MUSISI vs PENYEMBAH

praiseandworship

Itu sebabnya, saya menyebut bahwa para gembala adalah penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui tindakan penggembalaannya. Para pengajar adalah penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui ajaran-ajarannya. Para usher adalah penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui tindakan welcoming people. Para akuntan bahkan, adalah para penyembah yang mengekspresikan penyembahannya melalui tindakan akuntingnya!

Dan semua orang Kristen, apapun profesinya, usianya, jabatannya, dan status pelayanannya, adalah para penyembah Tuhan yang bisa saja mengekspresikan penyembahan mereka melalui berbagai tindakan dalam hidup mereka. Penyembahan sejak awal tidak pernah secara dominan dimonopoli oleh musik dan lagu.

Lalu siapakah orang-orang yang disebut dengan para “pelayan penyembahan” ini? Ya mereka adalah para penyembah Tuhan yang diberikan talenta sebagai musisi dan mampu mengekspresikan penyembahan melalui musik, lagu, dan nyanyian. Walaupun musik itu sendiri memiliki tempat yang spesial dalam kekristenan, tapi bukan berarti para penyembah yang menggunakan musik selalu lebih spesial daripada para penyembah yang berekspresi lewat senyum dan sapaan (para usher).

Tentu saja saya tidak mau terlalu “kepo” untuk kemudian mengusulkan mengganti nama divisi pelayanan “tim worship” hanya karena pemaparan yang saya sampaikan. Yang penting bukanlah di nama dan sebutan, yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa penyembahan adalah sebuah ekspresi dari para penyembah untuk yang disembah. Apapun ekspresinya asalkan itu lahir dari hati si penyembah, maka itu menjadi bernilai bagi yang disembah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *