Free Will: Ilusi atau Nyata?

Konon, yang membedakan manusia dengan binatang adalah pada akal budinya. Semua binatang, bergerak dan hidup berdasarkan naluri dasar / insting. Itu sebabnya, kita takkan pernah melihat binatang jenis apapun bisa mengalami perkembangan gaya hidup dan mencapai “peradaban” yang semakin modern. Dari dulu yang namanya anjing ya begitu-begitu saja, mereka tak pernah punya ide untuk mengganti potongan bulu mereka, menggagas pemikiran untuk membangun negara anjing, menciptakan hukum dan berusaha melawan manusia.

Ide pemikiran dalam film “Planet of The Apes” hanyalah sebuah kisah fiksi belaka karena memang sudah berabad-abad binatang tak pernah memiliki akal budi. Sebaliknya, manusia, karena akal budilah mereka bisa berkembang pesat. Dari generasi ke generasi selalu ada hal baru yang muncul dan membuat manusia kian “advance” dari hari ke hari. Bahkan, anjing berbusana, berparfum, memiliki rumah, dan berganti-ganti model bulu pun karena akal budi dari manusia si pemelihara anjing tersebut.

Free will, atau kehendak bebas, diyakini menjadi bagian dari akal budi yang dimiliki hanya oleh manusia.

Binatang mamalia tentu juga memiliki kehendak. Bahkan mereka juga punya perasaan. Berbeda dengan reptil dan serangga yang sepenuhnya hidup karena naluri / insting dan “berjalan” sesuai mekanisme tanpa proses merasa dan berkehendak. Namun, bedanya binatang mamalia dengan manusia adalah mamalia memunculkan kehendaknya berdasarkan sebuah mekanisme biologis yang pada pangkalnya juga adalah hasil dari naluri / insting primitif mereka.

Itu sebabnya orang seperti Cesar Millan, seorang pelatih anjing ternama di seluruh dunia, mampu menundukkan dan mengatur anjing model apapun karena dia berhasil mempelajari bagaimana mekanisme hidup seekor anjing. Cesar Millan berhasil memecahkan sistem dan kode kerja “default mode” para anjing, sehingga kapanpun dan seperti apapun kondisinya, dia bisa melakukan intervensi untuk mengubah kelakuan anjing itu.

Ibaratnya, seorang programmer yang sudah berhasil memecahkan semua kode sebuah aplikasi komputer, maka kapanpun ia ingin merubah kelakukan aplikasi itu, ia bisa melakukannya karena ia sudah memahami semua bahasa pemrograman yang ada.

Oke, dalam bahasa lebih sederhana (in case kalau kamu belum menangkap apa yang saya sampaikan), semua binatang, termasuk mamalia sebenarnya sudah “terpogram” dari sananya dan mereka hanya berperilaku sesuai dengan program yang sudah ada.

 

BUKANNYA MANUSIA JUGA BEGITU?

Nah, banyak orang yang kemudian “menuduh” manusia juga tidak ada bedanya dengan mamalia karena sebenarnya, kalau kita belajar ilmu psikologi dan berbagai ilmu tentang mind technology, kita akan menemukan fakta bahwa sebenarnya manusia pun bertindak sesuai “program-program” yang tertanam di dalam pikiran bawah sadar mereka. Sehingga, ketika program itu diganti oleh (let’s say) para terapis (yang biasa melakukan metode hypntherapy misalnya), maka kelakuan orang itu juga berubah sesuai program yang baru.

Lebih primitif lagi, kita juga menemukan bahwa semua tindakan manusia yang kelihatannya “berakal budi” dan “beradab” ini, sebenarnya hanyalah bentuk lebih “advance” saja dari naluri primitif yang sebenarnya sama saja dengan binatang. Misalnya, orang bekerja, mencari uang, berpakaian bagus, menciptakan berbagai karya, karena mereka ingin bertahan hidup, baik secara fisik, maupun bertahan hidup secara mental dan emosional. Bukankah semua makhluk juga bergerak atas dasar alasan untuk bertahan hidup? Apakah karena cara manusia bertahan hidup lebih keren dan canggih, lalu dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berbeda dengan binatang?

Memang benar, manusia pun sebenarnya terpola dan terprogram. Manusiapun juga memiliki dasar naluri primitif yang sama dengan binatang. Bahkan konon, 80% tindakan kita sebenarnya juga hanyalah pola yang diulang-ulang dari program yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar kita. Itu sebabnya, para ahli komunikasi dan para ahli pikiran, mampu mengendalikan perilaku manusia melalui penanaman “program-program” tertentu. Sebut saja misalnya, sekolah brainwash yang dilakukan para teroris yang kemudian menciptakan sekelompok manusia bengis yang bisa membunuh sesamanya dan merasa diri semakin suci setiap kali membunuh. Semua perilaku ini “terprogram” dengan sengaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *