Kenapa Tuhan Membiarkan Kejahatan?

Pernahkah Anda bertanya dalam hati, “Kalau Tuhan sungguh ada, kenapa Dia mengijinkan ada hal-hal buruk yang terjadi di dunia?”

Banyak orang berhenti mempercayai Tuhan karena “kecewa” bahwa kebaikan Tuhan tidaklah cukup untuk menghentikan ketidakbaikan yang sepertinya kian merajalela di dunia. Karena, seharusnya, dalam kemahakuasaanNya, bukankah Dia sanggup melakukan apapun? Bukankah Dia seharusnya sanggup menghilangkan segala kejahatan yang ada?

Peristiwa bom di Mesir yang terjadi baru-baru ini, sekali lagi menghentak rasa kemanusiaan kita semua. Di tengah perayaan minggu palem, kematian menjadi nyata dan menimbulkan ketakutan mendalam ketika kenyataan menunjukkan bahwa kejahatan terjadi begitu saja dimana saja dengan mudahnya.

Tentu, terbersit pertanyaan, “Dimanakah Tuhan?”

 

RESIKO SEBUAH KASIH

Kalau kita menelisik, sebenarnya ujung dari semua variasi tindakan ini terletak pada kehendak bebas atau free will manusia. Kalau Anda masih ragu-ragu tentang apakah manusia memiliki kehendak bebas atau tidak, Anda bisa membaca / berkomentar di tulisan saya “FreeWill: Nyata Atau Ilusi?”.

Pada saat Tuhan menciptakan manusia, Dia menciptakannya bukan sebagai robot yang hanya bisa menjalankan program default. Dia menciptakan manusia dengan sebuah special feature bernama kehendak bebas. Sejak manusia diberikan kehendak bebas, maka dengan segera konsekuensinya pun mengikuti, yaitu adanya tindakan baik dan jahat. Manusia bisa memilih untuk taat dan berjalan bersama Tuhan, atau melawan dan meninggalkan Tuhan.

Peristiwa buah terlarang di Eden menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas.

Pertanyaan berikutnya, “Kalau kehendak bebas menyebabkan munculnya potensi kejahatan, kenapa Tuhan memberikannya untuk manusia?”

Disinilah saya menyebutnya sebagai “resiko dari kasih”.

Banyak orang Kristen belum memahami bahwa alasan terbesar dari penciptaan manusia adalah Tuhan ingin memiliki relationship yang genuine dengan ciptaanNya, dan Dia memilih manusia sebagai subyek tersebut.

Sebuah relationship sejati hanya bisa terjadi ketika kedua belah pihak memiliki inisiatif murni untuk terhubung. Contoh, kalau saya membuat sebuah robot yang sudah saya program untuk setiap pagi ketika ia melihat saya, dia akan berkata “Selamat pagi! Aku mengasihimu!”

Saya tidak akan mengklaim bahwa saya memiliki hubungan dekat dengan robot itu. Kenapa? Karena robot itu melakukan apapun atas dasar program yang sudah ditanam dalam dirinya.

Tapi, kalau manusia berbeda. Manusia begitu unik dan bisa unpredictable. Itu sebabnya, ketika terjadi ungkapan yang murni yang muncul dari hati dan kehendak bebasnya sendiri, disitulah relationship yang murni terjadi.

Tuhan tidak ingin manusia terhubung denganNya karena terprogram. Dia ingin ungkapan penyembahan kita muncul dari kemurnian hati kita yang memang menginginkan berjumpa denganNya. Hubungan seperti inilah yang Tuhan inginkan.

Masalahnya, menciptakan manusia dengan kehendak bebas yang bisa mengungkapkan kasih tanpa disuruh dan bisa tak terprediksi, juga menciptakan potensi untuk menusia berbuat sebaliknya. Tapi kenapa Tuhan menempuh resiko itu hanya sekedar untuk punya relationship dengan manusia?

Inilah yang disebut dengan kasih.

Tanyakan orang tuamu. Ketika mereka memutuskan untuk memiliki anak, apakah mereka yakin 100% bahwa anak mereka akan bertumbuh dewasa menjadi anak yang baik dan membalas budi pada orang tua? Bukankah juga ada potensi untuk anak mereka waktu dewasa nanti menjadi durhaka dan merepotkan orang tua?

Kenapa para orang tua ini masih meresikokan diri untuk melahirkan anak-anak mereka tanpa ada jaminan pasti bahwa anak mereka pasti jadi orang baik? Karena kasih orang tua ini terlalu besar kepada si anak, sehingga mereka siap mengambil resiko terlukai, demi peluang kemungkinan untuk bisa mengasihi dan memiliki relationship dengan anaknya.

Jadi, meski Tuhan tahu bahwa manusia kelak bisa saja mengakibatkan kekacauan, tetapi karena kasihNya, Dia memutuskan tetap menciptakan manusia dengan memiliki kehendak bebas. Karena Tuhan menginginkan relationship dengan manusia.

 

KENAPA DIA TIDAK MELAKUKAN INTERVENSI?

Pertanyaan ini juga pasti muncul setelah menerima penjelasan di atas. Dalam kemahakuasaanNya, Dia bisa saja mengintervensi untuk mencegah keburukan yang merajalela. Ya, tentu saja Dia bisa dan sangat bisa. Tapi, apa yang terjadi kalau Tuhan mengintervensi semua kejahatan dan mengembalikannya kepada kebaikan?

Setidaknya ada 2 akibat signifikan dari tindakan itu. Pertama, kita tidak lagi menjadi manusia dengan kehendak bebas karena setiap kali kehendak kita bertentangan dengan Tuhan, Dia langsung mengintervensi dan mengubahnya menjadi kebaikan. Kembali lagi, dengan menghilangkan kehendak bebas, maka akan hilang pula relationship yang murni antara manusia dengan Tuhan.

Kedua, dengan adanya intervensi Tuhan yang terus-menerus, manusia tidak akan pernah belajar. Kemanusiaan kita muncul dan menjadi kian tajam karena kita melihat adanya ketidakmanusiawian di sekitar kita. Kita menjadi semakin tahu bagaimana seharusnya kita hidup, dan kita berusaha memperjuangkannya.

Untuk makin memperjelas, ijinkan saya menceritakan kebingungan saya beberapa tahun lalu, di kasus yang berbeda tapi sebenarnya mirip.

Saya pernah bertanya-tanya, kenapa Yesus harus muncul ratusan tahun setelah bangsa Israel dibebaskan dari Mesir. Kenapa Yesus tidak langsung hadir di zaman Musa saja? Butuh banyak sekali pergantian generasi dan berbagai peristiwa kegagalan Israel untuk mengikuti jalan Tuhan, hingga kemudian Yesus muncul.

Belakangan, saya mulai mengerti, karena memang dibutuhkan segitu banyak tahun, segitu banyak peristiwa, dan segitu banyak kegagalan, untuk membuat Israel sadar bahwa mereka memang tidak akan pernah bisa mencapai keselamatan tanpa Juru Selamat. Dengan kedegilan dan kebebalan mereka, dibutuhkan semua ketidak’enak’an itu untuk menyadari pentingnya kehadiran Yesus.

Kalau Anda orang tua, Anda akan mengerti, bahwa kadang-kadang, meski Anda melihat anak Anda sedang menghadapi kesulitan, dan sebenarnya Anda bisa-bisa saja menolong mereka, tetapi kadangkala dengan sengaja Anda membiarkan sementara waktu, untuk supaya anak Anda belajar sesuatu.

Tapi saya yakin, sebenarnya ketika anak Anda kesulitan, hati Anda tak tega dan Anda “gregetan” untuk segera turun tangan mengintervensi. Tapi, justru karena KASIHlah, Anda menahan diri karena ingin anak Anda belajar dan menjadi lebih baik hidupnya.

Jadi, kenapa Tuhan tidak melakukan intervensi? Karena alasan yang sama.

 

DIA MELAKUKAN INTERVENSI KOK…

Dan sebenarnya, saya meyakini Tuhan masih melakukan intervensi. Jikalau tidak, mungkin dunia ini sudah lama musnah oleh kejahatan yang dilakukan manusia.

Dan dalam banyak peristiwa, saya bisa melihat Tuhan kadang-kadang masih melakukan intervensi dan kita menyebutnya sebagai mukjizat. Hanya saja, memang kita tak pernah bisa memprediksi kapan Tuhan melakukan intervensi dan bagaimana formulanya.

Karena kalau mukjizat menjadi treprediksi dan diketahui polanya, ia tidak lagi disebut mukjizat. Sesuatu yang sudah biasa tidak akan lagi disebut luar biasa. Itu sebabnya, intervensi Tuhan jelas masih terjadi walau tanpa sepengetahuan kita dan tak bisa kita prediksi.

Misalnya, beberapa kasus kanker yang hilang karena doa, orang-orang yang menjadi sembuh dengan mendadak sampai dokter juga heran (saya memiliki teman yang benar-benar mengalami ini), atau kasus-kasus kejahatan yang tergagalkan karena berbagai faktor yang seringkali orang melihatnya sebagai “keberuntungan” atau faktor X.

Bayangkan, bisa saja sebenarnya hari ini Anda tertabrak mobil yang menyetir ugal-ugalan, tetapi mungkin kemarin malam Tuhan sudah melakukan “intervensi” dengan membuat si supir mengalami sakit perut karena terlalu banyak makan makanan pedas yang dibawakan oleh saudaranya yang datang dari jauh. Sehingga pagi ini dia batal pergi dan Anda menjalani Anda dengan baik-baik saja.

Mukjizat mungkin sedang terjadi pada saat Anda membaca tulisan ini dan mungkin saja Tuhan baru melakukan intervensi mencegah hal buruk dalam hidup Anda terjadi. Tapi, karena itu semua terjadinya di belakang layar dan Anda tidak menyadarinya sama sekali, Anda akan menganggapnya sebagai sebuah hari yang biasa saja.

Jadi, menyimpulkan semuanya. Kehadiran kejahatan dan hal-hal buruk di tengah-tengah kita, tidak dengan serta merta meniadakan Tuhan dan tidak berarti Tuhan juga jahat karena membiarkan itu terjadi. Bagaimanapun, kehidupan ini adalah misteri yang takkan pernah terselesaikan.


By Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *