Gay Marriage: My Personal Opinion

BUKANKAH KITA SEMUA PENDOSA?

po4

Ya, saya setuju itu! Roma 6 dengan gamblang mengingatkan bahwa semua manusia sudah kehilangan kemuliaannya karena dosa. Memang homoseksual sama dan setara berdosanya dengan menggosip, kecanduan makan babi sampai tak bisa mengontrol diri, terikat game online, berbohong, dan dosa-dosa lainnya yang tampaknya ringan.

Itu sebabnya, saya secara pribadi sebenarnya tidak pernah menganggap kaum gay sebagai kaum terkutuk atau kaum yang lebih “tidak kudus” dibandingkan saya. Karena kalau kita mengutuki mereka, sama saja seperti mengutuki kita sendiri.

Namun, menyatakan pendapat kita, bahwa kita tidak setuju keputusan Amerika untuk mengesahkan gay marriage, tidak bisa serta merta dianggap melakukan tindakan menghakimi.

Seringkali, ketika kita melihat seseorang menyatakan ketidaksetujuan terhadap sebuah dosa, dengan segera orang berkomentar “jangan menghakimi bro… kita juga pendosa… Yesus aja menerima semua pendosa…”.

Membahas soal gay marriage, berbeda dengan membahas soal pribadi gay. Sama seperti membahas kegiatan pembunuhan dengan membahas pembunuhnya. Jika seseorang berkoar-koar tentang gay marriage, maka yang dibahas bukanlah pribadi gay’nya, namun aktifitas gay marriage’nya.

Lain soal, jika seseorang berkomentar, “semua orang gay pantas masuk neraka”, jika itu yang terjadi, sayapun juga dengan tegas menyatakan tidak setuju dengan itu karena hanya Tuhan yang bisa menghakimi seseorang untuk masuk neraka atau surga. Dan actually, tak seorangpun sebenarnya pantas masuk neraka, karena sejak awal manusia diciptakan bukan dengan kepantasan untuk tinggal di neraka. Mereka memiliki kepantasan untuk tinggal di Taman Eden.

Itu sebabnya pernyataan, “Yesus membenci dosa, bukan pendosa” adalah sebuah kalimat yang saya yakini benar. Karena itu pula, saya berani menyatakan bahwa Yesus jelas mengasihi dan mau menerima kaum gay tapi Dia tidak menginginkan mereka hidup dalam kondisi “itu” selamanya, apalagi sampai melakukan gay marriage.

Sama seperti Yesus mengasihi dan mau menerima pelacur, pemungut cukai, pembunuh, kriminal, orang miskin, namun Yesus memuridkan dan “mengubah” mereka menjadi pribadi yang berbeda dan meninggalkan semua kehidupan masa lalu mereka. Penerimaan Yesus selalu berujung perubahan, bukan berujung pada legalisasi untuk terus hidup dalam dosa.

Kasih karunia Tuhan begitu luasnya hingga sanggup menampung orang dengan dosa sebesar apapun dan segelap apapun (seperti yang digambarkan John Newton dalam lagunya “Amazing Grace). Namun, kasih karunia Tuhan juga begitu kuatnya dan kudusnya untuk sanggup mengubah masa lalu seseorang dan mentransformasi dalam sebuah kelahiran baru untuk menjadi sebuah pribadi yang berbeda dengan sebelumnya.

Itu sebabnya, saya sepenuhnya yakin bahwa kasih karunia Tuhan itu TRANSFORMING, bukan TOLERATING. Kasih karunia Tuhan itu PROGRESIF, bukan PASIF. Kasih karunia Tuhan itu MEMPERBAHARUI, bukan MENGIJINKAN. Kasih karunia Tuhan adalah sebuah EXIT DOOR, bukan sebuah PERMISI. Kasih karunia Tuhan secara otomatis mendorong dan memampukan kita untuk meninggalkan dosa, bukan memberikan rasa aman untuk tetap tinggal di dalam dosa.

Maka, mengijinkan seseorang tetap tinggal dalam dosa dengan alasan kasih karunia Tuhan, sebenarnya adalah sebuah alasan yang sangat kontradiktif karena sifat dari kasih karunia itu sendiri yang secara otomatis memampukan kita untuk lepas dari dosa.

Menerima keadaan untuk seseorang tetap tinggal dalam dosa dan semakin nyaman untuk berdosa dengan alasan kasih karunia Tuhan yang menerima apa adanya, sebenarnya justru menentang kasih karunia itu sendiri, mengingat salah satu ciri khas utama dan kekuatan unik dari kasih karunia Tuhan yang terletak pada “efek perubahan hidup”nya.

Lihatlah semua orang di alkitab yang sudah berjumpa dengan kasih karunia Tuhan, tidak ada yang tidak berubah! Maka, ya, kita semua sama berdosanya. Ya, kita semua tidak berhak saling menghakimi dosa satu sama lain. Ya, kita semua butuh kasih karunia Tuhan. Kasih karunia yang membawa perubahan hidup, bukan kasih karunia yang melegalkan untuk tetap hidup dalam keadaan berdosa.

Maka, pesan kasih karunia yang mengubahkan inilah yang perlu kita serukan. Bukan pesan kasih karunia yang “mendukung & mengijinkan” untuk tetap tinggal dalam dosa.
Saya tahu, saya tidak lebih suci dari orang lainnya. Saya sama berdosanya dengan yang lain. Karena itulah saya datang kepada Yesus dan membutuhkan Dia. Ada perbedaan antara orang yang ingin meninggalkan dosa, dengan orang yang tetap ingin tinggal dalam dosa.

One thought on “Gay Marriage: My Personal Opinion

  1. btul…sekeliling saya byk kaum gay dn pendukung ektrem kaum gay….rata2 mreka py latar blkg kluarga yg bermslh…. jd sypun tdk percaya bhwa gay adlh gen….#lol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *