Hukum Taurat Dibuang Aja!

Apa yang akan terjadi ketika tiba-tiba bangsa Israel yang sudah ‘Mesir minded’ ini menjadi bebas dan boleh menentukan cara hidup mereka sendiri? Kecenderungannya, mereka akan bergaya-gaya Mesir atau malah jadi liar semau-maunya sendiri. Padahal, budaya Mesir memiliki banyak representasi hal-hal yang dibenci oleh Tuhan.

Tuhan mau, bangsa Israel, umat kepunyaanNya, memiliki budaya yang berbeda. Itu sebabnya, taurat bukan cuma bicara 10 perintah Allah. Taurat juga bicara lebih dari 600 aturan yang mendetail dan mengatur hampir semua hal.

Mengapa sampai sedetail itu? Mengapa Tuhan se’perfeksionis itu? Karena bangsa Israel have no idea how to live! Mereka sama sekali start from zero, itu sebabnya Tuhan membuatkan sebuah manual book bagaimana harus membangun sebuah society yang tertib dan ilahi dalam kultur dan nilai-nilai Tuhan.

Jadi, Anda harus paham bahwa taurat bukanlah “prototype” awal dari cara Tuhan membenarkan manusia. Sama sekali bukan. Sejak peristiwa Eden, pada momen yang sama dengan kejatuhan manusia, Tuhan sudah langsung memiliki project penyelamatan yang pasti dan fix, yaitu melalui kematian Yesus.

Itu sebabnya, Tuhan mengatakan kepada ular dan Hawa bahwa keturunan Hawa ( kata “keturunan” memakai kata tunggal maskulin, yang artinya seorang keturunan pria, bukannya keturunan-keturunan) akan menginjak kepala ular (kepala ular melambangkan rencana iblis untuk menjauhkan manusia dari Tuhan) dan ular akan meremukkan tumit keturunan itu.

Jadi, taurat bukanlah rencana penyelamatan versi beta, atau uji coba ‘trial version’ rencana penyelamatan manusia.

Dari sini kita beranjak ke alasan kedua kenapa taurat diberikan, yaitu untuk “mengawal” dan “mengurung” bangsa Israel agar mereka tidak berpindah fokus kemana-mana, tetap berpandang kepada Tuhan Allah, sampai waktu kegenapan ketika Yesus datang.

“mengurung” disini juga berarti untuk menyingkapkan kepada manusia betapa manusia tidak akan sanggup menjadi benar melalui usahanya sendiri. Korban bakaran tahunan dalam taurat akan mengingatkan bahwa dosa dan kesalahan manusia tidak bisa dihapus secara permanen, tetap menempel meski tahun lalu sudah “disucikan”.

“mengurung” disini adalah untuk menunjukkan bahwa perbuatan baik manusia akan selalu gagal, dosa sepenuhnya berkuasa atas nafsu dan kehendak manusia, dan dibutuhkan sebuah korban yang sempurna yang datangnya bukan dari dunia ini. Jadi, taurat justru menjadi “prolog” misi penyelamatan. Taurat menjadi “sekuel” pertama yang akan menjelaskan kenapa Yesus perlu turun ke dunia.

Dan mengapa sampai butuh berabad-abad sejak taurat diberikan sampai Yesus datang? Menurut saya, Tuhan yang Maha Tahu, mengetahui bahwa jumlah waktu itulah yang dibutuhkan untuk membuat bangsa Israel mengerti bahwa manusia benar-benar sudah dikuasai dosa, bahwa usaha untuk hidup benar dengan usaha sendiri adalah mustahil, dan bahwa satu-satunya harapan hanyalah mesias.

Kadang-kadang, mengapa kita tidak langsung menolong anak kita yang sedang kesulitan, padahal sebenarnya kita bisa saja langsung memberikan bantuan. Terkadang, kita ingin anak kita belajar bahwa dia terbatas, bahwa dia membutuhkan ayah/ibunya, bahwa usahanya akan sia-sia, dan kita ingin dia menghargai pertolongan yang akan kita berikan nantinya.

Taurat bukanlah rencana pengganti yang gagal atau sebuah rencana awal yang ternyata tak berhasil. Justru taurat adalah bagian awal dari injil itu sendiri!

Itu sebabnya Yesus begitu “boh wat” ketika melihat orang farisi. Karena, seharusnya, orang yang hidup dalam taurat, tahu betul bahwa taurat tidak bisa menyelamatkan dan malah menyingkap kelemahan manusia. Seharusnya, orang yang hidup dalam taurat yang akan paling merasa butuh Yesus. Tapi kenyataannya, malah mereka yang paling menolak Yesus.

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.