ORANG KRISTEN ITU BODOH?

avatar150Seorang kenalan saya, menahan dirinya untuk menjadi Kristen, hanya karena satu alasan: dia tidak mau diidentikkan sebagai orang bodoh.

Padahal, dia sulit menyangkali kesupranaturalan dan ketuhanan Yesus dan banyak keraguan intelektualnya yang dengan mudah dijawab secara masuk akal. Tapi tetap saja, ketika semua argumen sudah dikemukakan, pada akhirnya, salah satu yang membuat dia enggan untuk menyerahkan hidupnya kepada Kristus adalah karena dia takut akan berubah menjadi seperti orang-orang Kristen yang dia anggap (kebanyakan dari mereka) bodoh.

Darimana kesimpulan itu dia dapat?

Sejak kecil, dia tumbuh dengan dikelilingi oleh dunia kekristenan yang kental. “Jangan nonton Pokemon, nanti kamu dikuasai roh jahat”. “Jangan nonton harry potter, nanti kamu kena mantra”. “Jangan bawa-bawa kalung itu, di dalamnya mengandung kuasa gelap”. Awalnya, kalimat-kalimat ini yang mengusiknya ketika dia masih kecil.

Ketika kemudian ia sudah dewasa. Pendidikan tinggi dan pengalaman hidupnya bersentuhan dengan banyak orang intelektual, menegaskan bahwa apa yang diajarkan kepadanya sangatlah absurd dan merupakan pembodohan baginya.

Dari sekedar urusan pokemon dan harry potter, keraguan mulai berpindah pada hal-hal yang semakin mendalam seperti: pernikahan kristen adalah hal yang konyol. Sex before marriage hanyalah mitos bodoh untuk menakut-nakuti anak muda. Doa adalah sebuah tindakan menghibur diri yang kerdil. Tuhan hanyalah ilusi buatan pikiran manusia.

Dan semua ini semakin diperkuat dengan perilaku banyak sekali orang kristen, pelayan Tuhan, hingga pendeta dan pemimpin gereja, yang munafik, menyangkali ajaran mereka sendiri, dan tidak ada kebenaran sama sekali dalam perilaku mereka. Membuat orang-orang intelek seperti kenalan saya ini, semakin yakin bahwa semua ajaran Kekristenan hanyalah sebuah bentuk doktrinasi yang dipakai sebagai “alat sihir” untuk memperbudak jemaat agar mengikuti kemauan oknum-oknum pendeta atau pemimpin gereja.

Dengan demikian, menjadi “Kristen” jelas akan membuat para generasi intelek ini menggolongkan dirinya kepada sekumpulan orang “bodoh” yang mau-maunya diperbudak oleh otoritas rohani yang jelas-jelas tidak rohani. Mereka kian terheran-heran ketika orang tua mereka dengan polosnya mau mengikuti begitu saja arahan “supranatural” yang tidak masuk akal dari otoritas rohani mereka.

Dan dengan segera, situasi ini meluncur kepada kesimpulan absolut bahwa kekristenan hanyalah permainan manusia belaka dimana sebenarnya tidak ada Tuhan di dalamnya. Dan sebagai orang “pintar”, jelaslah kita menolak dibodoh-bodohi oleh semua hal “mistis” ini.

 

BENARKAH KEKRISTENAN ADALAH KEBODOHAN?

Izinkan saya menjelaskannya satu-persatu.

 

PERTAMA,

Apa yang disebut dengan bodoh?

Bagi kita, masyarakat modern, melihat orang di suku pedalaman yang hidup telanjang, kita mungkin menyebut mereka “bodoh” dan bingung kok bisa-bisanya mereka hidup seperti itu. Tapi, bagi mereka bisa saja kita yang bodoh. Cuaca sudah panas, kenapa kok mau-maunya hidup diselimuti pakaian yang malah menambah panas.

Bagi kita yang belum “in to” dengan Kekristenan, memang bisa jadi semua ajaran kekristenan adalah kebodohan. Sama seperti bagi orang Kristen mungkin orang-orang yang terlalu logis, kristis, dan mengagungkan intelektualitas, justru adalah yang bodoh.

Bukankah ini yang terjadi pada Paulus?

Dulu dia merasa pengikut Kristus itu bodoh karena dia merasa sebagai kaum intelektual sekaligus rohanilah yang paling benar. Dia menguasai semua taurat dengan sempurna. Tapi, setelah dia menjadi pengikut Kristus, semua “kesempurnaan” dia yang semula, malah dianggapnya sampah dan dulu apa yang dia anggap kebodohan, malah kini dia anggap yang mulia.

Anda tidak bisa serta merta membodoh-bodohkan orang begitu saja.

Misalnya, ada orang yang hobi banget main game, lalu kita anggap dia bodoh hanya karena kita tidak suka main game. Ada orang suka otomotif dan kita anggap bodoh hanya karena kita tidak menganggap penting otomotif. Ada yang suka fashion “blink-blink” dan “nabrak” lalu kita sebut bodoh hanya karena selera fashion kita beda. Ada orang yang cinta mati drama korea dan kita sebut bodoh hanya karena kita penggemar NatGeo dan Discovery channel.

Dalam beberapa kasus, kita cenderung “membodohkan” seseorang karena perbedaan “selera” dan “stand point” yang seringkali banyak melibatkan unsur emosional pribadi kita (meski kemudian didukung oleh argumen-argumen logis sebagai alat pembenaran dari opini emosional kita).

Jika yang dimaksud “bodoh” adalah soal cara berpikir dan bernalar, maka berarti yang salah kan “orangnya” bukan “kekristenannya”? Dalam semua agama, bahkan dalam semua “kelompok” belief, selalu punya orang-orang “bodohnya” masing-masing kan? Kalau soal adanya oknum yang menyalahgunakan ajaran kristen untuk melakukan pembodohan, bukankah ada juga yang menggunakan science juga untuk melakukan pembodohan?

Memang, seolah ada indikasi, dengan mengajarkan prinsip-prinsip kekristenan, kita sedang mengajari orang untuk punya cara berpikir yang tidak masuk akal dan “bodoh”. Namun, sebagai orang yang mempelajari kekristenan secara sungguh-sungguh, saya justru menemukan, sejak saya semakin mendalami kebenaran Alkitab, saya justru semakin terlatih untuk memakai nalar, berpikir kritis, dan semakin terbiasa untuk menemukan kebenaran dalam koridor yang “masuk akal” sehingga iman saya justru semakin lebih diperkuat dari sebelumnya.

Jadi, saya cukup bingung kalau masih ada orang yang menuduh menjadi orang Kristen adalah sama dengan menjadi orang bodoh.

 

KEDUA,

Tidak semua yang masuk akal itu harus logis.

Saya beri contoh. Kenapa ada orang tua yang tetap mau menolong anaknya walaupun anaknya sudah berkali-kali kurang ajar? Jawabannya, karena mereka orang tuanya, mereka mengasihi anaknya. Masuk akal kan? Tapi apakah logis?

Tidak logis untuk menolong orang yang sudah jelas merugikan dan tidak ada jaminan bahwa dia akan berubah. Bahkan meskipun itu anak, tetap saja tidak logis. Tapi menjadi masuk akal ketika kita melihat dari view orang tua-anak. Tidak semua yang masuk akal itu logis.

Kekristenan sangatlah masuk akal, walaupun tidak selalu logis.

Ada banyak hal dalam kekristenan yang mungkin tidak masuk di logika kita, tetapi sesungguhnya kalau view kita diperluas, kita bisa mengetahui bahwa semuanya masuk akal.

Jika Anda tidak bisa menemukan dimana masuk akalnya kekristenan, saya akan terlalu panjang untuk menjelaskannya. Tapi saya bersedia untuk ngobrol dengan Anda kalau memang Anda penasaran dengan ini.

 

KETIGA,

Cara pendeta/gembala/pengkotbah atau orang tua dalam menyampaikan kekristenan seringkali terbatas. Mereka mungkin tidak memiliki wilayah berpikir yang sama dengan kita karena background dan generasi maupun budaya yang sudah berbeda. Mungkin mereka banyak bicara berdasar pengalaman pribadi dan bagi kita itu sulit diterima karena terkesan subyektif.

Namun bukan berarti kekristenan tidak bisa dijelaskan dan dipahami dengan modern. Semuanya hanyalah masalah bahasa dan penyampaian saja.

Saya bisa menunjukkan orang-orang “pintar” dan “intelektual” yang mencintai Tuhan secara radikal. Kekristenan tidak selalu identik dengan pembodohan maupun kebodohan.

 

KEEMPAT,

Memang prinsip kekristenan berbeda dengan prinsip dunia pada umumnya. Bahkan ada banyak prinsip yang berkebalikan. Misalnya, bagi dunia umum, kita memegang teguh prinsip: “lihat dulu baru percaya”.

Dalam kekristenan, sebaliknya, kita malah “percaya dulu baru lihat”. Dan kita menyebut ini iman.

Tapi, kalau dipikir-pikir, bukankah banyak kejadian dalam hidup kita, yang tanpa sadar kita kerjakan dengan “iman” ini? Misalnya, melahirkan anak. Siapa yang sudah bisa melihat masa depan bahwa anaknya pasti jadi orang baik? Yakin tidak akan durhaka? Tapi toh tetap saja anaknya dilahirkan? Bukankah ini percaya dulu, baru melihat?

Dan kalau sampai Kita menyebut ini sebagai sebuah kebodohan, maka kita benar-benar tidak tahu diri. Kenapa begitu? Karena berkat “kebodohan” itulah kita bisa ada sekarang dan menjadi seintelektual ini. Andaikan orang tua kita pintar, penuh perhitungan, dan “intelektual” seperti standar kebanyakan orang “cerdas”, bisa jadi mereka takkan mau punya anak dan kita takkan pernah eksis.

“Kebodohan” merekalah yang menghidupkan kita. Dan kini, dengan “kepintaran” kita, malah kita menuduh mereka bodoh.

Apa maksud saya menuliskan semua ini?

Saya mencoba membukakan kepada Anda, meski tampaknya banyak sekali prinsip-prinsip kekristenan yang kelihatan bodoh dan terbalik dengan cara kerja dunia ini, tapi kalau ditelaah baik-baik, justru sebenarnya banyak dari prinsip itu tidak sebodoh kelihatannya dan malah itulah prinsip-prinsip yang menjaga kita tetap hidup sampai hari ini.

Jadi sebelum kita mengambil kesimpulan bahwa kekristenan adalah kebodohan dan orang Kristen adalah orang-orang bodoh, sebaiknya, cobalah menyelidiki lebih dulu dengan bijaksana, karena jangan-jangan, di balik “kepintaran otak” yang kita bangga-banggakan itu, kita justru sedang mempertunjukkan kebodohan kita secara intelek.

Well, so far, i’m proud to be a christian.


by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *