Para Pengamen Dalam Gereja

“Penyembahan sejati tidak lahir dari ketakutan maupun kerakusan…”

 

Kejadian 1:1, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Alkitab memulai tulisannya dengan kalimat ini. Pertanyaannya, apa yang ada sebelum itu? Sebelum Tuhan menciptakan langit, bumi, dan manusia, apa yang ada?

Kekekalan. Tuhan yang berdiam dalam kekekalan.

Saya tidak ingin membahas soal kekekalan dalam artikel ini. Tetapi, yang jelas, tak seorang manusiapun mengetahui seperti apa rasanya hidup dalam kekekalan karena semua yang ada di dunia ini hidup dalam kerangka kefanaan.

Tapi, yang jelas, sebelum kita ada. Tuhan sudah lebih dulu ada.

Pertanyaannya, kenapa Tuhan tidak membiarkan saja keadaan “kekekalan” itu terus berlangsung tanpa kehadiran kita?

Kenapa Tuhan lebih memilih meng’ada’kan kita ketimbang membiarkan ketiadaan langit, bumi, dan manusia.

Kenapa Dia lebih memilih manusia ada, ketimbang tidak ada?

Padahal, saya sangat percaya, di dalam kekekalanNya, Tuhan tidak kekurangan suatu apapun. Perasaan Tuhan tidak kurang, sehingga Dia harus mengisinya dengan manusia.

Ada atau tiadanya manusia, sebenarnya tidak pernah mengurangi ataupun menambahi Tuhan. Di dalam kekekalannya, Tuhan sudah sempurna adanya.

Lalu, apa yang membuatNya memilih untuk menjadikan manusia?

Saya bukan Tuhan, saya tidak pernah akan tahu sepenuhnya apa alasan Dia untuk menjadikan kita. Tetapi, sejauh apa yang saya pelajari dalam Alkitab. Saya hanya menemukan satu alasan saja: karena kasih.

Tuhan tidak menciptakan manusia untuk bekerja padaNya. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk melakukan sesuatu bagi Dia. Yang saya pahami, tujuan awal Tuhan menciptakan manusia adalah untuk menikmati persekutuan denganNya. Tuhan memang tidak membutuhkannya, tapi Dia ingin tetap melakukannya. Tuhan tidak berkewajiban, tapi Dia berkehendak.

Bahkan, secara ekstrim, saya bisa berkata, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk “menyembah” Dia (kalau definisi menyembah adalah menyanyi dan memuji Dia). Seperti kata-kata Rick Warren, Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi obyek sasaran kasihNya. Untuk berkasih-kasihan denganNya dalam sebuah persekutuan yang abadi.

Kenapa Dia melakukan itu? Tanyakanlah kepadaNya di Surga nanti.

Menanyakan pertanyaan itu seperti bertanya kepada pasangan suami istri yang sudah kakek nenek, “kenapa kamu bersedia hidup bersamanya sampai tua dan mati?”, jawabannya cuma karena kasih yang dinyatakan melalui “persekutuan” perkawinan. Wajibkah? Tidak. Haruskah? Tidak. Bisakah tidak dilakukan? Bisa. Tapi mereka tetap ingin melakukannya karena kasih diantara mereka.

 

APA PENTINGNYA SEMUA INI?

Jika kita memahami hakikat dasar ini, kita akan mulai memahami bahwa kekristenan bukanlah berbicara soal agama dan sepaket aturan boleh tak boleh.

Jika kita memahami esensi ini, kita akan mulai mengerti bahwa Tuhan bukanlah berhala yang diberi sesajen untuk mengeluarkan “berkat”.

Sayangnya, terlalu banyak orang Kristen yang menganggap Tuhan demikian. Seolah seperti mesin permainan Time Zone, yang menyala ketika kita memasukkan koin (doa, kolekte, dan semua ritual kita). Seolah Tuhan seperti Jin Lampu yang muncul mengabulkan semua permintaan kita ketika kita mengusap-usap kediamanNya (dengan nyanyian, uang, dan pelayanan kita).

Andaikan, semua orang Kristen memahami bahwa semua yang kita lakukan, adalah bentuk persekutuan kita denganNya. Sebuah bentuk hubungan “berkasih-kasih’an” denganNya. Andaikan kita melakukan semua kekristenan kita dengan pemahaman ini, maka semuanya akan menjadi berbeda.

Kita takkan lagi menjadikan ibadah hari minggu sebuah tempat liturgis untuk melepaskan (maaf) “hajat” agamawi kita dan keluar dari gedung gereja dengan kelegaan karena baru saja menyelesaikan “tuntutan” agama.

Sebaliknya, ibadah minggu menjadi sesuatu yang kita syukuri dan nikmati karena selama seminggu sekali, kita bisa bersama-sama dengan saudara yang lain berjumpa dengan Tuhan secara korporat. Ini menjadi semacam sebuah  ajang “hang out” rame-rame antara kita, saudara seiman, dan Tuhan sendiri.

Dan,  pemahaman seperti ini akan mencegah kita semua untuk menjadikan gereja sebagai tempat kita untuk “mengamen”.

Tanpa berniat sama sekali untuk mengecilkan profesi pengamen, tetapi analogi ini sangatlah tepat untuk menggambarkan kebanyakan gaya hidup kekristenan kita. Kita datang kepada Tuhan dalam doa, nyanyian, dan pelayanan dengan tangan menengadah sambil “menodong” agar Tuhan memberikan sesuatu sebagai imbalannya. Bukankah kita sedang mengamen di rumahNya?

Pengamen tidak menyanyikan lagu karena punya hubungan dekat dengan Anda. Kekasihlah yang melakukan itu. Anak yang melakukan itu. Sahabat yang melakukan itu. Pengamen tidak.

Pengamen menyanyikan lagu untuk menagih imbalan dari Anda.

Jika Anda berpikir, semua aktifitas agama Anda menjadi sebuah “suapan” atau “kompensasi” agar Tuhan memberkati Anda atau memberi Anda mukjizat, maka Anda sedang menyamakan Tuhan selevel dengan berhala.

Penyembahan sejati tak pernah lahir dari kerakusan. Penyembahan tak ada hubungannya dengan apa yang akan Anda terima, karena ini berbicara soal apa yang Anda beri untuk Tuhan.

penyembahan-dalam-gereja

 

KETIKA SANG PEMBERI LEBIH PENTING DARI PEMBERIAN

3 Orang muda bernama Sadrakh, Mesakh, Abednego.

Mereka sedang terancam di hadapan dapur api yang menyala. Dalam kengerian yang diperhadapkan kepada mereka, Raja yang berkuasa saat itu memaksa mereka untuk menyembah kepadanya dan meninggalkan Tuhan.

Manusia selalu memaksa manusia lain untuk menyembah dirinya dengan jalan ditakut-takuti.

Tuhan tak mau melakukan cara itu, karena penyembahan sejati tidak lahir dari ketakutan. Penyembahan yang lahir dari rasa takut bukanlah penyembahan, itu adalah keterpaksaan dan keputusasaan. Tuhan mengharapkan hubungan kasih, dan kasih takkan pernah melibatkan ketakutan.

Kalimat fenomenal yang kemudian diucapkan oleh ketiga orang itu adalah:

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan  kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. – Daniel 3:16-18

Inilah hakikat penyembahan.

Ketiga anak muda itu tak memikirkan apakah Tuhannya sanggup menyelamatkan mereka. Mereka tak sedetikpun berpikir mukjizat apa yang akan Tuhan kerjakan untuk mereka, atau berkat apa yang akan terjadi dalam hidup mereka ketika mereka taat kepadaNya. Mereka menyembah Dia murni karena kasih mereka sungguh tak tergantikan oleh apapun, bahkan oleh nyawa mereka sendiri sekalipun.

Ketiga orang muda menginginkan Tuhan melebihi menginginkan pertolonganNya.

Suatu hari, Tuhan Allah berhadapan dengan Musa. Tuhan berkata bahwa mulai hari itu, Dia tidak ingin lagi berjalan bersama dengan bangsa Israel. Tetapi, sebagai gantinya, Tuhan memerintahkan malaikatNya untuk berjalan bersama bangsa Israel untuk memenuhi SEMUA kebutuhan mereka.

Kalau dipikir-pikir. Apa yang akan berubah? Dengan penyertaan malaikat Tuhan, rasanya hampir takkan ada yang berubah. Kemenangan tetap diberikan, berkat melimpah tetap disediakan, perlindungan tetap diperoleh, dan semua kebaikan tetap terjadi. Tak ada yang berubah, kecuali Tuhan sudah tidak beserta.

Tapi, Musa menjawab:

“Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” -Kel 33:15

Bagi Musa, ketiadaan Tuhan memberikan perbedaan atas segalanya.

Bagi Musa, berjalan bersama Tuhan, lebih besar artinya daripada segala berkat dan mukjizat yang akan dia peroleh.

Sungguh menyedihkan, melihat orang Kristen berlomba-lomba mengejar berkat dan mukjizat lebih dari mengejar Tuhan sang pemberi berkat itu sendiri. Kita menjadi begitu fasih bersikap seperti pengamen kepada Dia (bahkan tak jarang seperti debt collector yang menagih janji dalam doa).

Dalam perjalanan saya 23 tahun menjadi orang Kristen, kini saya kian menjadi sederhana dan paham. Bahwa bukan persembahan yang Dia inginkan. Bahkan, sebenarnya, bukan pula penyembahan. Melainkan penyembahnya. Tuhan saja memandang kita (sang pemberi) lebih penting dari apa pemberian kita kepadaNya.

Apakah Anda juga menginginkan pribadiNya lebih dari berkat dan pertolonganNya?

Jangan datang lagi kepadaNya dengan membawa request list Anda. Datanglah kepadaNya seperti Anda datang kepada seorang kekasih. Siap member segalanya untuk Dia dan siap berkasih-kasih’an denganNya. Itulah yang diinginkanNya lebih dari semuanya. Untuk itulah kita diciptakan sejak semula.

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”
Hosea 6:6


By Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

3 thoughts on “Para Pengamen Dalam Gereja

  1. Awesome! Artikel yang sangat menarik dan mengajarkan dasar dan alasan yang benar ketika bersekutu dengan pribadi Tuhan.

    Penyembahan sejati tak pernah lahir dari kerakusan. Penyembahan tak ada hubungannya dengan apa yang akan Anda terima, karena ini berbicara soal apa yang Anda beri untuk Tuhan. < quote yang menohok kekeliruan paradigma dan sangat memberkati saya secara pribadi 😄

    Keep writing ko Iwan, always share the wisdom from God through your writings

  2. AWESOME 👏👏👏
    Thank you so much ko Iwan! Sangat di berkati sekali. Tetap menulis yaa. Tuhan Yesus memberkati ko Iwan lebih lagi 😊

  3. Sangat mencerahkan… Dan harus seluruh orang yang ngaku kristen baca ini artikel…biar hidup gak agamawi.. Thanks pak irwan.. Sebuah pewahyuan yang luar biasa memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *