Gay Marriage: My Personal Opinion

“SAYA DILAHIRKAN SEPERTI INI”

po8

Sama seperti kita lahir sebagai orang asia, berkulit kuning, rambut lurus, bermata belok, begitu pula saya dilahirkan sebagai seorang gay. Setidaknya, itulah yang diyakini kebanyakan orang yang mendukung gay marriage.

Sekali lagi, sudut pandang saya, aktifitas seksual sesama jenis adalah sebuah tindakan dosa. Jika Anda berkata, seseorang lahir dengan gen untuk menjadi begitu. Maka, Anda sama saja dengan menyetujui bahwa ada orang yang lahir dengan gen sebagai pembunuh, gen sebagai tukang tipu, gen sebagai pemerkosa, dan gen sebagai koruptor.

Jika Anda menyetujui pernyataan di atas, maka kita harusnya melegalkan semua aktifitas apapun, entah itu aktifitas baik maupun aktifitas “dosa”, atas nama gen. Karena, bagaimana kalau pemerkosa berkata “saya memang dilahirkan begini, ini bukan pilihan hidup saya”, bagaimana kalau koruptor berkata “saya memang sudah dari sananya begini, saya nggak memilih untuk jadi begini”. Atau bagaimana kalau pembunuh berkata, “saya memang sudah memiliki gen pembunuh, bukan mau saya jadi pembunuh”.

Saya bukan peneliti.  tapi saya penasaran, berapa banyak orang yang sejak lahir, dalam keadaan keluarga yang harmonis, baik-baik saja, tidak pernah ada terjadi penyimpangan mental, emosional, spiritual, maupun fisik dalam pola asuh orang tua. Berada dalam lingkungan sosial, ekonomi, dan moral yang sempurna, yang lalu sejak lahir sudah memiliki kecenderungan kuat untuk menjadi gay?

Karena (setidaknya saya pribadi), beberapa kali berjumpa dengan orang yang sekarang menjadi gay, sebelumnya sama sekali straight. Atau, saya juga mengetahui cukup banyak orang yang menjadi gay karena lingkungan, pola asuh, dan masa lalu yang “traumatis”. Amat sangat jarang sekali, orang yang lahir dan besar dari lingkungan yang sangat “sehat”, sejak awal menunjukkan kecenderungan gay.

Kalaupun ada, jumlahnya amat sangat kecil, dan itupun harus sekali lagi diteliti, benarkah secara sosial, mental, emosional, finansial, dan fisik, tidak pernah terjadi hal-hal yang traumatis?

Setelah 8 tahun mempelajari tentang perilaku emosional manusia, saya menyadari bahwa manusia bisa melakukan apa saja (secara unconsciously), hanya demi bertahan hidup. Bahkan hardware otak kita, begitu canggihnya, bisa memerintahkan tubuh kita untuk melakukan atau menjadi nyaris apa saja demi bertahan hidup dari ancaman-ancaman yang ada (baik ancaman fisik, mental, maupun emosional).

Sedikit kejadian traumatis (yang bagi orang lain belum tentu traumatis), bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang sangat berbeda. Bukan tidak mungkin pula, menjadi gay adalah bagian dari mekanisme bertahan hidup terhadap “sesuatu” yang pernah terjadi.

Cobalah membaca salah satu referensi ini, siapa tahu menambah sudut pandang kita:
http://www.trueorigin.org/gaygene01.php

Kalau toh iya, ada yang namanya “gen gay”. Maka saya (secara pribadi) meyakini, karena semua manusia sudah “terinfeksi” dosalah yang memungkinkan itu terjadi (bukan karena Tuhan merancangkan sejak awal seperti yang dibilang Lady Gaga). Itu sebabnya, saya sungguh sangat yakin KELAHIRAN BARU dalam kasih karunia Kristus, sanggup menjadi jawaban.

One thought on “Gay Marriage: My Personal Opinion

  1. btul…sekeliling saya byk kaum gay dn pendukung ektrem kaum gay….rata2 mreka py latar blkg kluarga yg bermslh…. jd sypun tdk percaya bhwa gay adlh gen….#lol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *