berhak untuk melakukan hal yang sama.

Tidak heran, meski Indonesia sudah berganti generasi beberapa kali, budaya dan kebiasaan rasis dan pembedaan ini masih saja terjadi disana-sini.

Ini pula yang kemudian membuat saya mengerti mengapa banyak sekali rekan-rekan saya yang sudah pernah tinggal di luar negeri (terutama negeri yang memang penuh keberagaman dan tingkat rasisnya minim), ketika kembali ke Indonesia, mereka merasa sangat “muak” dengan keadaan ini.

Salah satu peserta workshop menulis saya, pernah menceritakan keinginannya untuk menulis buku soal keberagaman. Hal ini didorong oleh pengalamannya ketika berada di Cina dan Australia dimana begitu beragam suku etnis yang ada disana. Bahkan tim nasional berbagai cabang olahraga mereka, diisi oleh beragam etnis, mulai dari Cina, Vietnam, Korea, India, dan tentu saja etnis “Barat”. Tapi mereka semua menyebut diri mereka Australia.

Namun, di kelas menulis ini, peserta saya mengungkapkan keengganannya untuk menjadikan ini buku karena dia khawatir masyarakat Indonesia belum bisa menerima hal-hal seperti ini. Tentu saya saya dan hampir seluruh peserta kelas kami mendorong keras dan memberinya keberanian untuk tetap mewujudkan buku ini. (if you read this Cecilia Liando, you should finish your writing!)

Di luar negeri bukannya tidak ada rasis. Seperti rekan saya Andrew Ardianto berkata, selalu ada orang-orang rasis dimanapun tempatnya.

Hanya saja, saya tidak rela jika itu ada di Indonesia yang saya cintai, tidak rela pula jika itu terjadi di Jakarta yang adalah ibu kota negera yang terkenal dengan masyarakatnya yang heterogen, dan saya lebih tidak rela lagi jika itu terjadi di rumah-rumah yang dilakukan oleh para orang tua saat mengajari anaknya. Dan yang lebih gila lagi, yang membuat saya benar-benar tak bisa menerimanya, jika itu terjadi di sekolah-sekolah dan dilakukan oleh para guru! Para pendidik mulia.

 

HUBUNGANNYA SAMA ANIES BASWEDAN?

Disinilah harapan saya taruh kepada sosok Anies Baswedan. Meski saya tidak memilihnya di Pilkada lalu. Tapi, karena dia sudah nyaris pasti akan menjadi gubernur berikutnya. Bukan tanpa alasan saya meletakkan pengharapan saya ini kepadanya.

Pertama, karena dia akan menjadi gubernur ibu kota negara yang menjadi barometer dan prototype seluruh kota lain di negeri ini. Kedua, karena seperti yang selalu didengungkan Pandji Pragiwaksono dan seperti janjinya sendiri bahwa dia akan “merangkul” semua pihak untuk berjalan bersama dan menjadikan keberagaman dalam persatuan sebagai warna Jakarta. Ketiga, karena selama bertahun-tahun dia dikenal sebagai salah satu sosok yang “pendidikan banget”.

Saya berharap selama 5 tahun ke depan, di Jakarta, tidak ada lagi supir metromini yang akan meneriaki teman chubby saya itu dengan kata-kata rasis. Saya berharap, tidak ada lagi guru-guru yang mengajarkan pembedaan dan rasis dalam sikap-sikap mereka di sekolah. Tidak ada lagi sebutan-sebutan sinis yang disematkan berdasarkan kesukuan, warna kulit, dan perbedaan. Saya sungguh berharap, 5 tahun lagi ketika Anies Baswedan menyelesaikan periodenya memimpin, kita akan menemukan masyarakat Jakarta yang dengan bangga menyebut dirinya orang Indonesia, dan dengan bangga pula menyebut saudaranya yang berbeda suku dan warna kulit sebagai sesamanya orang Indonesia juga.

Saya berharap, tidak ada lagi ketakutan bagi yang minoritas dan tidak ada lagi arogansi intimidatif atau sikap semena-mena bagi mereka yang kebetulan menjadi mayoritas.

Saya tahu mungkin bagi sebagian orang, harapan saya ini konyol dan mungkin adalah harapan yang nyaris sulit menjadi kenyataan. Tapi, harapan saya ini bukan tanpa dasar dan bukan hanya berdasar “iman buta”.

Harapan saya masih ada karena membaca dan mengetahui bagaimana Indonesia ini dulunya dibangun. Berkali-kali dalam kesempatan ketika saya diminta menjadi pembicara seminar atau training di perusahaan-perusahaan, saya selalu berkata dengan bangga, “Indonesia tidak dibangun oleh koruptor!”

Perkataan saya ini muncul karena saya pernah membaca kisah ketika Bung Hatta rela konflik dengan istrinya dan perang dingin beberapa hari lantaran ia merahasiakan keputusan negaran untuk memotong nilai mata uang negara dari istrinya. Padahal Bung Hatta tahu istrinya sudah menabung lama untuk membeli mesin jahit, sehingga ketika terjadi pemotongan nilai mata uang, pupuslah harapan istri Bung Hatta untuk membeli mesin jahit.

Istri Bung Hatta marah karena harusnya suaminya sebagai wakil presiden tahu jauh-jauh hari bahwa ini akan terjadi, setidaknya jika Bung Hatta membocorkan informasi ini kepadanya, dia bisa meminjam uang dulu untuk menutupi kekurangan dan buru-buru membeli mesin jahit. Tapi Bung Hatta sama sekali tidak berniat melakukan itu karena baginya itu rahasia negara.

Indonesia itu aslinya keren banget. Para pahlawan dan pendiri bangsa kita itu, serius, keren banget. Dan saya juga yakin sekali bangsa ini didirikan dengan semangat persatuan yang membanggakan dan memukau. Makanya ada yang namanya Sumpah Pemuda dan makanya slogan “Bhineka Tunggal Ika” bertengger di cengkeraman Sang Burung Garuda, lambang kebanggaan kita.

Bangsa kita tidak dimulai dengan rasisme dan pembedaan. DNA kita BUKAN ITU! Itulah yang membuat saya masih punya harapan.

Apalagi ketika Pandji dalam tweetnya berkata bahwa ia tidak yakin Ahok sanggup menunaikan tugas mendidik warga Jakarta untuk menghargai keberagaman. Pandji yakin Anieslah orang yang paling mampu dan bisa. Maka, sekarang harapan saya (dan mungkin juga harapan banyak orang) beralih kepada sosok yang mungkin bisa saja lebih mampu.

 

APAKAH SAYA BENAR-BENAR CINA?

Sebagai penutup. Bagi Anda yang kebetulan bukan orang Tionghoa atau yang merasa diri Anda adalah “pribumi”. Izinkan saya mengungkapkan apa perasaan dan pendapat saya yang mungkin bisa jadi mewakili banyak orang Tionghoa lainnya di Indonesia.

Meski mungkin ada yang membaca ini sambil tertawa leceh dan berkata “gua gak peduli apa perasaan dan pikiran lu!”

Tapi, since ini adalah blog saya, ya saya dengan cuek hati akan tetap curcol.

Sejak saya kecil sampai detik ini. Saya tidak pernah merasa diri saya orang Cina. Itu sebabnya sejak kecil saya selalu bingung kalau ada orang memanggil saya “Hai Cina!”. Seriusan, yang saya lakukan ketika pulang adalah memandang diri saya di depan cermin sambil kebingungan, “kenapa saya dipanggil cina?”

Saya lebih fasih berbahasa Jawa dan Indonesia daripada berbahasa “cina”. Logat bicara saya Jawa banget, bukan cina banget. Memang saya suka Chinese food, tapi saya juga suka rawon, pecel, soto dan banyak Indonesian food sebesar saya menyukai Japanese food, western dan Chinese food.

Dan bahkan, ini curahan hati jujur saya. Ketika saya berkesempatan berkunjung ke Cina dan sempat beberapa hari disana. Jujur saja, saya tak betah. Dan bahkan saya berkata kepada istri saya, “Saya tidak terima kalau saya dibilang orang Cina!” Lantaran saya merasa cara mereka hidup dan berperilaku “bukan gua banget”

Bahkan, mama saya pernah berkata, “kamu dalam hidup harus pernah satu kali pergi ke Cina, karena disanalah leluhurmu. Kamu waktu kesana akan terasa berbeda, seolah-olah itu kampung halamanmu”

Saya tidak tahu dengan orang lain. Tapi ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Shenzhen, saya memang langsung berasa berbeda. Bedanya, saya merasa “kayaknya ini bukan tempat saya deh…”

Detik ini, saya jelas tidak mau disebut “orang cina”. Kepergian saya ke Shenzhen semakin meneguhkan bahwa saya bukan orang cina.

Jadi, jangan paksa saya untuk mengubah identitas saya sebagai orang Indonesia. Saya lahir di negeri ini. Berbicara dengan bahasa negeri ini. Makan nasi hasil tanah negeri ini. Saya orang pribumi. Saya orang Indonesia.

Saya bukan Cina…


by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi