Hukum Taurat Dibuang Aja!

Mengapa dikaitkan dengan ritual keagamaan?

sebagai simbol bahwa darah yang keluar dari tubuh artinya kematian. Darah adalah pembawa kehidupan dan hanya bisa “hidup” selama berada dalam tubuh. ketika darah keluar dari tubuh, kehidupan yang termuat dalam darah itu menjadi mati. Sama seperti manusia yang terlepas keluar dari hadirat Tuhan akan berakhir pada kebinasaan. Sekali lagi, taurat diberikan untuk lifestyle dan “mengurung” dengan berbagai simbolisasi untuk membuat bangsa Israel makin paham pentingnya kehadiran Mesias.

Dan, soal makanan “haram”, seorang praktisi kesehatan pernah berkata, “kalau seorang hamba Tuhan, setiap kali melihat makanan tak sehat, tidak bisa menahan nafsunya dan tak mampu mengendalikan dirinya, apa bedanya dengan orang yang ke pelacuran karena tak bisa menahan nafsunya?”

Kata-katanya sungguh benar. Walaupun Anda mungkin merasa “lho nafsu seksual kok disamakan sama nafsu makan…” Bukankah nafsu berbicara mengenai keinginan daging? Ketika kita tidak bisa menguasai keinginan daging (dalam hal apapun), maka sebenarnya kita sedang hidup dalam kedagingan.

anak muda tak bisa menahan diri kecanduan game, orang tak bisa menahan nafsu seksual ke pelacuran, pelayan Tuhan tak bisa menahan nafsu berkuasa dan berambisi untuk tahta, orang tak bisa menahan nafsu mengejar uang dan mulai melakukan apapun, dan orang tak bisa menahan nafsu tiap kali melihat makanan tertentu dan menjadi “kalap” melampiaskan kenikmatan lidah. Apakah ada beda yang signifikan?

Saya berharap tulisan ini membuat kita menjadi orang Kristen yang lebih dewasa, yang tidak melecehkan taurat sambil tertawa-tawa mempraktekkan hidup dikuasai nafsu dalam konteks “kasih karunia”.

Taurat adalah bagian dari kasih karunia itu sendiri.

 

Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.