Gay Marriage: My Personal Opinion

“Karena kaum gay banyak menerima penganiayaan mental dan mereka hidup dalam ketakutan berekspresi”

Saya tidak tahu apakah dosa termasuk dalam kategori “berekspresi” atau tidak. Anggap saja saya kemana-mana menunjukkan kemesuman dan ke”porno”an sebagai sebuah bentuk ekspresi pribadi. Apakah Anda bisa menerimanya sebagai sebuah ekspresi? Beberapa orang bahkan bilang pornografi adalah sebagai sebuah ekspresi seni, what do you think? Bagaimana ketika sebuah dosa dibungkus dengan keindahan seni untuk berekspresi?

Apabila seseorang membunuh orang lainnya sambil berkata “inilah ekspresi pribadi saya”. Bisakah Anda menerimanya? Bila seseorang terus-menerus berbohong dan berkata “inilah cara saya berekspresi”. Bisakah Anda menerimanya? Bagaimanapun, membunuh dan berbohong itu ada “seni”nya tersendiri lho. Bagi sebagian orang, mereka bisa memakainya sebagai cara untuk mengekspresikan dirinya.

Seperti statement yang sering saya dengar, “dosa adalah dosa. Dosa bukanlah masalah”, apalagi ekspresi. Menyukai musik rock, itu adalah ekspresi.  Mengecat rambut warna pink, ya itu masih merupakan sebuah ekspresi. Gay marriage? Anda yakin itu sebuah ekspresi? Kalaupun itu sebuah ekspresi, haruskah semua hal boleh diekspresikan?

Tidak semua kebaikan adalah sebuah kebenaran. Tidak semua tindakan humanisme adalah sebuah kebenaran. Ya, Yesus adalah humanis sejati. Tapi ingat, humanisme dalam diri Yesus hanyalah efek samping dari hidup dalam “transforming grace”. Bukan sebaliknya.

Yesus sama sekali tidak mengejar untuk menjadi pribadi yang humanis. Dia mengejar untuk menjadi pribadi yang membawa kasih karunia. Meski Dia sangat mengasihi semua pendosa, namun tidak sekalipun Dia menyatakan dukungan atas legalisasi perbuatan dosa. Mengasihi tidak selalu setara dengan mendukung. Ada kalanya, mengasihi justru terwujud dalam bentuk tidak mendukung.

Maka, kekristenan sebenarnya tidak berfokus kepada menjadi gerakan humanis. Kekristenan berbicara tentang perubahan hidup yang diakibatkan oleh kasih karunia Tuhan. Kalau hanya sekedar perbuatan baik, semua aliran dan ajaran menunjukkan itu. Tapi perubahan hidup yang nyata dan signifikan? Hanya Kristus yang sanggup mengerjakannya. Harusnya itulah yang kita suarakan lebih keras.

 

“Ini bukan soal dukungan, ini soal penerimaan tanpa syarat, seperti yang Yesus lakukan…”

Ya, saya setuju. Penerimaan adalah pendorong terjadinya pemulihan. Penerimaan adalah bagian tak terpisahkan dari Kasih Kristus yang harus kita tunjukkan kepada dunia.

Tapi, kadangkala konsep penerimaan kita berbeda-beda. Bagi saya, penerimaan Kristus itu seperti penerimaan seorang ayah kepada anaknya. Seorang ayah yang benar, apapun yang terjadi dengan anaknya, dia tidak pernah menolak anaknya. Meski anaknya bandel dan bermain api, sang ayah tidak pernah “memecatnya” sebagai anak. Sang ayah tetap menerima anak itu apa adanya. Tapi, sebagai ayah yang benar, dia tidak akan membiarkan anaknya terus-menerus bermain api.

Sang ayah TIDAK MENGIJINKAN anak itu nyaman untuk terus bermain api karena itu membahayakan dia, bukan karena sang ayah minta semua perintahnya dituruti. Pikiran sang ayah adalah MENGAMANKAN dia.

Begitu pula dengan Kristus, Dia tidak ingin kita tinggal dalam dosa karena dosa merusak hidup kita. Dia memang menerima kita apa adanya, namun Dia tidak bisa membiarkan kita tinggal dalam dosa.

Sementara, penerimaan yang diharapkan oleh dunia adalah “Kalau kamu memang benar-benar menerimaku apa adanya, kamu harus membiarkan aku melakukan apapun yang aku suka”. Itu bukanlah penerimaan, itu adalah sebuah kondisi “menyerah”.

Jika kita memang menerima pendosa, justru kita tidak bisa membiarkan mereka menikmati dan larut untuk hidup dalam dosa. Justru ketika kita membiar-biarkan mereka, sesungguhnya kita sudah menyerah atas mereka dan “melepas”kan mereka, bukan menerima mereka. Itu sebabnya, penerimaan tidak selalu berarti sebuah persetujuan. Seorang ayah tidak selalu menyetujui kemauan anaknya, namun bukan berarti ayah itu berhenti menerima anaknya dengan sepenuh hati. Justru karena penerimaan sang ayah yang utuh itulah, dia men”tega”kan dirinya untuk tidak selalu menyetujui semua keinginan anaknya.

One thought on “Gay Marriage: My Personal Opinion

  1. btul…sekeliling saya byk kaum gay dn pendukung ektrem kaum gay….rata2 mreka py latar blkg kluarga yg bermslh…. jd sypun tdk percaya bhwa gay adlh gen….#lol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *