Stop (Ritual) Perpuluhan!

avatar150Perpuluhan sudah menjadi pro dan kontra sejak saya menerima Yesus sebagai Tuhan pada tahun 1994. Namun, sekarang ini, topik perpuluhan kian ramai diperdebatkan. Dan menariknya, menurut riset Barna Group (yang sayangnya, dilakukan di Amerika), tren orang dalam memberikan perpuluhan kian menurun. Terutama, di kalangan generasi muda.

Meski Indonesia tidak memiliki survey semacam ini, tapi saya yakin sekali tren ini juga berlangsung dalam kehidupan kekristenan di gereja-gereja Indonesia.

Terbukti, banyaknya “sanggahan” dan “protes” soal perpuluhan yang muncul dari generasi milenial (setidaknya, di timeline Facebook saya).

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi soal perpuluhan ini?

Marilah kita bedah perlahan-lahan. Saya mungkin akan menuliskan ini agak panjang, tapi, tolong bertahanlah bersama saya dalam artikel ini.

 

ASAL MUASAL PERPULUHAN

Dengan mengetahui permulaannya, kita akan memahami apa tujuannya.

Pertama kali, tindakan melakukan perpuluhan ini, tercatat di Kejadian 14:20, ketika Abraham memberikan 1/10 dari seluruh hartanya kepada Iman Melkisedek (yang seringkali dianggap simbolisasi dari Yesus Kristus – atau bahkan sebagian ahli menyatakan bahwa Melkisedek adalah Yesus sendiri).

Abraham melakukan ini sebagai bentuk ucapan syukurnya kepada Tuhan karena kemenangan yang dia alami dan karena dia berhasil mendapatkan Lot kembali.

Tindakan Abraham ini BUKANLAH ritual, karena tidak pernah ada hukum atau aturan yang mengharuskan Abraham melakukan itu. Murni ini dilakukan sebagai ekspresi penyembahan ucapan syukurnya kepada Tuhan. Mengapa jumlahnya 1/10? Saya tidak tahu.

Lalu, berikutnya, kita akan mulai menjumpai perpuluhan mulai “diformalkan” menjadi sebuah hukum di Bilangan 18:21, dimana perpuluhan harus dilakukan oleh seluruh bangsa Israel (kecuali suku Lewi) dengan tujuan untuk memelihara kehidupan para suku Lewi yang memberikan diri sepenuhnya untuk melayani kemah Tuhan.

Konsep ini yang kemudian diadopsi gereja, dimana perpuluhan diberikan kepada “hamba Tuhan” atau pendeta yang melayani sepenuh waktu, karena para pelayan sepenuh waktu itu dianggap seperti suku Lewi yang memberi semua waktunya untuk pelayanan, sehingga jemaat (yang dalam hal ini dianggap seperti bangsa Israel), memberikan 1/10 penghasilan mereka untuk menghidupi para pelayan sepenuh waktu ini.

Sejak perpuluhan menjadi bagian dari hukum taurat, maka perpuluhan juga menjadi bagian dari gaya hidup turun-temurun yang terus dilakukan oleh bangsa Israel (yahudi).

 

TUJUAN PERPULUHAN DALAM TAURAT

Apa tujuan perpuluhan dimasukkan dalam hukum taurat Musa?

Untuk memahami sepenuhnya, sebaiknya Anda membaca artikel saya “Hukum Taurat: Dibuang Aja!”. Disitu secara jelas, saya menuliskan bahwa tujuan SEMUA taurat diberikan BUKANLAH soal keselamatan. Melainkan, taurat diberikan sebagai “prolog” dari injil. Taurat diberikan untuk “mengawal” Israel kepada Injil. Dan taurat diberikan untuk melatih gaya hidup Ilahi seperti yang diharapkan Tuhan.

Artinya, perpuluhan dijadikan hukum, untuk MELATIH bangsa Israel memiliki kesadaran dan gaya hidup selalu bersyukur kepada Tuhan, selalu mengingat bahwa semua yang mereka miliki adalah kasih karunia dan pemberian Tuhan, dan selalu sadar bahwa Tuhanlah pemilik segalanya.

Untuk memiliki sebuah kesadaran tertentu, manusia itu perlu dilatih melalui sebuah tindakan disiplin.

Contoh, kalau saya melakukan konseling atau coaching pernikahan bagi pasangan-pasangan tertentu, untuk membuat mereka setiap saat sadar bahwa istri/suami kita itu mencintainya sepenuh hati, saya meminta mereka tiap hari menuliskan 3 hal terbaik yang dilakukan oleh pasangannya kepadanya.

Ini bukan soal aturannya, ini soal apa tujuan di balik aturan itu.

Tuhan menjadikan perpuluhan sebagai sebuah hukum agar Israel selalu memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka.

Mengapa ada hukuman dan berkat ketika melakukan atau melanggar hukum taurat?

Dimana-mana untuk membentuk sebuah kultur, diperlukan disiplin. Mengapa penduduk Jakarta suka membuang sampah seenaknya? Karena hukuman tidak ditegakkan. Demi supaya bangsa Israel benar-benar memiliki gaya hidup yang selalu sadar akan kedaulatan Tuhan, itu sebabnya, hukum taurat diberikan (termasuk perpuluhan di dalamnya).

Kalau Anda memahami 2 background sejarah munculnya perpuluhan, dan apa tujuan di balik adanya perpuluhan, apakah ada yang salah dari semuanya ini?

Apakah ada yang perlu di”complain”?

Kalau ada orang Kristen yang mengungkapkan rasa syukurnya melalui perpuluhan, lalu kita “goblok-goblok’an” dia, siapa sesungguhnya yang “goblok”?

Kalau kita mengetahui ada sebuah disiplin, bahkan, katakanlah, ada sebuah “program” dan “aturan” yang kita tahu persis itu menuntun kita untuk memiliki gaya hidup yang terus-menerus sadar dengan Tuhan. Apa salahnya kalau kita melakukannya?

Makanya, kekristenan itu berbicara relationship with God with understanding.

Semua yang kita lakukan, haruslah lahir karena pengenalan dan kedekatan kita denganNya, dan dengan pengertian/pemahaman/kesadaran. Bukan sekedar melakukan karena disuruh atau karena semua orang melakukannya.

Tentu saja, soal angka 1/10, saya yakin itu bukanlah standar yang harus dibakukan. Jika memang kesanggupan kita untuk “melatih” disiplin ini baru bisa dimulai dari angka 5%, tentu Tuhan tidak akan keberatan menerimanya.

Mengapa Tuhan memberikan angka 1/10 kepada Israel, karena saya yakin itu adalah angka yang sanggup dipenuhi oleh bangsa Israel.

Lagian, dari sekian orang yang mem”protes” soal perpuluhan, mayoritas justru adalah orang-orang yang mampu untuk memberikan 1/10 itu. Saya menjumpai banyak orang yang sanggup makan mewah, nonton, dan beli fashion rutin, tapi kemudian mengaku tidak sanggup melakukan “penyembahan” dalam bentuk perpuluhan. Bukankah kita sedang menipu Tuhan?

Melihat perpuluhan tidak boleh melihatnya sebagai sebuah RITUAL. Ketika kita melihatnya sebagai sebuah aturan, sebagai sebuah liturgy, dan sebagai sebuah hukum “boleh-tidak boleh”, maka kita menjadi agamawi seperti orang farisi.

Perpuluhan berbicara soal penyembahan. Sebuah ekspresi yang muncul karena hubungan kita dengan Tuhan. Seperti yang dilakukan Abraham. Kalau Anda baru saja mengalami sebuah kemenangan besar dan Anda bahkan tidak terdorong sedikitpun untuk mengekspresikan ucapan syukur Anda, maka ada yang salah dengan Anda.

Apakah harus dalam bentuk perpuluhan? Tentu tidak, tetapi juga tidak salah kan kalau ada yang mengekspresikannya dalam bentuk itu? Apalagi, kalau kita tahu persis bahwa ini sebuah disiplin yang bagus untuk dibangun.

Banyak orang melatih anaknya untuk menabung, untuk berlatih investasi, dan untuk berlatih mengelola uang. Kita repot-repot bikin aturan “celengan”, bikin aturan “amplop”, bikin aturan “bonus”, dan lain-lain demi mengajari dia mengelola uang.

Bagaimana kalau perpuluhan juga bisa melatih dia untuk selalu sadar dan ingat, bahwa Tuhanlah yang memberi segalanya dan bahwa kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan? Tidak maukah anak Anda memiliki kualitas seperti ini? Lalu, apa salahnya mengajarkan perpuluhan (with understanding) ini kepadanya? Apa salahnya pendeta dan gembala mengajarkan perpuluhan (with understanding) ini kepada jemaatnya?

Oke, saya tahu, Anda sudah mulai menganggap saya sebagai “pembela perpuluhan”. Tahan dulu, izinkan saya selesaikan semuanya.

 

PERPULUHAN DALAM PERJANJIAN BARU?

Nah, Yesus sama sekali tidak menyinggung soal perpuluhan. Bahkan gereja mula-mula yang dibangun oleh para rasul juga “tampak” tidak melakukannya.

Tapi BUKAN BERARTI MEREKA BERHENTI MEMBERI. Baik kepada sesama, maupun yang disetor kepada “rumah Tuhan” (kaki rasul-rasul).

Bahkan, karena cinta mula-mula mereka yang dahsyat, pemberian mereka menjadi lebih radikal daripada sekedar 1/10. Mereka membawa gaya hidup memberi kepada “the next level”. Bukan lagi dibatasi oleh angka yang sekedar 10%, tapi sesuka hati mereka. Dan hebatnya, yang disebut “Sesuka hati” itu terjemahannya adalah: “seberapa dalam kasihmu kepada Tuhan!”

Begini… Pemberian itu adalah ekspresi kedalaman cinta. Semakin dalam cinta Anda, semakin radikal pemberian Anda. Yesus memberi nyawa dan kemuliaanNya, karena cintaNya kepada Anda. Suami-istri memberi seluruh hidup mereka untuk pasangannya karena mereka mencintai.

Bohong besar, kalau Anda mengaku mencintai Tuhan tetapi Anda tidak melakukan pemberian.

“Saya memberi kok. Saya memberi waktu dan tenaga saya! Kenapa pemberian harus selalu diidentikkan uang?”

Good question.

Saya mencintai istri saya Vonny Cicilia Thamrin. Kalau saya sanggup memberikan hidup saya, apalagi uang saya. Dia minta dibelikan apapun, saya akan berikan uang saya untuknya. Bahkan, andai kata, semua uang di rekening dia minta, saya berikan juga kepadanya. Karena saya begitu mencintainya.

Kalau sampai, saya saya tidak bisa memberikan uang saya kepadanya, itu artinya saya lebih mencintai uang saya ketimbang dia.

Kalau sampai Anda begitu berat memberikan uang Anda kepada Tuhan, jangan-jangan karena Anda lebih mencintai uang Anda daripada mencintai Tuhan.

Banyak orang mengajak berdebat soal teologia perpuluhan dan membahas ini-itu. Sudahlah, bukannya saya tidak suka berpikir dan berargumentasi. Tapi, kalau kita memandang kekristenan hanya sekedar “the knowledge about God”, kita akan terjebak soal boleh-tak boleh. Mempelajari Alkitab itu bukan untuk “knowledge achievement”, tapi untuk membuat kita makin mencintai Tuhan dan makin ingin bersekutu denganNya. Kalau perdebatan Alkitab tidak membuat kita sejengkal saja menjadi lebih dekat dengan Tuhan, Anda sedang menuhankan intelektual Anda!

Kekristenan bukan soal pengetahuan tentang Tuhan. Kekristenan adalah tentang Tuhan itu sendiri. Bukan tentang ritual, melainkan soal relationship. Dalam sebuah relationship semuanya ditentukan oleh kedalaman relationship itu sendiri, bukan oleh aturan manusia.

Berapa kali Anda harus cium pasangan Anda? Apakah harus bergandengan tangan saat jalan bersama? Perlukah punya rekening bersama? Sudahlah, kedalaman hubungan Anda dengan pasangan Anda akan menjawab semua pertanyaan itu.

Begitu pula dengan perpuluhan. Haruskah perpuluhan? Berapa besarnya? Seberapa sering? Kedalaman relationship Anda dengan Tuhan, harusnya bisa menjawabnya.

 

PRAKTEK SIHIR DALAM GEREJA

Inilah bagian serunya.

Saya paham sekali, kegelisahan banyak orang adalah karena melihat adanya “sihir” yang sedang terjadi di dalam gereja.

Banyak oknum menggunakan perpuluhan sebagai “alat sihir” untuk menakut-nakuti dan menggiring jemaat agar bisa memperkaya diri-sendiri. Tidak bisa dipungkiri, ini bukanlah tidak ada. Banyak dan dimana-mana, malah.

Saya juga adalah orang yang tidak bersetuju dengan semua ini. Saya juga tidak setuju menggunakan metode “menakut-nakuti” dan “mengiming-imingi” agar jemaat melakukan perpuluhan. Karena penyembahan sejati tidak pernah lahir dari ketakutan. Ritual lahir dari ketakutan.

Penyembahan sejati juga tidak pernah lahir dari kerakusan. Penyembahan berhalalah yang lahir dari kerakusan.

Itu sebabnya, mengajarkan perpuluhan melalui metode ketakutan dan kerakusan, justru merusak arti perpuluhan itu sendiri dan menghina Tuhan. Tuhan tidak butuh uang kita. Tuhan tidak butuh harta kita sama sekali. Dia hanya ingin persekutan dengan kita.

Perpuluhan hanyalah “alat latih” agar kita terus tersadarkan akan persekutuan kita dengan Tuhan.

Makanya, bagi mereka yang kecewa dan tidak setuju dengan praktek (ritual) perpuluhan sebagai “alat sihir”, menurut saya itu bukanlah alasan untuk Anda berhenti memberi. Bahkan jika, Anda sanggup lebih dari 1/10, dan jika itu memang lahir karena kasih Anda kepada Tuhan. Kenapa tidak?

Pemberian sebagai ekspresi penyembahan, harusnya tidak boleh berhenti karena alasan manusia. Sangatlah tidak fair untuk Tuhan, kalau gara-gara manusia lain, kita berhenti “menyembah” Dia bukan?

Lagian, kalau gereja Anda bisa mengelola dengan benar setiap uang perpuluhan yang ada dan Anda bisa melihat bagaimana dampak dari pemberian Anda itu ternyata menolong orang lain “terhubung” dengan kebaikan Tuhan. Kenapa Anda harus menahan-nahan?

 

HARUSKAH DIBERIKAN KEPADA GEREJA?

Pertanyaan ini cukup sensitif untuk dijawab, karenanya, saya tidak ingin mengungkap jawabannya di ruang public ini. Jika Anda tertarik, Anda bisa berkomunikasi dengan saya lewat jalur pribadi di social media saya (inbox message).

 

LAST WORDS

Sebagai penutup. Menjadi orang Kristen jangan berfokus pada bentuk ekspresinya. Fokuslah kepada kedalaman hubungan denganNya. Jika Anda terlalu fokus pada bentuk luar, Anda akan menjadi seperti orang farisi yang agamawi. Itu sebabnya Yesus menegur mereka bahwa “kamu indah di luar tapi busuk di dalam”.

Semua taurat dimaksudkan untuk melatih, menuntun, dan menggiring orang  untuk memiliki persekutuan denganNya. Kalau Anda benar-benar memiliki relationship yang dalam dengan Tuhan, tidak ada yang terlalu berat untuk dilakukan. Tapi, kalau Anda fokus pada hukum, aturan, dan liturgi, Anda akan sibuk menjadi hakim yang sok membenarkan dan menyalahkan orang lain.

Agama itu mematikan, tetapi Tuhan menghidupkan.


By Josua Iwan Wahyudi
Instagram: Josua Iwan Wahyudi

3 thoughts on “Stop (Ritual) Perpuluhan!

  1. Aku setuju, perpuluhan adalah sebuah penyembahan aku kepada Tuhan melalui gerejaNya. Apapun denominasinya, walopn katolik tdk mengajarkan itu. Aku punya suami katolik “KTP” aku sendiri di abbalove palm sejak 2005 – 2015, sejak nikah ikut suami pergi misa. Kalo aku ibadah di abba, suami gak mau ikut ibadah. Sejak itu aku gak perpuluhan, hanya memberi bantuan kepada rekan-rekan kantor yg butuh beli keperluan anak. Kak Josua, thank ya. Sharenya memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *