Saya Malu, Ahok!

avatar150Saya rasa hari ini, 9 Mei 2017, adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling memalukan bagi (mungkin dan seharusnya) sebagian besar orang yang mengaku dirinya “anak Tuhan” dan mengaku “cinta bangsa Indonesia”.

Saya secara pribadi, mengakui, sayalah salah satu orang yang merasa malu.

Keputusan “bersalah” yang diberikan kepada Ahok yang mengirimnya kepada penjara sungguh membuat saya malu. Selama 23 tahun menjadi orang Kristen dan selama 37 tahun saya hidup di bumi Indonesia, belum pernah saya merasakan rasa malu yang sekuat dan sebesar ini.

Saya tidak malu dengan pernyataan bersalah yang disematkan kepada Ahok. Saya justru malu kepada diri saya sendiri. Tiba-tiba, saya merasa malu dengan sebutan yang (seringnya) kita bangga-banggakan sebagai “anak Tuhan”.

Selama beberapa bulan, kita dipertontonkan dengan “suguhan” perjuangan habis-habisan yang dilakukan oleh Ahok demi memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Mungkin banyak orang yang membenci dia. Banyak orang yang bahkan menganggapnya bukan orang Indonesia lantaran mata sipit, logat oriental, dan agama “kafir”nya. Tapi, sebenarnya, andaikan kita benar-benar melihat secara obyektif dengan melepas kacamata “keagamawian” kita semua. Kita akan melihat bahwa orang bernama Ahok ini, begitu cintanya pada Indonesia, sampai begitu nekat menerobos semua sistem dan kebiasaan yang sebenarnya merugikan dan mempersulit dirinya untuk bisa berkontribusi bagi bangsa.

Beberapa orang, baik teman maupun saudara, pernah berkomentar, “Ahok itu ngapain sih? Udahlah gak usah maksa jadi gubernur, hidup tenang aja dan menikmati hidup. Ngapain dia susah-susah gitu, sementara banyak orang nggak akan ngerti apa yang berusaha dia perjuangkan”.

Tapi begitulah cinta.

Kalau kamu pernah merasakan cinta, kamu akan paham mengapa seseorang mau melakukan hal yang paling rugi bagi dirinya demi orang lain. Begitu besarnyakah cinta Ahok kepada Indonesia? Sampai-sampai keluarganya dipertaruhkan, masa depannya dipertaruhkan, kenyamanannya dilepaskan, dan bahkan nyawanya sendiri dipertaruhkan. Cinta model apa ini? Apakah Ahok terlalu bodoh untuk melihat bahwa dia hanyalah warga keturunan Tionghoa yang menjadi minoritas dengan agama yang juga minoritas?

Apakah Ahok terlalu naif dan tolol untuk mengetahui bahwa perjuangan yang sedang dia lakukan adalah seperti Leonidas (dalam film 300) yang melawan begitu banyak pasukan gabungan. Bahkan, meski mungkin Ahok juga sudah tahu pada akhirnya, hal-hal seperti sekarang ini bisa saja terjadi, toh dia tetap memilih melakukan perjuangannya demi cintanya buat bangsa ini.

Kalau meminjam analogi dari sepenggal lirik lagu Hillsong “What a beautiful name”, kurang lebih seperti ini, “ke’rese’an sebagian bangsa ini memang besar, tapi cinta Ahok kepada bangsa ini lebih besar”.

Sebagai orang-orang intelektual, saya yakin banyak sekali orang-orang logis yang berteriak kepada Ahok, “Apa yang kau lakukan!? Orang-orang yang kau perjuangkan itu tak bisa menghargai perjuanganmu dan takkan pernah mengerti perjuanganmu! Mereka tak layak untuk mendapatkan hidupmu! Tinggalkan saja mereka!” Seperti banyak status social media yang berkata, “Jakarta tidak layak untuk punya Ahok” dan mungkin kini, “Indonesia tak layak untuk memiliki Ahok”.

Teriakan yang sama yang Yunus serukan pada Tuhan, “Niniwe tidak layak mendapat belas kasihMu”.

Tapi toh, Ahok tetap mencintai bangsa ini.

Inilah yang memilukan dan memalukan hati saya. Selama ini, kita orang Kristen setiap minggu berteriak-teriak dalam “doa” untuk bangsa dan negara. Berkumpul di Senayan atas nama doa untuk bangsa. Melakukan semua “kegerakan cinta bangsa”.

Tapi, sesungguhnya kita “hanya menyaksikan” Ahok berjuang sendiri bersama segelintir pasukan 300’nya. Sementara mayoritas dari kita lebih banyak “mendukung dalam doa” yang sebenarnya hanyalah retorika perwujudan dari rasa takut, perwujudan dari keengganan kita meninggalkan zona nyaman, dan perwujudan dari ketidakcintaan kita terhadap bangsa ini. Betapa rohani dan kudusnya “tameng” persembunyian kita.

(walau tak selalu begitu) Momen-momen dan event-event yang dibuat atas nama “doa bagi bangsa” tak jarang hanya menjadi ajang show off massa gereja, berbagi panggung dan mic bicara, dan sekedar euforia atas nama cinta bangsa. Sampai kapan kita akan bermain-main “cinta-cinta’an” dengan model seperti ini? Dengan sekian besar kekuatan gereja “yang diurapi” dan diisi oleh puluhan ribu orang hebat yang menempati berbagai posisi strategis di bangsa ini, sungguhkah hanya segini yang bisa kita lakukan untuk negeri ini?

Pertanyaan yang sama berlaku kepada saya, sungguhkah hanya segini yang bisa dilakukan Josua Iwan Wahyudi untuk bangsa ini?

Memang, tentu saja, tidak semua orang bisa melakukan seperti yang Ahok lakukan. Tidak semua orang bisa berpolitik (dengan benar). Tidak semua orang seberani dan “segahar” Ahok. Tapi setidaknya, apa yang sudah kita lakukan selama ini, selain menyanyi dan mengucap harapan (yang seringnya dilakukan tanpa kesungguhan hati)?

Pertanyaan ini yang benar-benar mengguncang saya hari ini.

Kita bisa saja, berkata, “Oh, saya bekerja juga untuk membangun perekonomian bangsa kok”, “Oh, bisnis saya menghidupi ribuan karyawan lho…”, “Oh, saya membuat pelayanan-pelayanan sosial untuk bangsa Indonesia kok…”, “Oh, melalui profesi saya sebagai guru, saya sudah berperan membangun bangsa kok…”, dan berbagai komentar senada lainnya.

Okelah, itu semua bagus. Tapi, marilah hari ini kita benar-benar bertanya dalam hati nurani terdalam kita. Sungguhkah engkau mencintai bangsa ini? Apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini? Cukupkah segitu?

Kalau apa yang sudah dilakukan Ahok, sama sekali tidak menggerakkan hati dan setidaknya menampar hati sebagian kita (yang selama ini mungkin belum melakukan apa-apa), maka saya tidak tahu lagi, hal apa yang bisa menggerakkan hati ini.

Hanya sekedar memasang profil picture Pancasila, mengumpat-umpat di social media, membuat meme-meme sindiran, dan (sebenarnya mungkin) menulis artikel semacam ini, sesungguhnya tidaklah terlalu berdampak besar untuk kemajuan bangsa ini.

Saya pribadi, siang hari ini sungguh-sungguh berpikir. Kalau saya memang tak bisa turun di jalanan berdemo. Kalau saya tak bisa berpolitik. Apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang trainer, pembicara, dan penulis buku. Saya mencoba sungguh-sungguh memeras otak saya, harus ada sebuah tindakan nyata yang benar-benar bisa membawa perubahan kepada “core” bangsa ini. Mungkin saya akan memulainya dari jalur yang menjadi keahlian saya.

Bagaimana dengan dirimu?

Ayolah kawan, cukuplah berteriak kepada Tuhan. Sudah saatnya kita berbuat sesuatu.
Itu kalau kamu memang cinta Indonesia.

Malulah pada Ahok… (dan pada Tuhan).


by Josua Iwan Wahyudi
follow instagram JosuaIwanWahyudi

 

11 thoughts on “Saya Malu, Ahok!

  1. Saya inget jaman mahasiswa dan jadi pengurus BEM kak. Waktu kakak kelas ngeluh tentang BEM yang berantakan krn ditinggal ketua yg lama krn sakit, lalu dosen pembimbing mahasiswa tanya.. Siapa yang mau memberi diri jadi panitia pemilihan BEM berikutnya? Semuanya diam.

    Selesai rapat, jadi nangis di depan dosen. Gemeter juga antara kecewa dan marah… Kirain semua yang ngomong dan berkeluh kesah akan langsung memberi diri. Tapi akhirnya mereka bersedia sih. Hehehe.

    Ketua BEM yang di bawah saya malah salut banget. Dia punya visi mematahkan pandangan kalau jurusan Psikologi Ukrida itu eksklusif. Dia memberi diri buat jadi ketua. Dia aktif di BEM Uni. Visi dia terlaksana. Di bawah dia BEM Psikologi Ukrida makin hidup, makin aktif.

    Sesuatu yang kita cintai ga akan jadi lebih baik kalau kita keluh2kan terus menerus tanpa kita mau bertindak sesuatu. *mewek

    Omongan memang ga cukup.Ngeluh ga cukup. Doa harus tapi juga harus berani berdiri dan memberi diri. Ga usah jadi orang besar dulu, asal mau terlibat.Harus berani ngomong kebenaran walau dibilang “aneh”. Walau dibilang bego, walau kuliah lulus jadi lama (eh, jangan ditiru).Gereja itu rumah, ladangnya di luar sana.

    Moga2 Pak Ahok jadi si sulung yang akan menarik orang benar untuk berani keluar. Berani bersuara. Terutama di pemerintahan.

    • Saya berharap bukan hanya di pemerintahan dan politik, tapi di semua lini mulai lahir2 orang2 yang mengubah bangsa menjadi lebih baik sesuai visi founding father semula

    • Ya situ mikir sendirilah, masak suruh saya yang mikir hahahaha…
      Kalau saya ya pakai jalur edukasi karena keahlian saya disitu. Lha situ keahliannya apa, ya berkontribusilah lewat jalur itu. Gitu lho maksudnya 🙂

  2. Hal kecil yang sudah saya lakukan adalah dengan tindakan tidak buang sampah sembarangan. Apakah ini nyambung pak?

  3. Kita hanya berkata selama ini mendukung Ahok dalam doa, tapi itu tidak cukup. Sama seperti Musa. Tuhan perintahkan kepadanya: “Musa jangan hanya berteriak tapi harus bertindak”. Saya mengamati tindakan kita sangat kurang, sehingga kita dari pihak yang mendukung Ahok hanya penonton saja.

  4. Terima kasih atas teguran kerasnya.
    Sungguh benar, kaum kristiani bersembunyi dibelakang doa.
    Mungkin bukan karena kita tidak mau menunjukkan badan
    Tetapi barangkali karena telah tertindas sekian lama
    Sehingga tidak punya keberanian
    Jadilah kita sibuk di sosmed, kirim bunga, kirim doa ya
    Yang parah ‘Tidak bisa ikut, soalnya mau kerja’
    Padahal kerjaan tidak akan lari, besok pun masih ada
    Ahok sudah memberikan tubuh dan darahnya
    Dan kita tidak bisa melindunginya, padahal kita teman seiman
    Malu melihat sejarah ini berjalan didepan mata
    Mana tanggung jawab kita pada sesama?
    Seperti melihat orang dilukai dan kita diam berdoa
    MALU. MALU. MALU.

  5. Thanks Josua untuk sharingnya. Salam kenal ya. Terimakasih sudah mengingatkan semua pengikut Kristus mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh kita-kita yang mengaku anak Tuhan dan cinta Indonesia. Saya sepakat denganmu, bahwa berbuat sesuatu untuk negri ini bisa dimulai dengan apa yang menjadi profesi, bagian, dan tanggungjawab kita. (Saya adalah seorang digital artist bekerja di bidang animasi). Belajar setia melakukannya. Selain itu, hidup sebagai warga negara yang taat pada otoritas/ hukum, saya percaya bentuk kita mencintai negri ini sambil juga memuliakan Tuhan. Hal paling sederhana. Lalu lintas. Seperti apa warga negara yang baik dan anak Tuhan yang baik dalam berlalu lintas? Lawan arahkah? Tidak taat rambu? Merugikan orang lain? Saat buru-buru ke gereja, tetapi mengabaikan aturan demi tidak terlambat, atau tidak pakai helm alasan dekat, dll. Ini seperti mengkotak-kotakkan. Padahal semua adalah “rohani”. Semua adalah bentuk ibadah. Roma 12:1-> Demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan pada Allah. Itu adalah IBADAHMU YANG SEJATI. 24 jam, 7 hari seminggu adalah ibadah. Dengan perspektif ini, semoga dalam segala hal yang bisa kita kerjakan, baik sebagai anak Tuhan, warga yang cinta Indonesia, dan warga Sorga, kita bisa memuliakanNya dengan apapun yang kita kerjakan. Seperti Bpk Ahok sudah melakukan dan sedang berusaha finishing well.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *