Ngapain Ada Pelayanan Musik di Gereja?

Masalah akan muncul ketika para pelayan musik justru tanpa sadar (atau dengan sangat sadar) menggeser kehadiran Tuhan dengan kehadiran mereka. Alih-alih membuat jemaat merasakan kehadiran Tuhan dan menanggapi Tuhan, justru jemaat malah lebih merasakan kehadiran sang “musisi” dan menanggapi mereka.

Hal yang paling sederhana adalah, ketika jemaat bertepuk tangan, untuk siapakah mereka melakukannya? Apakah mereka melakukannya karena menanggapi bahwa Tuhan sudah melakukan hal luar biasa untuk hidup mereka? Atau menanggapi betapa bagusnya suara sang penyanyi? Atau menanggapi “liturgi formal” yang diwajibkan manusia?

Tuhan adalah pemilik gereja dan umatNya, maka Dialah yang harus menjadi pusat dari semua aktifitas penyembahan kita, termasuk dalam sesi “penyembahan musikal” kita.

Itu sebabnya, siapapun kita, yang bergerak di dalam pelayanan musik, sudah menjadi kewajiban untuk kita terus-menerus “aware” dan mengingatkan diri kita sendiri, bahwa kehadiran Tuhanlah yang harus menjadi fokus utama dari semua yang kita lakukan. Kesadaran inilah yang saya sebut dengan “State of Worship”. Dalam semua yang kita kerjakan, kita harus berada dalam “state of worship”. Dengan demikianlah pelayanan musik akan benar-benar kembali menjadi kepunyaan Tuhan dan menjadi alat Tuhan yang berkuasa untuk memanifestasikan kehadiranNya dan kualitas-kualitasNya.

@josuawahyudi

One thought on “3 Esensi Kehidupan Gereja

Comments are closed.