Tuhan Sang Pembunuh?

avatar150Ketika mendengar kata “paskah”, kebanyakan dari kita akan langsung merujuk kepada kematian Yesus di kayu salib yang disusul dengan kebangkitanNya yang gemilang. Sebagian orang Kristen dan gereja bahkan meyakini Paskah lebih penting artinya daripada Natal karena dianggap di momen Paskahlah kemenangan kita benar-benar disahkan.

Tapi, sebenarnya, Alkitab mencatat ada peristiwa paskah yang lain, yaitu ketika bangsa Israel akhirnya keluar dari tanah perbudakan Mesir yang sempat ditandai dengan tulah kesepuluh yang sangat fenomenal, yaitu kematian anak sulung di seluruh negeri Mesir baik dari manusia hingga ke ternak.

Berulangkali saya membaca kisah ini. Berulangkali pula saya mendengar kotbah seputar pembebasan bangsa Israel dan bahkan Hollywood dan Disney berhasil memfilmkan dan meng’animasi’kan dengan sangat memukau, membuat kita semakin kagum dengan kedaulatan Allah dan “keberpihakan” Allah kepada umatNya (yang seringkali kita sebut dengan istilah “favor”).

Namun, harus diakui, kisah heroic dan dramatis yang menakjubkan ini, mendadak “ternodai” dengan sekelumit kalimat yang tercatat di Keluaran 12:29,

“Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta segala anak sulung hewan.”

Karena ayat inilah, Richard Dawkins, salah satu dari 4 “Bapak” Atheisme modern, dalam salah satu pembukaan bukunya, menggambarkan Tuhan Perjanjian Lama sebagai Tuhan yang kejam dan maniak (mendapat kepuasan dari membuat manusia menderita).

Apalagi kalau kita berpikir, “Tuhan yang memerintahkan jangan membunuh, kenapa Dia tidak konsisten dan melanggar hukumnya sendiri dengan melakukan pembunuhan?”

 

ADA YANG SALAH DENGAN ALLAH?

Sebelum membahas lebih mendalam. Marilah kita telaah satu-persatu dengan sangat perlahan.

Pertama, mengapa kalimat “Tuhan MEMBUNUH” ini dengan segera langsung memunculkan sebuah gambaran yang jahat? Karena, kita memang mengidentikkan pembunuhan sebagai sebuah kejahatan. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh siapapun, apalagi yang mengaku sebagai pribadi yang penuh kasih sayang. Membunuh menjadi sebuah kontradiksi.

Izinkan saya mengeksplorasi soal “bunuh-membunuh” ini.

Seorang ayah yang sudah renta usianya, suatu hari terkena sebuah penyakit yang membuatnya koma berkepanjangan. Sudah 3 bulan si ayah mengalami koma di ICU. Akhirnya pihak keluarga tak tahan melihat ayahnya “menderita” dan mengambil keputusan untuk menghentikan perawatan. Meninggallah si ayah itu. Apakah keluarga itu sudah membunuh ayah mereka? (atau baru saja menyelamatkan dia?)

Kasus berikutnya, seorang wanita yang sedang mengandung, diketahui bahwa ada masalah besar pada kondisi kehamilannya. Pada titik tertentu. Masalah dalam kandungan ini menyebabkan kondisi serius dimana suami istri itu harus memilih menyelamatkan si ibu dan mengugurkan bayi, atau memilih tetap melahirkan bayi dengan kemungkinan absolut si ibu akan meninggal karenanya.

Setelah bergumul, suami itu memutuskan untuk menggugurkan bayi itu.

Apakah suami itu dianggap membunuh bayinya sendiri? Apakah itu juga sebuah bentuk kejahatan? Kita menyebutnya tindakan pembunuhan atau penyelamatan?

Mengapa saya mengemukakan kasus-kasus pelik ini. Tidak bisa dipungkiri, semua kasus itu adalah realita kehidupan yang tidaklah terlalu sulit dijumpai di sekitar kita. Setidaknya, semua kasus itu pernah dialami oleh orang-orang terdekat saya.

Tujuan saya mengungkap kasus ini. Untuk membukakan kepada kita bahwa urusan “bunuh-membunuh” ini tidaklah sesederhana dan se”hitam-putih” kelihatannya. Kita, para spiritualis modern sering menuduh orang Kristen konvensional sebagai pihak yang dengan mudahnya meng”hitam-putih”kan segala sesuatu dan melabel penuh penghakiman.

Tapi, tanpa sadar, kadangkala pendekatan kita dalam membaca Alkitab pun juga seringkali masih “hitam-putih”.

Seperti yang saya sering katakan dalam kesempatan-kesempatan sharing saya soal Apologetika. Kehidupan dan Tuhan adalah misteri yang takkan pernah terselesaikan sampai akhir hidup kita nanti. Kita bisa berusaha setidaknya meraba-raba, tetapi pada akhirnya dibutuhkan iman sebagai “jembatan” untuk menyambungkan “gap” yang terjadi antara pemahaman intelektual kita dengan realitas supranatural yang penuh misteri dari Tuhan dan kehidupan.

Kita tak pernah tahu apa alasan sepenuhnya ketika Tuhan Allah melakukan “pembunuhan” anak sulung dari bangsa Mesir. Kita menuduhnya sebagai kejahatan, karena kita memandangnya murni hanya dari sudut pandang kita sendiri. Kita tidak pernah tahu bahwa mungkin saja ada alasan-alasan “kasih” yang diekspresikan Tuhan melalui “pembunuhan” itu.

WHAT? Ekspresi kasih melalui pembunuhan? Bukankah itu sangat kontradiktif?

Benarkah itu kontradiktif? Bagaimana dengan kasus pengguguran bayi yang saya ajukan di atas? Apakah yang disebut kasih itu harus menyelamatkan si ibu atau si anak di saat tak bisa memilih keduanya?

Bayangkan, seorang ayah sedang “mendisiplin” anaknya dengan memukul pantat anaknya dengan ekspresi wajah kelihatannya tegang dan intens. Kemudian tanpa sengaja lewatlah kita melihat peristiwa itu dan berpikir “Ih, jahat sekali ayah itu… Segitunya amat sama anaknya, saya aja sama anak saya tak pernah begitu”. Tanpa kita menyadari bahwa ayah itu melakukannya justru karena kasihnya kepada anaknya.

Tentu memukul pantat dan menghilangkan nyawa orang bukanlah perbandingan yang setara. Tetapi analogi ini saya munculkan untuk menyadarkan kita, bahwa point of view kita sangatlah terbatas dan seringkali ada banyak hal “di belakang layar” yang luput dari pemahaman kita lantaran kita bukan Tuhan yang ada di kekekalan yang telah melihat lebih banyak dari kita.

Bagaimana, sekali lagi, bagaimana, kalau misalnya,
Ternyata karena peristiwa rentetan tulah itu, para anak sulung ini mengalami trauma mendalam yang di kemudian hari sangat mempengaruhi generasi ini dan kemudian ketika generasi bermasalah secara psikologis dan emosional ini memimpin bangsanya, mereka justru membawa Mesir semakin hancur dan merusak bangsanya sendiri.

Dengan “penghilangan” satu generasi sulung ini, memungkinkan Mesir untuk melahirkan generasi baru yang sama sekali tidak mengalami keadaan mengerikan pada saat tulah. Bukankah dengan demikian, sebenarnya “pembunuhan” itu justru “menyelamatkan” Mesir masa depan dari kehancuran bangsanya?

Tentu saja ini hanyalah alternatif pengandaian yang bisa benar bisa tidak. Tapi, pengandaian ini saya ajukan bukan sebagai jawaban melainkan sebagai salah satu analogi untuk menunjukkan bahwa ada kemungkinan-kemungkinan alasan tindakan Tuhan yang tak bisa kita pahami karena keterbatasan point of view kita yang sangat berbeda dari point of view Tuhan.

Maka dengan segera menuduh Tuhan dengan kata-kata “jahat” hanya karena kebetulan kelihatannya dia berbuat sesuatu yang dalam pandangan kita adalah kejahatan, akan menjadi sama seperti kita menuduh si ayah tadi ayah yang kejam hanya karena point of view kita melihatnya sebagai sebuah kejahatan. Bukankah ini sama saja dengan melakukan labeling dan judgement? Bukankah ini juga sama seperti kita meng”hitam-putih”kan sesuatu sekehendak hati kita?

3 thoughts on “Tuhan Sang Pembunuh?

  1. Tulisan ini mencerahkan saya akan pertanyaan saya akan “kejamnya” Allah sebagai pribadi yang penuh kasih…. Thanks for writing… Thanks for sharing…
    Memberkati sekali…

  2. Tulisan yang mencerahkan, membuat sadar bahwa rencana Tuhan seringkali tidak terselami dan manusia sering meng”kotakkan” Tuhan sebatas apa yang dipikir baik.

    Keep writing ko JIW 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *