MUSISI vs PENYEMBAH

MUSISI dan PENYEMBAH

Suatu hari, istri saya membagikan pewahyuan yang ia dapat dari Tuhan. Dia pernah bertahun-tahun terlibat dalam pelayanan tari. Suatu hari dia bercerita bahwa Tuhan ingin dia menjadi seorang “penyembah yang menari” BUKAN “penari yang menyembah”.

Apa bedanya?

Jelas berbeda.

Seorang penyembah yang menari adalah orang yang memposisikan dirinya terutama sebagai seorang penyembah. Tarian adalah bentuk ekspresi penyembahannya.

Sebaliknya, seorang penari yang menyembah adalah orang yang memposisikan dirinya terutama sebagai seorang penari. Penyembahan menjadi ekspresi dari dirinya yang adalah penari.

Banyak sekali (nyaris sulit dihitung lagi), para “pelayan penyembahan” yang memposisikan diri sebagai MUSISI YANG MENYEMBAH ketimbang PENYEMBAH YANG BEREKSPRESI LEWAT MUSIK. Kondisi ini membuat para “pelayan penyembahan” sangat membanggakan status musisi mereka dan seringkali “mengagungkan” ke’musisi’an mereka ketimbang mengambil posisi sebagai penyembah.

Apakah Anda familiar dengan pernyataan, “kita ini musisi… orangnya nyleneh…”, “kita ini orang otak kanan, gak bisa banyak dikasih aturan-aturan” atau kalimat-kalimat semacam: “seniman itu susah diatur… Nggak bisa terlalu dikekang…” atau “yang namanya musisi itu bebas, jangan terlalu dibikin ribet…” atau “seniman itu kalo lagi nggak mood, nggak akan bisa jalan…”

Darimana lahir semua pernyataan dan “keluhan” ini? Semua muncul karena kita terlalu memposisikan diri lebih berat sebagai musisi ketimbang sebagai penyembah Tuhan. Karena jelas sekali, seorang penyembah Tuhan adalah orang yang men’submit’kan dirinya TOTAL kepada (Tuhan) yang disembah. Apapun keinginan yang disembah (Tuhan), akan dan harus kita lakukan, karena kita adalah penyembahNya.

Artinya, jika Tuhan ingin kita menjadi disiplin, tidak peduli kita musisi, pengusaha, pengangguran, atau siapapun, kita harus submit kepada Dia. Jika Tuhan ingin kita rendah hati, tidak peduli kita seniman atau programmer, kita harus submit kepada Dia. Jika Tuhan ingin kita berada dalam sebuah covering otoritas dan komunitas, tidak peduli siapapun kita, seharusnya kita bisa submit kepada Dia dan FirmanNya!

Firman Tuhan berlaku bagi semua orang. Firman Tuhan tidak punya pengecualian untuk seniman, orang otak kanan, dan musisi. Firman Tuhan memiliki garis yang jelas. Hanya karena kita seniman, bukan berarti kita bisa mendapat “dispensasi” dari disiplin-disiplin rohani. Namun, ketika kita lebih menganggap diri kita sebagai musisi ketimbang sebagai penyembah Tuhan, disitulah kita merasa seharusnya ada “dispensasi khusus” bagi kita para musisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *