MOBA dan EMOSI

Mobile Legend sedang booming.

Era COC dan game-game sejenisnya sedang memasuki masa senja, sedangkan era game MOBA terutama Mobile Legend dan AOV sedang memasuki masa “hot-hot’nya”!

Tapi, ternyata, bermain game model MOBA ini bahkan lebih menguras emosi daripada COC dan Clash Royale. Dulu, COC cukup menguras emosi ketika kita salah menurunkan troops atau si para prajurit kecil itu malah bergerak dan melakukan tidak sesuai yang kita harapkan.

Sedangkan Clash Royale, bisa bikin kita pengen banting handphone ketika musuh kita mengeluarkan emoji ketawa-ketawa, itu namanya kan pelecehan digital.

Tapi kini, rupanya game MOBA malah menawarkan jenis pengurasan emosi yang lebih parah. Bukan hanya ketika kita salah mengarahkan jurus, atau keliru mengambil keputusan, atau ketika kita kalah saat duel one on one, atau ketika tower mengincar ketika disaat para “krucil” berkerumun, ataupun ketika kita dikeroyok rame-rame. Kalau soal semua itu, mungkin kita masih bisa mengendalikan emosi.

Tapi, emosi bisa memuncak ketika teman setim kita sendiri mulai berkomentar yang “tidak-tidak”.

Saya sih bukan pemain MOBA yang hebat. Rank’nya, baik di Mobile Legend maupun di AOV juga di tengah-tengah aja. Main kadang MVP, kadang jadi beban. Tapi hei, bukankah namanya juga permainan? Apalagi permainan jenis MOBA yang sangat dinamis begini? Segala sesuatu bisa saja terjadi bukan?

Tapi, ketika saya berkeliling dunia “Google” untuk membaca berbagai tips-tips dari para pemain pro, dan ketika saya mencoba merangkum semuanya, setidaknya inilah 3 tips untuk menjadi pemain MOBA yang SEJATI. Masalah kamu mau mempercayainya atau tidak sih, terserah saja, namanya juga hasil rangkuman. Kalau saya sih, sangat meng’amin’I petuah-petuah berikut ini:

 

  1. Mampu bermain 2-3 jenis hero

“Saya aja dong yang pakai Zilong…”; “Ngalah dong… Pakai tank dong…”

Familiar dengan kalimat-kalimat model begini? Kalimat ini tentu muncul karena dia terbiasa menggunakan hero itu dan tidak menguasai hero lain. Makanya, pemain MOBA yang baik (kecuali yang sudah punya tim tetap permanen dan tidak lagi main ala random yah… kalo kayak gitu kan udah pro banget!) disarankan mempelajari seminim-minimnya 2 jenis hero.

Maksudnya, bukan 2 hero yang berbeda ya, tetapi 2 jenis role yang berbeda. Misalnya, marksman/archer dan tank. Atau Mage dan assassin. Tujuannya, supaya ketika bertemu tim secara random dan kebetulan jenis hero kesayangan kita sudah diambil duluan, kita bisa menyeimbangkan komposisi dengan role lain yang juga kita kuasai.

Akan sangat ideal kalau kita bisa menguasai sampai 3 jenis role hero. Bakal lebih memudahkan kita untuk balancing saat pemilihan tim. Makanya, saya mulai latihan untuk bisa pakai 2-3 jenis role hero.

  1. Memikirkan kemenangan tim (alias jaga tower)

Seringkali beberapa pemain di awal-awal terlalu asyik untuk jungle dan tidak peduli dengan teman tim yang berdarah-darah menjaga tower. Memang ada beberapa jenis hero yang akan sangat bagus dan berguna di kemudian hari kalau dia melakukan banyak jungle. Tapi apa gunanya kalau kamunya sudah “sakti” tapi towernya sudah gundul semua.

Lagian, ketika kamu sibuk membangun kekuatanmu dengan jungle, kalau musuhmu berkali-kali bisa kill teman-teman timmu, maka mereka juga menjadi lebih cepat sakti juga.

MOBA ITU PERMAINAN TIM. Makanya tidak boleh ada sedikit saja egoisme dan individualistis dalam memainkan game ini. Kalaupun ada teman timmu yang kebetulan berulang-ulang “nyampah” (membunuh musuh saat HPnya tinggal sedikit, sementara kamu yang berjuang dari awal mengurangi HP dia), ya seharusnya tidak menjadi masalah.

Siapapun yang menjadi MVP dan kill terbanyak, sebenarnya tidak lebih penting daripada kemenangan tim. Kalau dari awal sudah pikirannya ingin jadi paling hebat dari antara yang lain, ya sebaiknya jangan main MOBA yang tim. Kalau mau egois, main aja Dynasty Warrior

 

  1. Pantang hukumnya menghina dan menjelekkan teman sendiri

Yang mengherankan, kebiasaan ini rupanya amat sangat banyak sekali bertebaran di server Indonesia (saya tidak tahu kalau di server negara lain). Apakah ini bisa menjadi potret dari mentalitas dan level cara pandang mayoritas generasi muda kita? Saya tidak tahu, tapi yang jelas, kebiasaan trashtalking kepada tim sendiri ini sesuatu yang justru menurut saya merugikan dirinya sendiri.

Karena, dengan menghina, menyalahkan, atau menjelekkan tim sendiri, akan membuat teman timnya jadi demotivasi dan malas melanjutkan permainan. Atau kalau yang menghina-hina sedang dikeroyok, teman tim tidak ada yang mau bantuin karena sebel. Yang pada gilirannya juga semua ini akan membuat kita jadi kalah.

Suatu hari saya sedang “nge-rank”, lalu ketika saya menjaga tower sendirian, saya bertemu hero musuh yang kebetulan adalah anti’nya untuk hero saya. Lalu saya chat “Saya kewalahan nih jaga disini…”

Herannya, ada rekan tim yang membalas, “Itu lu aja yang bego mainnya…” (wkwkwkwkw… so typical!)

Ketimbang segera untuk menolong, sempat-sempatnya menulis hanya untuk menghina.

Dan kalau dipikir-pikir, apa untungnya ya melakukan itu? Senang juga nggak, dan apalagi kalau dibales dengan kalimat yang sama-sama nyebelin, jadinya malah sibuk adu mulut dan lupa lanjutin gamenya. Yang ada akhirnya sama-sama kalah, sama-sama emosi, sama-sama nggak dapet apa-apa.

Dalam permainan ala MOBA ini, semua orang pernah jadi MVP dan semua orang pernah “ancur abiz” mainnya. Jadi, hal yang biasa kalau ada rekan setim kita bermain buruk. Itu kan konsekuensi dari kita memilih main random. Kalau mau serius, ya bentuk tim sendiri saja. Lagian, kalau yang kebetulan jadi teman tim kita adalah anak SD, lalu kita maki-maki dia dengan kata-kata kotor, bukankah itu artinya menunjukkan betapa “hinanya” kita kan?

Makanya saya menulis judul artikel ini “MOBA dan EMOSI”, marilah kita menjaga emosi kita dalam bermain game. Ingat, ini hanya game lho. Menang cuma dapet bintang, kalah kehilangan bintang. Bintangnya tidak bisa ditukar buat apa-apa. Bangga juga paling sedikit aja.

Mau yang glorius legend atau yang bronze, kalau hidupnya lagi susah ya tetep susah aja. Tingkat rank dan jumlah bintang tidak membuat nasibmu tiba-tiba jadi berubah kan? Lalu kenapa sampai harus berperilaku dan berkata-kata hina hanya untuk sebuah game yang tidak ada efek untuk masa depan nasib kita?

Paling setahun dua tahun (maksimal kalau hebat ya 3 tahun) lagi kita juga sudah delete game ini (seperti nasibnya COC dan lain-lain).

Kalau hanya sebuah game saja bisa membuat derajat kita turun seperti binatang, bagaimana kalau ada hal lain yang lebih serius? Jangan-jangan kita sudah akan jauh lebih parah daripada binatang.

Makanya, sekarang kalau saya main MOBA dan ada yang melakukan trashtalking, saya diem-diem saja dan santai-santai saja. Paling setelah selesai saya report (hahahahaha….). Sayang, walaupun game-game ini sudah ada option report untuk “verbal abuse”, tapi tetap saja sistem mereka tidak bisa mendeteksi dalam bahasa Indonesia, sehingga efek report jarang ditindaklanjuti.

Yah… dimulai dari diri kita yuk…

It’s just a game bro and sis… take it easy dan dibawa fun ajalah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *