Sebuah Pertanyaan?

Pernyataan penting, klasik, dan terus diteriakkan sebagian orang, malam ini berubah menjadi sebuah pertanyaan besar bagi saya.

Anda mungkin sering mendengar kalimat yang berbunyi “kasih tak pernah gagal” dan “kasih mengalahkan dunia”

Saya sebagai orang yang hidup di dalam keyakinan ini sampai detik ini tak pernah meragukan kebenaran kalimat ini. Bagaimanapun, dalam pernikahan saya, cinta sejati sungguh mujarab untuk mengalahkan semua perbedaan dan selisih antara saya dan istri saya.

Bagaimanapun juga, karena kasih dan cinta saya kepada generasi muda pula yang membuat lutut kurus saya terus berdiri tegak dan melangkah meski sejuta terpaan angin terus menghantam.

post1

Tidak diragukan lagi kasih memang mengalahkan segalanya.

Lalu jika demikian, kenapa sampai hari ini dunia yang kita hidupi ini tak kunjung menjadi lebih baik? Di saat banyak orang mulai melakukan kejahatan, saya juga menyaksikan banyak pula yang terus berteriak mengenai cinta dan kasih melalui corong-corong keagamaan, intitusi sosial, dan berbagai kegiatan “penyebaran kasih”

Namun, dari sekian banyak kegiatan meneriakkan kasih ini (bukannya pesimis) namun, justru saya melihat banyak juga ironis cinta yang terjadi di dalamnya.

Ini membuat saya bertanya-tanya jangan-jangan diantara kita yang sedang sibuk meneriakkan kasih dan melakukan “penyebaran kasih” ini justru malah kehilangan dan kehabisan kasih itu sendiri? Jika memang demikian, lalu apa yang kita bagikan dan sebarkan selama ini? Bukankah kita tak bisa memberi apa yang kita tidak miliki?

Dengan hati berdebar saya memikirkan ini dan mengharap iba kepada Tuhan yang di atas sana sambil berbisik lirih dalam hati saya, “semoga ramalan bahwa kasih akan menjadi tawar di hari-hari akhir tidak terjadi diantara kami”

Kasih tidak kekurangan sehingga kita harus cemburu. Kasih merasakan aman hingga kita tak perlu curiga. Kasih sungguh memenuhkan dan menggenapkan hingga kita tak perlu mengambil. Kasih sungguh dewasa hingga kita sampai mampu memahami perbedaan. Kasih terlalu penuh sukacita sampai kita bisa bergembira untuk orang lain meski itu bukan keberhasilan kita dan malah keberhasilan mereka. Kasih begitu limpah hingga kita tak terasa teriris meski kita memberi dan berkorban. Kasih juga “legowo” sampai kita mau menjadi pembuka jalan untuk generasi di bawah kita.

Dan sungguh, kasih begitu mulia hingga kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakannya dari Dia.

Pertanyaannya, masihkah ada kasih diantara kita?

Ataukah ia sudah menguap menjadi teriakan belaka tanpa wujud nyata?

 

@josuawahyudi

Jakarta, 28 agustus 2013 | 00.01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *