Free Will: Ilusi atau Nyata?

 

LALU, DIMANA BEDANYA?

Jeffrey M. Schwartz, M.D dan Rebecca Glading, M.D. dalam buku mereka berjudul “You Are Not Your Brain” menjelaskan secara menarik bagaimana sebenarnya manusia itu dikendalikan oleh 2 hal, yaitu otaknya, dan pikirannya.

Otak berbicara mengenai mekanisme kimiawi dan biologis yang “mengontrol” semua aksi kita. Detakan jantung kita, proses-proses dalam tubuh kita, semuanya dilakukan oleh otak. Termasuk juga tindakan-tindakan kita yang 80% tadi, semuanya adalah hasil mekanisme terprogram dari otak kita. Namun, pikiran berbeda. Memang, pikiran juga dihasilkan dari kinerja otak, namun, salah satu unsur elemen yang sulit dijelaskan dalam pikiran adalah unsur AWARENESS atau kesadaran.

Bahkan, para ahli otak juga masih menyelidiki dimanakah letak fungsi kesadaran / awareness ini.

Oke, mungkin ini akan sedikit rumit, tapi saya akan mencoba untuk menjelaskan sesederhana mungkin.

Begini, misalnya, saya adalah orang yang introvert. Saya cenderung lebih suka melakukan aktifitas sendirian daripada bersama-sama banyak orang. “Program” ini sudah ada dalam pikiran bawah sadar saya dan setiap kali ada di situasi sosial, program ini aktif sehingga saya bertindak sesuai program tersebut, yaitu menjauhi orang lain dan mulai melakukan apa-apa sendiri. Tampaknya saya melakukan semua ini dalam keadaan sadar dan “bangun”, tapi sebenarnya “tanpa sadar” saya melakukan semuanya hanya karena terprogram.

Dan hal seperti ini, bisa terjadi di hampir semua tindakan saya. Pilihan makanan saya, pilihan fashion saya, cara saya berkomunikasi, cara saya bekerja, keputusan-keputusan saya. Bahkan bisa semua hal!

Keadaan inilah yang disebut saya dikendalikan oleh otak saya. Saya tidak ada bedanya dengan binatang.

Tapi, tiba-tiba, saya memiliki KESADARAN dalam PIKIRAN saya dan berkata, “Wah, kalau begini terus, saya akan dijauhi orang”. Meski perasaan saya sangat enggan untuk bersosialisasi, namun kesadaran pikiran saya membuat saya mengerti bahwa saya tidak boleh terjebak dalam “program” ini. Maka, kemudian saya membuat sebuah PILIHAN BARU, menciptakan KEHENDAK BARU yang berlawanan dengan program otak saya, yaitu: saya akan mulai bersosialisasi dan mencoba membangun hubungan dengan orang lain.

Inilah yang tidak dimiliki oleh binatang dan inilah yang saya percaya disebut sebagai FREE WILL, yaitu ketika akal budi kita, berupa kesadaran pikiran kita, muncul dan membuat kita bisa bertindak diluar program-program yang ada dalam diri kita.

Dengan demikian, itulah sebabnya manusia menjadi tampak tipikal namun tak terprediksi. Dalam berbagai studi, kalau sudah berhubungan dengan manusia, selalu ada potensi terjadinya anomali. Mengapa? Karena kesadaran pikiran manusia memungkinkan kita untuk membuat pilihan yang tak terbatas. Dengan akal budinya, manusia bisa memilih. Dia tidak melulu terprogram oleh otaknya, namun kesadaran pikirannya bisa membawanya jauh melampaui sekedar makhluk primitif.

Maka Allah menciptakan manusia  itu menurut gambar-Nya,  menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. -Kejadian 1:27

by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *