Gua (Bukan) Cina! – Secuil Harapan Kepada Anies Baswedan

avatar150Tulisan ini didorong oleh status Facebook teman saya Amanda Tandiary, yang menceritakan ketika ia berangkat kerja menuju kantornya dengan mengendarai motor lucu kebanggaannya itu. Di tengah jalan, seorang supir angkot memacu kendaraannya mendahului Amanda sambil berteriak “Woy Cina Minggir!”. Ungkapan kekesalan itu muncul lantaran angkot itu terhalang oleh motor teman saya ketika dia ingin ber”cepat-cepat.

Kejadian seperti ini mungkin sudah menjadi “biasa” bagi sebagian besar kaum Tionghoa di Indonesia. Padahal, menurut saya ini masihlah kejadian yang luar biasa bagi sebuah negeri yang sudah merdeka 70 tahun dan yang membuat ironis, kemerdekaan itu diraih, diusahakan, dan diperjuangan dengan keringat, darah, dan (mungkin puluhan hingga ratusan ribu nyawa yang terkorban) yang semuanya terdiri dari beragam suku dan etnis.

Kalau ditanya, Indonesia ini siapa yang mendirikannya? Kita semua yang tahu sejarah akan sangat kesulitan menjawabnya. Karena, seluruh etnis dan suku yang mendiami negeri ini turut menyumbang andilnya. Termasuk orang-orang yang tadi dibilang “cina” itu.

Saya sendiri. Sejak TK sampai SMA sudah berulangkali menerima perlakuan dan perkataan sinis semacam itu. Saya masih ingat betul ketika saya bermain di halaman rumah saya (waktu itu saya masih berusia 5 tahunan) dan kemudian lewatlah beberapa anak-anak sebaya saya yang kebetulan adalah suku jawa (saya tidak mau menyebutnya sebagai pribumi karena saya merasa saya juga adalah pribumi).

Segerombolan anak-anak itu berteriak dengan wajah mengintimidasi dan bahasa tubuh yang seolah ingin mem’bully saya “Hei Cina! Sini kamu cina!” Tentu saja reaksi normal saya adalah berlari cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan sayup-sayup saya bisa mendengar tawa anak-anak itu.

Sejak kejadian itu, pikiran polos anak-anak saya berkecamuk dalam kepala, “Emang kenapa ya mereka begitu? Emang kenapa kalau saya Cina?”

Ketika saya bertumbuh makin dewasa, saya semakin “terbiasa” (maksudnya bukan menjadi tidak tersakiti karena biasa, melainkan sudah berulang kali menerima perkataan semacam itu, sehingga kejadian luar biasa itu menjadi kejadian yang sudah biasa terjadi.)

Saya masih ingat ketika saya sekolah di SMP negeri.  Dalam satu kelas, hanya ada 2 orang yang kebetulan bersuku Tionghoa. Saya dan satu teman pria saya (yang memang amat jauh lebih sipit dari saya *lol*). Saat itu, sedang ada Porseni (semacam kompetisi olahraga antar kelas). Lalu, wali kelas saya, dengan sepihak dan tanpa “demokrasi” menunjuk saya dan teman sipit saya itu untuk menyumbang konsumsi bagi seluruh anggota kelas, yaitu berupa air mineral dan snack.

Kejadian itu sungguh membuat saya bertanya-tanya. Kenapa harus saya dan teman saya itu? Kenapa tidak ada pembicaraan dan diskusi? Padahal, kalau dilihat, dalam satu kelas yang ekonominya bagus dan layak menjadi donatur ada beberapa orang. Apakah karena saya “cina” lalu diasosiasikan bahwa kami pasti kaya?

Rupanya perilaku para guru yang notabene harusnya menjadi pasukan garda terdepan dalam mengajarkan mengenai kebhinekaan dan persatuan, justru malah menjadi role model pendidikan bahwa rasisme dan pembedaan memang adalah bagian tak terpisahkan dari kultur bangsa ini. Bayangkan, jika ratusan sekolah dan ribuan guru melakukan “hal-hal kecil” ini setiap hari di kelas-kelas dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Guru yang mendapat kehormatan untuk “digugu dan ditiru” itu sudah meneladankan sesuatu yang justru mengkhianati kemerdekaan itu sendiri dan memundurkan semangat perjuangan seluruh pendiri bangsa kita.

Belum lagi kisah istri saya ketika dia SMA dan lagi-lagi kebetulan bersekolah di sekolah negeri yang satu kelas hanya ada segelintir siswa Tionghoa.

Guru PPKNnya pernah berkata kepadanya (kurang lebih), “kamu itu Cina, walaupun kamu pinter dan belajar, nilaimu gak akan mungkin tertinggi di kelas ini!” Seolah-olah nasibnya sudah ditentukan oleh sang guru bahwa apapun yang dilakukan, tidak akan ada kesempatan bagi “orang cina”.

 

DARI MANA SEMUANYA INI?

Kini, setelah saya benar-benar dewasa. Setelah saya merasa sudah lebih sanggup memberikan pemaknaan yang lebih luas. Saya baru kemudian semakin tergugah. Bagaimana caranya anak-anak usia 5 tahunan (yang mengganggu saya di kisah awal saya), tahu soal istilah “cina” dan punya bahasa tubuh yang begitu intimidatif, padahal baru pertama kali mereka berjumpa dengan saya?

Bagaimana teman SMP saya mengancam saya sambil menarik kerah baju saya “Lu Cina, kalo gak mau kasih contekan awas lu!”?

Dan sejuta kisah-kisah lainnya yang lebih memilukan?

Saya yakin sekali, waktu Indonesia didirikan, jelas bukan semangat dan jiwa semacam ini yang dibawa dan dijadikan landasan negara ini.

Saya mulai menyadari bahwa “kebencian” ini menyusup justru melalui PENDIDIKAN. Bagaimana orang tua mendidik anaknya dan bagaimana para guru bersikap. Sebagai orang yang belajar soal manusia, psikologi, dan perkembangan emosi manusia bertahun-tahun, saya menyadari, tidak ada yang lebih kuat pengaruhnya ketimbang orang tua dan guru (orang yang dianggap pendidik).

Pola emosi dibentuk sejak kecil. Mustahil seseorang punya kebencian kepada seorang individu yang baru saja ia jumpai, kecuali, pola emosi benci itu memang sudah dibentuk sejak ia bahkan belum tahu apa arti kebencian itu sendiri.

Ketika anak-anak ini melihat bahwa orang tua dan guru-guru mereka “legal” dalam melakukan pembedaan dan penekanan kepada kaum minoritas tertentu, maka mereka dengan cepat segera belajar bahwa ketika mereka berada di pihak mayoritas mereka berhak untuk melakukan hal yang sama.

Tidak heran, meski Indonesia sudah berganti generasi beberapa kali, budaya dan kebiasaan rasis dan pembedaan ini masih saja terjadi disana-sini.

Ini pula yang kemudian membuat saya mengerti mengapa banyak sekali rekan-rekan saya yang sudah pernah tinggal di luar negeri (terutama negeri yang memang penuh keberagaman dan tingkat rasisnya minim), ketika kembali ke Indonesia, mereka merasa sangat “muak” dengan keadaan ini.

Salah satu peserta workshop menulis saya, pernah menceritakan keinginannya untuk menulis buku soal keberagaman. Hal ini didorong oleh pengalamannya ketika berada di Cina dan Australia dimana begitu beragam suku etnis yang ada disana. Bahkan tim nasional berbagai cabang olahraga mereka, diisi oleh beragam etnis, mulai dari Cina, Vietnam, Korea, India, dan tentu saja etnis “Barat”. Tapi mereka semua menyebut diri mereka Australia.

Namun, di kelas menulis ini, peserta saya mengungkapkan keengganannya untuk menjadikan ini buku karena dia khawatir masyarakat Indonesia belum bisa menerima hal-hal seperti ini. Tentu saya saya dan hampir seluruh peserta kelas kami mendorong keras dan memberinya keberanian untuk tetap mewujudkan buku ini. (if you read this Cecilia Liando, you should finish your writing!)

Di luar negeri bukannya tidak ada rasis. Seperti rekan saya Andrew Ardianto berkata, selalu ada orang-orang rasis dimanapun tempatnya.

Hanya saja, saya tidak rela jika itu ada di Indonesia yang saya cintai, tidak rela pula jika itu terjadi di Jakarta yang adalah ibu kota negera yang terkenal dengan masyarakatnya yang heterogen, dan saya lebih tidak rela lagi jika itu terjadi di rumah-rumah yang dilakukan oleh para orang tua saat mengajari anaknya. Dan yang lebih gila lagi, yang membuat saya benar-benar tak bisa menerimanya, jika itu terjadi di sekolah-sekolah dan dilakukan oleh para guru! Para pendidik mulia.

 

HUBUNGANNYA SAMA ANIES BASWEDAN?

Disinilah harapan saya taruh kepada sosok Anies Baswedan. Meski saya tidak memilihnya di Pilkada lalu. Tapi, karena dia sudah nyaris pasti akan menjadi gubernur berikutnya. Bukan tanpa alasan saya meletakkan pengharapan saya ini kepadanya.

Pertama, karena dia akan menjadi gubernur ibu kota negara yang menjadi barometer dan prototype seluruh kota lain di negeri ini. Kedua, karena seperti yang selalu didengungkan Pandji Pragiwaksono dan seperti janjinya sendiri bahwa dia akan “merangkul” semua pihak untuk berjalan bersama dan menjadikan keberagaman dalam persatuan sebagai warna Jakarta. Ketiga, karena selama bertahun-tahun dia dikenal sebagai salah satu sosok yang “pendidikan banget”.

Saya berharap selama 5 tahun ke depan, di Jakarta, tidak ada lagi supir metromini yang akan meneriaki teman chubby saya itu dengan kata-kata rasis. Saya berharap, tidak ada lagi guru-guru yang mengajarkan pembedaan dan rasis dalam sikap-sikap mereka di sekolah. Tidak ada lagi sebutan-sebutan sinis yang disematkan berdasarkan kesukuan, warna kulit, dan perbedaan. Saya sungguh berharap, 5 tahun lagi ketika Anies Baswedan menyelesaikan periodenya memimpin, kita akan menemukan masyarakat Jakarta yang dengan bangga menyebut dirinya orang Indonesia, dan dengan bangga pula menyebut saudaranya yang berbeda suku dan warna kulit sebagai sesamanya orang Indonesia juga.

Saya berharap, tidak ada lagi ketakutan bagi yang minoritas dan tidak ada lagi arogansi intimidatif atau sikap semena-mena bagi mereka yang kebetulan menjadi mayoritas.

Saya tahu mungkin bagi sebagian orang, harapan saya ini konyol dan mungkin adalah harapan yang nyaris sulit menjadi kenyataan. Tapi, harapan saya ini bukan tanpa dasar dan bukan hanya berdasar “iman buta”.

Harapan saya masih ada karena membaca dan mengetahui bagaimana Indonesia ini dulunya dibangun. Berkali-kali dalam kesempatan ketika saya diminta menjadi pembicara seminar atau training di perusahaan-perusahaan, saya selalu berkata dengan bangga, “Indonesia tidak dibangun oleh koruptor!”

Perkataan saya ini muncul karena saya pernah membaca kisah ketika Bung Hatta rela konflik dengan istrinya dan perang dingin beberapa hari lantaran ia merahasiakan keputusan negaran untuk memotong nilai mata uang negara dari istrinya. Padahal Bung Hatta tahu istrinya sudah menabung lama untuk membeli mesin jahit, sehingga ketika terjadi pemotongan nilai mata uang, pupuslah harapan istri Bung Hatta untuk membeli mesin jahit.

Istri Bung Hatta marah karena harusnya suaminya sebagai wakil presiden tahu jauh-jauh hari bahwa ini akan terjadi, setidaknya jika Bung Hatta membocorkan informasi ini kepadanya, dia bisa meminjam uang dulu untuk menutupi kekurangan dan buru-buru membeli mesin jahit. Tapi Bung Hatta sama sekali tidak berniat melakukan itu karena baginya itu rahasia negara.

Indonesia itu aslinya keren banget. Para pahlawan dan pendiri bangsa kita itu, serius, keren banget. Dan saya juga yakin sekali bangsa ini didirikan dengan semangat persatuan yang membanggakan dan memukau. Makanya ada yang namanya Sumpah Pemuda dan makanya slogan “Bhineka Tunggal Ika” bertengger di cengkeraman Sang Burung Garuda, lambang kebanggaan kita.

Bangsa kita tidak dimulai dengan rasisme dan pembedaan. DNA kita BUKAN ITU! Itulah yang membuat saya masih punya harapan.

Apalagi ketika Pandji dalam tweetnya berkata bahwa ia tidak yakin Ahok sanggup menunaikan tugas mendidik warga Jakarta untuk menghargai keberagaman. Pandji yakin Anieslah orang yang paling mampu dan bisa. Maka, sekarang harapan saya (dan mungkin juga harapan banyak orang) beralih kepada sosok yang mungkin bisa saja lebih mampu.

 

APAKAH SAYA BENAR-BENAR CINA?

Sebagai penutup. Bagi Anda yang kebetulan bukan orang Tionghoa atau yang merasa diri Anda adalah “pribumi”. Izinkan saya mengungkapkan apa perasaan dan pendapat saya yang mungkin bisa jadi mewakili banyak orang Tionghoa lainnya di Indonesia.

Meski mungkin ada yang membaca ini sambil tertawa leceh dan berkata “gua gak peduli apa perasaan dan pikiran lu!”

Tapi, since ini adalah blog saya, ya saya dengan cuek hati akan tetap curcol.

Sejak saya kecil sampai detik ini. Saya tidak pernah merasa diri saya orang Cina. Itu sebabnya sejak kecil saya selalu bingung kalau ada orang memanggil saya “Hai Cina!”. Seriusan, yang saya lakukan ketika pulang adalah memandang diri saya di depan cermin sambil kebingungan, “kenapa saya dipanggil cina?”

Saya lebih fasih berbahasa Jawa dan Indonesia daripada berbahasa “cina”. Logat bicara saya Jawa banget, bukan cina banget. Memang saya suka Chinese food, tapi saya juga suka rawon, pecel, soto dan banyak Indonesian food sebesar saya menyukai Japanese food, western dan Chinese food.

Dan bahkan, ini curahan hati jujur saya. Ketika saya berkesempatan berkunjung ke Cina dan sempat beberapa hari disana. Jujur saja, saya tak betah. Dan bahkan saya berkata kepada istri saya, “Saya tidak terima kalau saya dibilang orang Cina!” Lantaran saya merasa cara mereka hidup dan berperilaku “bukan gua banget”

Bahkan, mama saya pernah berkata, “kamu dalam hidup harus pernah satu kali pergi ke Cina, karena disanalah leluhurmu. Kamu waktu kesana akan terasa berbeda, seolah-olah itu kampung halamanmu”

Saya tidak tahu dengan orang lain. Tapi ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Shenzhen, saya memang langsung berasa berbeda. Bedanya, saya merasa “kayaknya ini bukan tempat saya deh…”

Detik ini, saya jelas tidak mau disebut “orang cina”. Kepergian saya ke Shenzhen semakin meneguhkan bahwa saya bukan orang cina.

Jadi, jangan paksa saya untuk mengubah identitas saya sebagai orang Indonesia. Saya lahir di negeri ini. Berbicara dengan bahasa negeri ini. Makan nasi hasil tanah negeri ini. Saya orang pribumi. Saya orang Indonesia.

Saya bukan Cina…


by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

15 thoughts on “Gua (Bukan) Cina! – Secuil Harapan Kepada Anies Baswedan

  1. Pertama-tama saya minta maaf atas perlakuan saudara-saudara kita yang mengaku pribumi tersebut. Jati diri kita bukan apa yang tertangkap oleh indera, tapi apa yang ada di hati dan di jiwa. Orang yang berkulit sawo matang, bermata belok, dan lahir di Indonesia pun belum tentu “Indonesia”.

    Tapi kalau saya boleh mencoba menjelaskan kenapa bisa seperti ini, tentu tak ada asap tanpa api. Biang keroknya tentu saja adalah kebijakan pemerintah kolonial yang menempatkan keturunan Arab, Cina, India dll di atas kaum pribumi, pun di bawah kaum Eropa. Sayangnya, sampai sekarang pun masih ada kaum keturunan (bukan cuma Tionghoa) yang memandang rendah kaum pribumi dan tak sudi berbaur. Segala upaya dijalani, dari menempatkan anak di sekolah khusus sampai mewanti-wanti anak agar tidak mengawini pribumi. Sekali lagi, ini bukan cuma Tionghoa-Indonesia, yang lain pun sama.

    Akan tetapi jurang yang memisahkan Tionghoa Indonesia dengan kaum pribumi yang paling jelas. Mungkin karena sebagian besar Arab-Indonesia sadar bahwa darah mereka toh sudah bercampur juga dengan negeri ini. Mungkin karena jumlah India-Indonesia terlampau sedikit. Tapi mungkin juga karena banyak Tionghoa Indonesia yang tak sungkan menunjukkan superioritasnya. Mungkin bukan Anda, tapi tidak mungkin kalau Anda tidak tahu hal ini. Di kalangan keluarga atau teman Anda tentu jamak yang suka menghujat tiko, tibo, fankui, atau huana.

    Saya sebagai “pribumi” mengaku bahwa banyak kaum kami yang masih rasis dan tak segan membela kaum keturunan. Sayangnya saya tidak melihat ini pada kaum keturunan. Banyak yang mengeluh dan menyalahkan kaum “pribumi”, dan memang wajar, tapi jarang yang mengakui kesalahan kaumnya sendiri.

    Saya penggemar Arok meski bukan warga Jakarta. Saya merasa malu akan perlakuan kaum “pribumi” terhadap beliau dan saya selalu vokal menyuarakannya. Akan tetapi ketika ada oknum keturunan yang mengumpat dengan hate speech, teman-teman keturunan saya diam seribu bahasa. Terus terang saya kecewa.

    Bangsa KITA hanya akan bisa maju kalau kita belajar dari kesalahan dan mau melangkah bersama-sama. Saya percaya kepada Anda, jadi saya harap Anda mau mendengarkan curhat saya dengan pikiran terbuka.

    Salam satu IndONEsia

    • Banget banget..lebih lebih dalam memperlakukan pembantu rumah tangga..ampuuunnn..masih lebih layak dia memperlakukan anjing peliharaannya…pernah juga sering malah, memperlakukan pengemis yg memasuki toko mereka, kasihnya sebutir uang logam yg paling kecil nominalnya, dengan body language najis jijik dan tak melirik..iissshhh…seolah olah negara ini nenek moyangnya punya..tidak semua siihh…tapi pernahkah kalian sadari, orsng yang melihat saja bisa teriris miris…jadi melihatnya harus adil..ada KENAPA pasti ada KARENA…jadi terlihat wajar kaan…????

      • apanya yang banget banget ya?
        by the way, kasus yang Anda ajukan (masalah perlakuan ke pembantu rumah tangga & pengemis), apakah hanya dilakukan oleh orang Tionghoa, atau juga dilakukan oleh suku dan etnis lain? Jangan-jangan kita sedang melakukan generalisasi dan labelling? Banyak teman-teman Tionghoa saya yang memperlakukan pembantunya seperti keluarga sendiri. Bahkan keluarga istri saya, memperlakukan benar-benar seperti keluarga. Kalau soal pandangan ke pengemis, come on… Yakin cuma orang Tionghoa yang melakukannya?

        Ini bukan soal membela kaum / suku / ras tertentu. Ini soal cara pandang kita dalam melihat sesuatu.

        Lagian, kalau pola berpikir kita: “karena saya dijahatin, makanya wajar kalau saya jahatin balik” maka kebencian akan selalu menjadi bagian dari budaya berbangsa kita dong?
        Kalau kita menerima perlakuan buruk, itu bukanlah alasan untuk kita punya hak memberikan perlakuan buruk kepada orang lain. Apalagi kepada orang yang bahkan kita tidak kenal (hanya lantaran kebetulan sukunya sama / penampilannya mirip)

        Bayangkan kalau suatu hari seseorang yang tak dikenal mendatangi Anda lalu menampar Anda dan kemudian ketika Anda bertanya, “kenapa?” Lalu orang itu menjawab “Karena kamu satu suku dengan orang yang pernah menampar saya!” Masuk akal?

    • terima kasih pak hari untuk curahan hatinya yang bijak 🙂

      saya setuju bahwa pengkondisian di masa kolonial sudah membentuk budaya berpersepsi. tapi, bukankah NKRI berdiri untuk menghapuskan “pengkastaan” semacam itu? Karena itulah perjuangan untuk persatuan dimulai karena melihat adanya pembedaan yang tidak manusiawi.

      tapi, saya juga tidak menampik bahwa adanya orang-orang Tionghoa yang juga perilaku dan perkataannya “ngawur”, tentu saja saya juga tidak setuju dengan semua itu. Kalaupun misalnya, kasusnya adalah teman saya orang suku jawa yang kemudian diteriaki rasis oleh orang Tionghoa, tentu saja saya juga tidak akan setuju dan pasti terdorong untuk menulis artikel yang senada. Karena poin utamanya memang sebenarnya bukan hanya sekedar masalah Tionghoa-Indonesia seperti yang pak Hari bilang, tetapi juga lebih kepada bagaimana kita bisa hidup dalam keragaman tanpa perlu saling membenci satu sama lain sehingga terekspresi dalam bentuk-bentuk yang merendahkan sesama kita.

      salam persatuan pak hari 🙂

  2. Saya Jawa asli…tapi orang seringkali nyangka saya cina. Mungkin karena mata saya sipit. Dan biasanya orang yg tidak tahu saya tidak akan percaya dg penjelasan saya. Buat saya tak apa, karena lain kali orang menyangka saya orang Manado, lain kali lagi orang Bandung….akhirnya saya berkesimpulan…alangkah Indonesianya wajah saya…

  3. Itu la kenapa ank2 kami masuk ke skolah yg beragam suku dan agama. Pelajaran agama di sekolah jg sesuai dgn yg di anut. Agar tidak terlihat perbedaan di antara mereka. Dan kami sll ngajarkan agar berbuat baik la dgn siapa pun. Krn saya tau pendidikan keluarga itu sangat berpengaruh terhadap mental ank2. Berbeda dgn pengalaman kecil saya. Bapak ibu kami sll berusaha unk menyekolah kan kami di skolah swasta. Walaupun kami harus membayar mahal waktu itu. Dgn alasan resiko di bully lebih kecil. Kisah josua wahyudi sama persis yg saya alami. Sampai di pilkada dki, dari kampanye, debat pilkada sampai di penghujung pilkada. Saya sangat sedih. Walaupun saya bukan warga jakarta, dan saya hanya bisa melihat pesta demokrasi lewat tv dan sosmed. Iya…saya prihatin dan berdoa semoga indonesia bisa trs maju menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Yg sebenarnya saya ingin sekali jakarta maju seperti Hongkong.
    Salam persatuan

  4. saya adalah seorang perempuan keturunan Sunda Papua. Tetapi wajah Papua sy lebih menonjol. Membaca artikel ini membawa ingatan saya pada waktu saya lahir, bermain, bergaul, bersosialisasi, bersekolah dan bekerja di Pulau Jawa. sungguh alangkah susahnya menjadi ‘berbeda’. saya mengalami penolakan, di beda”kan sudah menjadi makanan sehari – hari. walaupun saat SMA saya juara kelas, tetapi karena kulit saya hitam dan rambut saya keriting, saya tidak memperoleh beasiswa penuh. pada masa mencari pekerjaan serasa mencari emas, susah banget. sekalinya dapat selalu di underestimate, saya tidak mampu, kalah saing, ‘ kotor’ karena saya hitam. saya akhirnya memutuskan untuk mencoba bekerja di Papua. tetapi.. (ini bukan mendramatisir) setiap hari saya selalu rindu Kota kelahiran saya. tidak satu hari pun saya lewatkan tanpa menelfon mama hanya untuk berbincang menggunakan bahasa sunda. jadi sebenarnya apa yang salah dengan saya? saya juga tidak meminta dilahirkan dengan ‘perbedaan’ yang nanti mebuat oran yang melihat saya deengan tidak nyaman dan menganggap saya satu kekurangan yang harus “disingkirkan”. sadar atau tidak, hal ini di biarkan turun temurun dan menjadi ‘akar pahit’ dari generasi ke generasi. saya sangat setuju, PENDIDIKAN formal atau non formal harusnya menanamkan akar ke Bhinekaan. coba bayangin, emangnya mampu yah hidup sendiri tanpa perbedaan? lah wong makan saja harus ada sayur lauk pake sambel kerupuk. emang mau seumur hidup makan nasi saja atau jagung saja?. Terima kasih bang Josua. Artikel ini membuka pemikiran saya, saya seorang Kristen, dalam ajaran agama saya menekankan Kasih. saya sudah memaafkan orang’ yg dengan sengaja membully saya, dengan tidak membalas. salam Damai Bhineka Tunggal Ika.

  5. Saya orang jawa, tapi ada keturunan belanda diatas mama kakek, sehingga (mungkin krn kulit saya putih) banyak juga yg mengira saya chinese meski mata saya belok, pun termasuk dr kaum keturunan chinese totok pun ga sedikit yg mengira saya chinese. And sama hal nya dgn Vincentia siti diatas, lain kali juga saya dikira padang atau manado. Kecuali mulut saya sudah speaking, baru deeh ketauan jawirr krn “medhok” – Lol. Lain kali ada yg ngira ada turunan Arab or india krn hidung sy mancung, pdhal mreka salah semua 😀 Sedikit menyampaikan kesamaan, saya setuju dengan pak Hari diatas, saya kadang miris juga, memang iya, ada segelintir keturunan tionghoa yg mereka “rasis sendiri” ini pengalaman pribadi saya, beberapa teman saya spt itu. Mereka nggak suka dibeda2kan, digolong2kan, dipanggil “Cina” tapi mereka menspesialkan dan merasiskan diri mreka sendiri, seringkali tak mau berteman dgn pribumi (org indo diluar ras mereka) dan nggak memperbolehkan pribumi masuk group WA mereka misal, dgn alasan membernya chinese semua. Ada juga segelintir yang cenderung menganggap rendah ras diluar merekan spt underestimate. Betul, kita harus timbal balik, memerangi ini bersama sama. Harapan saya sama semoga pak Anies bisa. Rupanya beliau adalah anak kandung mantan dosen saya, Ibu Prof DR Aliyah Rasyid Baswedan, meski saya 2 x putaran ini abstain, sy Ktp Dki dan kemarin misal memilih, bukan milih Anies :-p Tapi gimana lagi org dia yg menang, jd 5 thn dr sekarang mmg betul tggjawab dia mengelola serta memajukan Jakarta. God bless u all

    • Terima kasih untuk sharingnya,

      Saya setuju sebagian orang Tinghoa juga rasis. Tentu saja semua suku punya orang-orang rasisnya masing-masing. Tapi memang kita harus memotong mata rantai kebencian ini bersama-sama.

      Jangan sampai kita melakukan generalisasi dan memusuhi individu-individu lain yang belum kita kenal lantaran mereka kebetulan sesuku dengan orang yang pernah rasis pada kita. 🙂

  6. Sekarang sy tanyakan, mengapa warga keturunan Cina enggan utk menikah dgn non keturunan? Teman sy yg warga keturunan pun mengaku bahwa sejak kecil diajarkan orgtuanya bahwa mereka lbh tinggi derajatnya dibandingkan yg non keturunan. Krn nya mereka tdk ingin merusak keturunan mereka dgn percampuran dr ras lain. Sebenarnya rasis itu ada dimana2 termasuk minoritas dan mayoritas. Jadi drpd mengkritik, mari berkaca diri, apakah msh ada sifat membeda2 kan diantara kita masing2? Atau kah kita benar sdh menganggap semua manusia sama rata ?

    • Seperti jawaban saya kepada Eliz Meyra.
      Memang semua suku punya orang rasisnya masing-masing, tapi apakah kemudian itu menjadi alasan pembenaran untuk kita bersikap rasis?

      Lalu, soal menikah, apakah no racism = harus menikahi suku lain? Menurut saya gak ada hubungannya ama soal menikah. Kalo liat cerita2 sejarah, Pernikahan beda etnis justru sering dipake sebagai metode politis untuk menguasai sebuah “wilayah” ketimbang bentuk ekspresi no racism.

      Rasis itu soal sikap hati yang terekspresi dalam bentuk sikap, kalo urusan menikah ya soal chemistry & kesepakatan bersama aja, makanya kalo yg chemistrynya udah dapet & bisa sepakat bersama, ada tuh orang-orang Tionghoa yang menikah sama Batak, Jawa, bahkan NTT. Lha kalau semua orang Tionghoa disuruh nikah sama suku lain sebagai bukti no racism, masuk akal?

      Lalu, tulisan saya lebih bersifat ungkapan hati dan harapan, dimana letak mengkritiknya?

      Kadang-kadang, ketika kita menerima sebuah informasi dengan sudah memiliki persepsi sebelumnya, maka informasi tadi bisa saja ditangkap berbeda maknanya dengan yang sesungguhnya

  7. Kalau saya ingat ingat. Sejak kecil sampai sekarang hidup 20 tahun lamanya. Saya selalu menghindari orang yang menyebut diri mereka pribumi. Saya selalu sekolah di sekolah Katolik (meskipun saya Kristen), yang orang muslimnya bisa dihitung dengan jari. Dari TK hingga SMA. Saat SMA kepala sekolah saya bertanya “kenapa kamu gak coba masuk universitas negeri?”. “Oh engga pak, saya gak mau masuk negeri”. Saya juga bingung sendiri, sampai akhirnya saya sadar. Embel embel negeri itu selalu saya takuti. Karena pandangan saya, sekolah negeri itu gak enak. Saya akan jadi minoritas yang pasti dikucilkan. Saya sadar kalau saya melihat murid sekolah pakai rok panjang, saya menghindari mereka.
    Bisa dibilang saya lebih mirip orang pribumi dari segi fisik, gak sipit berkulit sawo matang. Yang bisa dibilang gak cina cina amat. Saya merasa beruntung, karna gak ada yang berteriak Cina ke saya. Seringkali saya kenalan dengan orang baru yang muslim, mungkin mereka kira juga saya muslim. Lalu ketika saya kelepasan ngomong istilah yang merujuk ke cina cinaan “Ntar ya CICI gue nelpon”. Reaksi mereka akan “EMANG LU CINA?” Memang lucu rasanya untungnya orang disekitar saya nggak membeda-bedakan. Apalagi setelah kuliah. Meskipun di universitas swasta, mau orang cina atau pribumi sama sama belajar bareng dan main bareng

  8. Maaf mas, yang dipanggil “cina” ga hanya mas aja, kata2 “woi batak sini”, atau woi “padang”, “heh jawa” itu buanyaaak bgt, ya kan emang bener masnya keturunan cina, atau si A keturunan batak, si B keturunan padang, kenapa juga merasa tersinggung ya? Kejadian kayak mas itu ga hanya terjadi sama mas, Coba intropeksi kenapa? Masa sih di internal kalian ga rasis?yakin? Kok saya ga yakin ya?? Ya karna semua suku itu rasis pada dasarnya, ga padang, ga jawa, ga batak, dan rata2 nyaranin Kalo bisa nikah sama sesuku, dan itu ga dimana2 setau saya. Trus kenapa merasa baper? Kata siapa gara2 mas keturunan cina jd dikucilkan? Perasaan aja kali, Lah orang keturunan batak, padang, jawa,papua juga banyak kok dikucilkan dan merasa dibedain dalam pergaulan,so apa bedanyaaaaaah???Please mas jangan membuat tulisan yg memperparah keadaan, saya juga keturunan cina betawi padang, pernah dibedain sama guru dan temen tapi kayaknya bukan masalah ras atau suku deh. Be positive man, Katanya bhineka tunggal ika, lah kenapa sekarang jd pada curhat beginian yaa semuanya… Sadar ga sih kalo nulis2 ginian itu malah memperkeruh keadaan, dengan begini anda sama aja menyalahkan banyak orang termasuk guru2 anda yg ras-nya beda sama anda, jadi intinya yg rasis itu siapa?

    • Mas atau mbak sheba,

      Kalau anda membaca jawaban2 saya di bagian komentar, sudah jelas sekali saya memberi jawaban. Bahwa di setiap suku pasti punya sekelompok orang rasisnya sendiri. Pertanyaannya, kalau semua suku punya rasisnya sendiri, apakah itu artinya kita memperbolehkan sikap rasis itu dilakukan?

      Lagian, kalau anda bukanlah bagian dari orang rasis yang suka membeda2kan orang karena sukunya, kenapa juga anda tersinggung dengan artikel ini? Kan saya tidak mengarah kepada sekolompok suku atau orang? Saya mengarah kepada individu2 yang rasis.

      Dan yang jadi masalah bukanlah soal pengungkapan suku cina atau batak atau jawanya, melainkan menyertakan kesukuan dalam ungkapan kebencian itu yang bermasalah. Dalam kasus di artikel saya. Apa kaitannya urusan suku dengan lalu lintas?

      Kedua, contoh simpel aja. Kalau memang supir angkot itu tidak suka dengan teman saya dan kemudian berteriak “woi minggir lu!” Menurut saya itu lebih mending, daripada “minggir lu cina!”, karena apa hubungannya cina dengan urusan lalu lintas?
      Kalau teman saya kebetulan suku batak dan diteriaki “minggir lu batak!”, saya juga akan menulis artikel yang sama kok, karena problemnya bukan masalah urusan perlakuan ke orang tionghoa, tetapi sikap rasis yang masih terus ada di sekeliling kita.

      Ketiga, darimana anda menyimpulkan bahwa saya baper? Terlalu banyak asumsi yang anda ajukan yang tidak terkonfirmasi sama sekali. Kata-kata “be positive man” juga merupakan sebuah asumsi anda sendiri, karena kalau saya tidak positif, saya tidak akan menaruh harapan pada gubernur yang baru 🙂
      Lagian, kalau anda dibeda2kan bukan karena suku anda, baguslah. Tapi, kalau yang saya alami dalam artikel tersebut, dengan jelas orang2 yang terlibat menyebutkan mereka melakukan itu karena suku saya. Tapi saya masih positif dengan Indonesia, makanya banyak melakukan sesuatu lewat jalur edukasi. Jadi, kurangilah asumsi anda ya mas/mbak 🙂

      Keempat, saya menceritakan pengalaman guru saya karena memang itu sebuah contoh yang salah dalam dunia pendidikan yang harusnya bebas dari rasisme (apakah anda merasa guru saya itu perilakunya benar dan diperbolehkan?). Kalau saya mengungkapkan kenyataan lalu dituduh menyalahkan, berarti sama saja anda juga baru saja menyalahkan saya atas tulisan saya dan menyalahkan saya memperkeruh suasana lewat tulisan saya. Kalau menggunakan cara berpikir anda, saya juga bisa saja menyalahkan anda bahwa anda memperkeruh suasana lewat komentar anda.

      Kelima, masalah menikah sesama suku. Pleaselah, jangan bawa2 urusan pernikahan. Menikah itu urusan chemistry, (ada unsur selera),dan kesepakatan bersama. teman tionghoa saya juga ada yang menikah dengan batak, jawa, bahkan kupang. Banyak pula teman jawa saya menikah dengan suku lain seperti batak, dsb.
      Seperti kata2 anda, kenapa juga merasa tersinggung ya?

      mas/mbak sheba, kalau anda sudah punya presuposisi tertentu saat membaca artikel ini, maka semua kalimat yang ada akan anda tangkap sesuai presuposisi anda.

      Terakhir, kalimat anda “karna semua suku iyu rasis pada dasarnya”
      Lalu? Jadi alasan pembenaran dan pembolehan untuk bersikap rasis?
      Justru karena Indonesia ini tidak dibangun dengan semangat seperti itu mas/mbak sheba, makanya kita mesti menghentikan cara berpikir “ah rasis mah dimana aja siapa aja”, kalau begitu kapan selesainya urusan ini. Be positive ya, masih bisa kok rasisme hilang dari Indonesia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *