Haruskah Tuhan Itu Ada?

Keberadaan Tuhan adalah sebuah perdebatan sepanjang masa.

Dengan berbagai alasan yang dikemukakan, tidak seorangpun sanggup membuktikan bahwa Tuhan benar-benar 100% ada. Sebaliknya, juga tak seorangpun sanggup membuktikan bahwa Tuhan benar-benar 100% tidak ada.

Beberapa orang meyakini, bahwa Tuhan hanyalah sosok ciptaan pikiran manusia semata. Sosok fiktif yang dibuat manusia, untuk menjadi tempat berharap (yang semu) dan sebagai “pegangan hidup” supaya keras dan kejamnya kehidupan, bisa dijalani dengan lebih kuat. Dengan kata lain, tuhan hanyalah hsil usaha dari self defense mechanism (mekanisme bertahan hidup) manusia.

Namun, apakah memang benar demikian? Bagaimana kalau Tuhan bukanlah sekedar tokoh fiktif buatan imajinasi kreatif manusia? Bagaimana kalau ternyata Dia benar-benar eksis dan keberadaanNya yang melampaui ke’natural’an kita membuat kita sulit untuk melacakNya?

Pemikiran tentang Tuhan, mau tidak mau menjadi muncul karena adanya beberapa pertanyaan kehidupan yang entah kenapa, secara naluriah menjadi pertanyaan yang kita ajukan dalam kehidupan.

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah:

  1. Darimanakah asal muasal kehidupan? Siapa / apa yang menciptakan kehidupan pertama?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh anak kecil. “Siapa yang bikin Matahari ma?” adalah salah satu pertanyaan alami yang diajukan oleh anak-anak. Tanpa sadar, ada sebuah misteri yang membuat kita penasaran tentang bagaimana semua kehidupan ini berawal. Mau tidak mau, pemikiran tentang Tuhan muncul disini.

Penjelasan yang meyakinkan soal teori Big Bang dan teori Evolusi, setelah ditelaah, belumlah cukup untuk menjelaskan asal muasal kehidupan, karena ketika kita merunut terus ke belakang, kita akan menjumpai adanya kebutuhan absolut untuk hadirnya sesosok entity yang kekal untuk menjadi “starter” (pemulai) segala sesuatunya. Tanpa adanya sosok ini, asal mula kehidupan menjadi sulit untuk dijelaskan dengan masuk akal. Karenanya, pemikiran akan adanya Tuhan menjadi menguat dimunculkan.

 

  1. Apa tujuan hidup saya? Untuk apa saya ada di dalam kehidupan ini?

Begitu banyak saya jumpai orang yang mempertanyakan tentang makna hidup mereka. Bahkan, setelah sebagian dari mereka memperoleh banyak uang, memiliki harta berlimpah, menikmati kehidupan yang sangat menyenangkan, tetap saja ada waktunya mereka membuka mata di pagi hari, terbangun dengan pertanyaan, “untuk apa ya saya hidup?”

Kita bisa saja membuat-buat tujuan hidup kita sendiri. Tapi bukankah itu berarti, sejak semula berarti kita hadir dengan tanpa ada tujuan yang jelas (sampai kita harus membuat sendiri tujuan kita). Dan, segala sesuatu yang hadir tanpa kejelasan tujuan, menunjukkan akan terjadinya sebuah “kebetulan”. Kalau hidup kita hanyalah sebuah kebetulan (accidental) semata, bukankah hidup kita menjadi tidak terlalu bernilai lagi?

Memang sesuatu yang kebetulan bisa saja memeriahkan dan menambah manfaat. Tapi, di satu sisi, kehadiran yang kebetulan artinya kehadiran yang tadinya tidak diharapkan. Bisa ada, bisa juga tidak ada. Jika demikian makna hidup kita, maka manusia tidaklah perlu dihargai hidupnya, karena toh mereka hanyalah “makhluk kebetulan” saja, yang tiada bedanya dengan binatang, tanaman, atau bahkan juga dengan batu, pasir, dan debu. Boleh ada, boleh tidak. (Kalau begitu, pembunuhan menjadi hal yang “tidak salah” kan?)

Kehadiran Tuhan menjadi urgent dan tak bisa ditawar karena kehadiranNya akan menjadi alasan masuk akal mengenai apa makna kehidupan manusia.

  1. Mana yang benar dan mana yang salah?

Entah kenapa, manusia selalu berkutat untuk memisahkan apa yang benar dan apa yang salah. Bahkan orang yang paling liberal sedunia sekalipun, masih memiliki pemisahan apa yang benar dan apa yang salah. Misteri soal moralitas ini, membuat kita mau tidak mau harus menghadirkan Tuhan kembali sebagai Sang Peletak “Hukum”.

Tanpa adanya Tuhan, maka kebenaran menjadi relatif, yaitu tidak ada yang sungguh-sungguh benar dan salah, semuanya bisa benar, bisa juga salah. Konsep kebenaran relatif (tidak ada yang sungguh-sungguh benar), adalah sebuah pemikiran yang membunuh dirinya sendiri.

Karena kalau tidak ada yang sungguh-sungguh benar, maka konsep kebenaran relatif itu sendiri juga tidak sungguh-sungguh benar, karenanya kita tidak perlu mempercayainya bukan?

Lagi pula, entah kenapa, di dalam diri kita, terletak sebuah “moral kompas” absolut yang sulit disangkal. Misalnya, tidak seorangpun yang melihat pengkhianatan terhadap dirinya adalah sesuatu yang bisa diterima. Bahkan pengkhianat paling khianat sekalipun, tidak mau dirinya dikhianati. Itu artinya, mereka dalam hati kecilnya pun, sebenarnya masih melihat adanya benar yang sungguh-sungguh benar, meski mereka tidak menghidupinya.

 

  1. Kemana saya setelah mati?

Inilah pertanyaan misterius terbesar yang selalu menghantui kita. Beberapa orang meyakini, tidak ada kehidupan setelah kematian. Setelah kita mati, semuanya gelap, hampa, selesai, titik. Jikalau memang demikian, maka apa arti dari semua yang kita lakukan selama kita hidup?

Kalau ketika kita mati, hidup selesai begitu saja. Maka, tidak ada bedanya lagi kalau kita menjadi pembunuh atau menjadi penolong semasa kita hidup, karena toh, pada akhirnya, kita semua baik pembunuh maupun penolong, berakhir di garis finish yang sama.

Andaikan sebuah pertandingan lari, ada yang berlari kencang, ada yang tidur-tiduran, ada yang sibuk menjegal pelari lain, ada yang bahkan keluar dari arena dan tidak ikut lagi pertandingan, tetapi ketika mereka semua menginjak garis finish, semuanya mendapat hadiah yang sama. Bukankah, menjadi sia-sia bagi si pelari “sungguh-sungguh”?

Entah kenapa, hati kita tidak bisa menerima perlakuan seperti ini karena sekali lagi, ini akan menghilangkan seluruh makna dari apa yang kita lakukan selama hidup. Lupakan kehormatan diri, lupakan kebaikan, lupakan integritas, lupakan baik dan buruk, karena pada akhirnya, kita semua berakhir di tempat yang sama.

 

Bayangkan, kalau 4 pertanyaan itu seluruhnya dijawab dengan tanpa memasukkan Tuhan di dalamnya. Awal mula hidup kita hanyalah sebuah kebetulan, hidup kita tidak memiliki makna khusus, tidak ada yang sungguh-sungguh benar dan salah, semuanya relatif, dan pada akhirnya kita semua akan berakhir di tempat yang sama tanpa ada bedanya.

Maka, menjawab pertanyaan judul artikel ini, “Haruskah Tuhan itu ada?” Memang bisa saja bagi sebagian orang berkata “tidak harus!” bahkan bisa juga “Bahkan tidak perlu ada!”. Tapi, tanpa eksistensi Tuhan, akan ada banyak missing link yang tak terjelaskan dalam kehidupan ini, dimana Tuhan menjadi “puzzle” paling masuk akal yang bisa melengkapi semua penjelasan kehidupan yang tadinya misterius itu.


Notes:
Saya tidak membuka ruang debat di blog ini, karena itu kolom artikel hanya saya buka untuk komentar-komentar yang umum. Bagi yang ingin bertanya jawab, bisa langsung mengirim pesan pribadi ke Facebook Messenger saya, atau di Direct Message Instagram saya. Komentar yang menurut saya tidak sesuai dengan kriteria subyektif saya sendiri, tidak akan saya approve 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *