Sudah Jadi Farisi Modern?

Andaikan, sekali lagi ini cuma “andaikan” saja.

Andaikan, tiba-tiba, Tuhan memberikan kita satu kesempatan langka seumur hidup, yaitu diijinkan untuk mendengar kotbah dan pengajaran dari salah satu tokoh di Alkitab, secara live dan langsung. Bayangkan, dia untuk durasi 1 jam, diijinkan Tuhan turun dari langit dan berbicara di mimbar gereja kita, atau berbicara di komunitas Anda, atau mungkin “pemuridan” one on one dengan Anda.

Dan, misalkan, Tuhan memilihkan kita DAUD untuk berbicara kepada kita.

Apakah Anda akan mau mendengar dia? Apakah Anda akan bersemangat dan tidak mau melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini?

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi kalau saya, saya akan meng’cancel semua jadwal saya dan memilih untuk mendengar dia berbicara memberikan impartasinya. Memang Daud bukan Yesus, tapi dia menginspirasi kita banyak sekali hal tentang Perjanjian Baru di saat dia sedang hidup dalam masa Perjanjian Lama.

Tapi, kalau Anda termasuk orang seperti saya yang bersedia menukar waktu Anda demi bisa mendengar Daud “berkotbah” live, maka saya punya pertanyaan besar yang perlu Anda jawab.

Mengapa Anda masih mau mendengar dia berkotbah?

Bukankah Daud itu orang yang pernah “membunuh” teman dan pendukung setianya, Uria. Dalam peristiwa Betsyeba, mungkin Anda membacanya dengan biasa saja. Tapi kalau Anda mengenali baik-baik perjalanan hidup Daud, Anda akan mengetahui bahwa Uria adalah salah satu pendukung setia Daud yang siap memberi nyawa demi Daud. Dapatkah Anda melihat betapa jahatnya hati Daud ketika dia mengingini istri pendukung setianya dan bahkan merancangkan kematian hanya demi merebut si istri? Kenapa Anda masih mau mendengar kotbah dari orang semacam ini?

Tahukah Anda, Daud memiliki keluarga yang berantakan? Diantara sederet prestasi dan seluruh kebaikan Daud yang diagungkan dan dikotbah-kotbahkan sepanjang masa, harus diakui Daud gagal mengelola keluarganya. Anaknya mengkudeta dan hendak memusnahkan dia. Kenapa Anda masih mau mendengar kotbah dari orang yang bahkan tidak bisa mengatur anak-anaknya sendiri?

 

APA MAKSUD SAYA?

Kenapa saya membuka tulisan saya dengan memaparkan kasus di atas?

Sejujurnya, saya cukup sedih. Ketika ada orang Kristen / “hamba Tuhan” yang kita akui sebagai “SAUDARA seiman”, mengalami kejatuhan atau gagal dalam suatu hal, dengan cepat dan segera kita melemparkan berbagai cacian. Mulai dari hinaan kasar sampai sindiran halus serta komentar-komentar sarkastik.

Bahkan, saya menemukan beberapa orang yang “memperjuangkan” humanisme saja, bisa mengeluarkan komentar-komentar sarkastik yang merendahkan orang lain.

Tahukah Anda mengapa Yesus berulang-ulang menegur keras orang Farisi? Karena sikap dan perilaku mereka yang merasa diri mereka paling benar dan paling suci. Mereka begitu bersemangat mengkritik orang lain dan “menggunjingkan” dosa orang lain. Tidak heran Yesus pernah berkata bahwa mereka seperti perabotan yang mengkilap di luar tapi kotor di bagian dalam.

Apakah gereja (kita) sedang mengulang sejarah dengan menjadi Farisi modern?

Memang, para figur rohani yang mengalami kegagalan, memukul iman dan kepercayaan kita. Apalagi kalau dia adalah seorang pemimpin yang sudah kita percayai. Tapi, tahukah Anda bahwa semua orang hebat yang dipakai Tuhan adalah orang-orang gagal? Bukankah itu pesan Injil? Bahwa manusia memang gagal, tapi Tuhan tetap mengasihi kita dan Tuhan TAHU memang kita tidak mampu, itu sebabnya Dia berinisatif untuk menolong kita.

Apa respon kita ketika kita mengetahui ada saudara seiman kita yang gagal dalam keuangan, gagal dalam pernikahan, gagal mengurus anak mereka, gagal dalam integritas? Apakah kita langsung “mengisolasi” mereka, membuang mereka, dan menganggap Tuhan berhenti memakai mereka?

Simson yang sudah jatuh begitu jauh saja, Tuhan masih memakai hidupnya di detik-detik terakhir.

Kita ini manusia. Tengoklah ke dalam hatimu yang terdalam. Sungguhkah engkau tidak memiliki sisi gelap dalam hidupmu yang coba engkau sembunyikan? Kita ini bisa jatuh dan gagal kapan saja. Kalau kita saja bisa jatuh dan gagal kapan saja, kenapa orang lain tidak boleh?

Kalau kita jatuh dan gagal, kita selalu berharap gereja menerima kita apa adanya, mau mengasihi kita kembali, mau menerima pertobatan kita, kenapa kalau orang lain yang jatuh dan gagal, kita malah dengan senang hati mempergunjingkan mereka. Apakah lantaran karena tersemat kata “Hamba Tuhan” atau “pendeta” atau “worship leader” atau “public figure”, lalu kemudian mereka menjadi perkecualian untuk menerima kasih karunia dan penerimaan tak bersyarat dari Kristus?

Berbeda cerita kalau mereka tidak mau bertobat kembali. Itu lain cerita.

Tapi, dalam banyak kasus, kita seringkali begitu terburu-buru berkomentar tanpa tahu kisah sesungguhnya. Bahkan, tidak jarang kita juga tidak mau mempercaya pertobatan mereka dan berkomentar, “Hallah… Karena udah ketahuan aja sekarang jadi tobat… Coba kalo gak ketahuan…”

Bukankah “ketahuan” adalah salah satu cara Tuhan untuk membawa kembali orang itu kepada pertobatan? Seperti Daud yang “ketahuan” oleh nabi Natan dalam kasus Betsyeba?

Siapa sih kita ini? Sampai kita berhak menentukan siapa yang boleh dipakai Tuhan dan siapa yang tidak boleh?

Mengapa kita begitu menikmati menceritakan kejatuhan orang lain? Apakah karena menceritakan itu membuat kita bangga karena kita tidak jatuh seperti orang itu? Apakah dengan menceritakan itu, kita merasa puas karena terbukti ternyata kita lebih benar dan suci dari orang itu? Bukankah ini yang dilakukan para Farisi itu?

Seperti yang pernah saya tulis di Instagram saya, menunjukkan kesalahan dan kegagalan orang lain, tidak membuat kita sedikitpun menjadi lebih benar dan berhasil dari orang itu. Siapa tahu, kita mungkin sama buruknya, atau bahkan lebih buruk? Mungkin tidak di area yang sama, tapi bagaimana di area lain? Kalaupun mungkin benar kita lebih baik darinya di semua area, tetap saja Tuhan tidak pernah memberikan kita hak dan otoritas untuk menentukan siapa yang boleh dipakai Tuhan dan siapa yang tidak.

 

BENTUK KASIH?

Beberapa orang berkomentar, “Nggak kok, kita menceritakan ini untuk menunjukkan betapa sedihnya hati kita dan berempati dengan apa yang dia alami.”

That’s ok. Kalau memang itu alasannya, itu lebih baik daripada kita bercerita dengan penuh kebanggaan akan “kekudusan” kita.

Tapi, saya belajar, bahwa kejatuhan dan kegagalan orang, bukanlah bahan konsumsi yang wajar untuk dicerita-ceritakan sebagai “sekedar cerita aja”. Saya belajar dari Yesus. Ketika orang Farisi sibuk mengumumkan dan mempublikasikan kesalahan orang dan berusaha menciptakan “pengadilan sosial” dengan menyeret si pelaku dosa ke muka umum dan mempermalukan dia dengan “menelanjangi” semua kesalahannya. Apa yang dilakukan Yesus?

Dia selalu membubarkan kerumunan. Dia selalu menghentikan semuanya tanpa diperpanjang lagi. Seolah-olah Dia berkata, “Kamu sudah menyesal, kamu sudah bertobat, dosamu diampuni, selesai. Pulang dan jangan bikin dosa lagi”. That’s it. Yesus tidak mencerita-ceritakan kegagalan pendosa kepada semua orang dan menjadikan semacam “bahan gosip” yang renyah dan seru kepada semua orang. Bahkan tidak kepada murid-muridNya sendiri!

Menjadi agen “penyebar” kisah kejatuhan orang lain, adalah sama saja dengan menyeret si pelaku ke muka umum dan membuat sebuah pengadilan sosial baginya. Mulut yang sama yang kita pakai untuk memuji Tuhan, kita pakai juga untuk menceritakan kegagalan saudara seiman kita?

Mendiskusikan cerita untuk mencari solusi, itu baik. Sangat baik. Mendiskusikan cerita untuk menjadi bahwa refleksi sehingga kita makin merasa kita butuh Tuhan, butuh “dijaga” oleh komunitas, dan membuat kita rendah hati. Itu baik, sangat baik. Tapi mendiskusikannya hanya untuk “asal lu tahu ya…”? Atau mendiskusikannya untuk memuaskan nafsu agamawi kita karena kita menikmati perasaan “lebih benar” dari orang lain? Ada yang salah dengan nurani kita!

Kalau memang, kita mengasihi “saudara seiman” kita yang sedang jatuh dan gagal. Kita harus bertindak nyata untuk menolong dia. Kalau tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolongnya, minimal kita membawa dia dalam doa kita, dan menutup mulut kita dari arena gosip.

 

ANDAIKAN

Bagian terakhir, saya ingin kembali kepada pengandaian lagi.

Andaikan, situasinya terbalik.

Andaikan, Anda yang melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan. Apakah Anda berharap “saudara seiman” Anda mengomentari Anda dengan cibiran, komentar sinis, dan sindiran?

Bukankah Anda akan mengharapkan penerimaan,penguatan, atau minimal, kalau Anda tidak bisa mendapatkan itu, minimal Anda akan berharap semua orang tidak menjadikan kegagalan Anda sebagai bahan “cerita ringan” di kantor-kantor dan percakapan di kafe-kafe bukan?

Ah… betapa mudahnya kita itu terjebak ke dalam kemunafikan.

Makanya, saya sangat kagum dengan Yesus. Kalau dalam filosofi Cina, ada pepatah “kalau kamu tidak suka diperlakukan sesuatu hal, jangan lakukan itu kepada orang lain. Tapi filosofi Yesus lebih dari itu, karena Dia berkata, “lakukanlah kepada orang lain, seperti kamu ingin diperlakukan oleh orang lain”.

Main Farisi-farisi’annya udahan yuk?


by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *