Resolusi 100% GAGAL!

KADAR EMOSIONAL

Selama 7 tahun mendalami mengenai Kecerdasan Emosi (EQ), saya menemukan kenyataan bahwa factor perasaan (emosi) jelas-jelas memiliki efek pendorong lebih kuat daripada sekedar rasio dan logika.

Hal-hal yang kita tahu baik untuk kita, belum tentu kita lakukan jika kita belum memiliki dorongan emosi yang kuat untuk membuat kita bergerak. Resolusi menurunkan berat badan mungkin muncul sebagai akibat dari rasio dan logika kita yang berkata “ini waktunya kamu menurunkan berat badan, selain memperbaiki penampilan, berat berlebih juga mengancam kesehatanmu”.

Tapi hanya sekedar mengetahui bahwa itu baik, tidak menjamin bahwa Anda akan punya KEMAUAN yang kuat untuk mewujudkannya. Itu sebabnya, resolusi yang dibuat hanya karena sekedar bagus menurut rasio dan logika, biasanya adalah jenis resolusi yang tak terwujud.

Berbeda kasusnya jika selama tahun sebelumnya Anda terus-menerus diejek banyak orang karena berat badan Anda. Begitu malunya Anda, begitu terasa sakitnya perasaan Anda, dan begitu “iri”nya Anda dengan orang-orang yang bentuk tubuhnya ideal karena seolah-olah mereka memiliki “nasib” lebih baik hanya karena bentuk tubuh mereka berbeda.

Perasaan-perasaan yang bergumpal dan terus bergulung membesar itu yang kemudian membuat Anda mencanangkan resolusi “aku harus menurunkan berat badan tahun ini!”

Resolusi ini saya yakin lebih manjur karena ketika kita mengingat resolusi itu, perasaan-perasaan yang menyertainya kembali terbangkitkan dan menjadi kekuatan pendorong yang membuat kita mampu melakukan apa saja dan melewati proses menyakitkan apapun demi mewujudkan resolusi kita.

Hanya saja, saya tidak menganjurkan untuk kita membuat resolusi berdasarkan dorongan emosi yang kurang tepat. Dendam, benci, iri, keinginan membalas, dan berbagai emosi sejenis memang sungguh kuat kuasanya, namun efek jangka panjang untuk hidup Anda sungguh tidak baik. Karenanya, carilah emosi-emosi yang lebih kondusif untuk menjadi bahan bakar resolusi Anda.

Contoh saya pribadi, saya memiliki mobil karena setiap kali saya pergi dengan istri saya naik motor, kami sering kehujanan, kepanasan, diterpa polusi Jakarta yang sungguh “menawan”, dan berkali-kali harus mendorong motor akibat ranjau paku yang ditebar para pengecut jalanan.

Meski istri saya senantiasa tersenyum (saya yang manyun), dan tampak tak keberatan dengan keadaan ini, namun hati saya selalu berkata “saya harus bisa bahagiakan dia, saya harus bisa memberi keadaan yang lebih baik untuk dia, apalagi nanti kalau dia hamil…” Maka perasaan-perasaan itu yang kemudian meledak-ledak memompa energy saya untuk melakukan sesuatu demi mewujudkan resolusi “punya mobil”.

3 thoughts on “Sebuah Pertanyaan?

  1. Sangat bagus pembahasan dari artikel ini, menelaah hal-hal yang cenderung diabaikan dan membuat gamer secara tak sadar berperilaku hal-hal yang berujung destruksi terhadap hidupnya di dunia nyata. Terus sharing hal yang bermanfaat ya kak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *