Hukum Taurat Dibuang Aja!

Jadi, jika sekarang kita memahami bahwa “sekuel” dan prolog dari taurat memang sudah usai dan kita sudah memasuki era kasih karunia di dalam Kristus. Tapi, itu bukan berarti bahwa taurat TIDAK ADA GUNANYA bagi kita!

Ambil sebagai contoh. Taurat melarang bangsa Israel memakan babi. Ingat, taurat diberikan salah satunya untuk mengatur cara hidup bangsa Israel agar mereka memiliki cara hidup terbaik, termasuk dalam hal kuliner dan kesehatan.

Dunia health food sudah sangat jelas sekali menunjukkan bahwa babi memberikan efek yang buruk untuk kesehatan. Itu sebabnya, taurat menulisnya.

Ketika orang Kristen makan babi berlebihan dan berkata “kita kan sudah hidup di perjanjian baru bro..” Itu adalah kalimat yang nggak nyambung (nggak ada hubungannya!). Dari awal sebenarnya cuma ada 1 perjanjian, yaitu perjanjian penyelamatan manusia melalui Yesus. Taurat berada dalam bagian dari perjanjian itu.

Larangan makan babi diberikan BUKAN berkaitan dengan keselamatan masuk surga atau tidak. Larangan babi diberikan untuk alasan kesehatan dan lifestyle! Sekaligus larangan itu diberikan untuk menunjukkan bahwa meski kita sudah disiplin tidak makan babi, tetap kita tak bisa masuk surga, itu sebabnya kita butuh Yesus.

Lalu, kenapa ada hukuman-hukuman untuk pelanggaran taurat?

Jika memang taurat untuk lifestyle, kenapa mesti memakai hukuman bahkan sampai hukuman mati? Sederhana, kalau Anda ingin membangun sebuah kultur di rumah Anda, dan Anda ingin anak Anda memiliki kultur itu, bukankah Anda akan menerapkan disiplin agar semua orang “terbiasa” dengan kultur yang dibangun?

Bukankah disiplin itu “mengawal” dan “mengurung” anggota keluarga Anda agar berfokus pada budaya yang ingin dibangun?

Di perusahaan saja, kalau ingin membangun budaya on time, pasti ada disiplin bagi mereka yang terlambat bukan?

Dan kadangkala, adanya hukuman keras diperlukan untuk mengajarkan bahwa semua pelanggaran ada konsekuensinya. Disinilah sekali lagi taurat “mengurung” bangsa Israel, untuk membuat mereka mengerti bahwa dosa konsekuensinya adalah maut dan parahnya, tidak ada usaha apapun yang bisa dilakukan manusia untuk terhindar dari konsekuensi dosa. Bangsa Israel terus “dikurung” dengan taurat, diingatkan berkali-kali melalui berbagai ritual tahunan dan simbol-simbol aturan yang ada, agar mereka benar-benar mengerti ketika Yesus datang nanti, itulah masa kelepasan mereka atas konsekuensi dosa.

Jadi, menurut saya, taurat masih layak dipelajari dan bahkan sebagian dari taurat masih sangat perlu untuk dipraktekkan. Bukan dalam rangka dibenarkan di hadapan Tuhan, melainkan untuk mengetahui lifestyle yang diberikan Tuhan dan hikmat dibaliknya.

“Lho taurat kan cuma buat orang Yahudi, kita bukaaaaan…”

Well, agak nggak nyambung juga kalimat ini sebenarnya. Bangsa Israel (atau yahudi) pada masa itu adalah satu-satunya bangsa “pilihan Allah”. Kalau bangsa itu adalah pilihan, pastinya Tuhan tidak sembarangan memberikan kultur dan lifestyle bukan? Bisa jadi, itu adalah kultur terbaik. Itu sebabnya, meski kita bukan orang yahudi, tidak ada salahnya untuk mempelajari dan mempraktekkan beberapa hal dalam taurat yang memang benar-benar membawa kebaikan untuk hidup kita.

Ambil contoh. salah satu aturan taurat untuk seorang wanita yang pendarahan tidak boleh ambil bagian dalam ritual keagamaan, atau bahkan ada kondisi tertentu dimana mereka tidak boleh ada dalam pertemuan sosial. Banyak orang salah paham ini sebagai diskriminasi terhadap perempuan atau sebuah syarat kekudusan.

Penggunaan kata “najis” bukan untuk melabel bahwa wanita itu “hina” pada saat mens.

Cobalah Anda bayangkan. Pada masa itu, belum ada pembalut wanita yang anti bakteri. Bagaimana cara mereka “menahan” pendarahan? Dan kita semua tahu bahwa mens adalah “darah kotor” yang memang mengandung banyak bakteri berbahaya. Aturan agar wanita pendarahan tidak terlalu banyak bersentuhan dengan masyarakat adalah lebih kepada unsur kesehatan. Begitu pula dengan aturan wanita yang selesai pendarahannya harus mencuci diri bersih-bersih membersihkan “kenajisan”nya. Yang dimaksud kenajisan bukan berbicara wanita itu penuh dengan kehinaan, melainkan berbicara adanya kandungan bakteri dan penyakit yang bisa saja menulari membawa hal tak baik untuk orang lain.

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.