Tuhan Sang Pembunuh?

APA SALAHNYA TUHAN MELAKUKANNYA?

Pemikiran kedua.

Saya akan mengajukan beberapa kasus lagi.

Kalau ada seorang yang sudah tua, berusia 86 tahun, kemudian meninggal dunia karena memang sudah usia tua. Tanpa penyakit, tanpa penyebab, lalu kemudian meninggallah dia dalam tidurnya. Apakah kita boleh mengatakan bahwa Tuhan baru saja “membunuh” orang tua itu? Dan apakah itu sebuah kejahatan yang dilakukan Tuhan?

Kasus kedua, bagaimana kalau itu terjadi pada pemuda berusia 23 tahun yang juga meninggal tanpa penyebab dalam tidurnya. Apakah kemudian kita juga bisa berkata Tuhan membunuhnya dan itu sebuah kejahatan?

Saya meyakini, Tuhanlah pemilik kehidupan kita semua. Dikatakan ketika Dia menciptakan manusia, Dia menghembuskan “ruhNya” dan hiduplah manusia itu. Artinya, Tuhan memberikan sesuatu yang memang adalah milikNya sendiri untuk menghidupkan manusia. Dalam kata lain, kita ini menjadi hidup karena “pinjaman” roh Tuhan.

Itu sebabnya juga ketika Yesus meninggal di kayu salib, Dia menyatakan “menyerahkan nyawaNya” dengan kalimat “KepadaMulah kuserahkan ‘RohKu’”.

Ketika kematian terjadi, yang sesungguhnya benar-benar terjadi Roh kehidupan yang “dipinjamkan” Tuhan itu terambil dari tubuh fana manusia. Manusia itu tidak benar-benar mati, hanya tubuhnyalah yang mati.

Saya yakin, inilah alasan kenapa membunuh diri-sendiri adalah sebuah pelanggaran, karena kita tidak memiliki hak atas “nyawa” kita. Nyawa kita adalah “pinjaman” dari Tuhan, maka tentunya kalau Tuhan belum berkehendak mengambilnya, mengapa kita melampaui kehendak Tuhan dengan mengambil paksa?

Saya yakin juga inilah alasan munculnya “peraturan” JANGAN MEMBUNUH. Karena sesama manusia sama-sama tidak memiliki hak untuk mengambil nyawa sesamanya. Hanya Tuhanlah yang berhak mengambil apa yang memang milik kepunyaannya. Itu sebabnya, Tuhan membuat peraturan yang diperuntukkan untuk manusia (bukan untuk diriNya), karena manusia tidak memiliki hak atas nyawa sesamanya sementara Tuhan memiliki hak penuh.

Sederhananya, kalau saya memiliki 2 buah iPhone, lalu saya meminjamkan kepada 2 orang teman saya. Bukankah wajar kalau saya membuat peraturan “Jangan merusak iPhone itu, kalau ada yang merusakkan harus mengganti harganya 2 kali lipat.

Tapi, peraturan ini jelas tidak berlaku untuk saya. Meski saya dengan sengaja membanting dan merusakkan iPhone saya sendiri, siapakah yang bisa menggugat saya?

Pertanyaannya. Saat Tuhan mengambil kembali apa yang memang milik kepunyaannya sendiri (apapun caranya), apakah kita bisa menyebutnya sebagai sebuah kejahatan?

Kalau saya memiliki rumah. Lalu saya robohkan rumah saya sendiri, saya bumi hanguskan dan ratakan rumah saya sendiri. Apakah saya jahat? Mungkin orang menyebut saya gila dan bodoh, tapi apakah saya jahat? Tentu saja tidak, karena saya berhak melakukan apapun kepada apa yang saya miliki sendiri.

Ketika Tuhan mengambil nyawa setiap anak sulung di Mesir. Bukankah sama seperti yang terjadi setiap hari? Ada orang yang meninggal di Rumah Sakit, ada yang di tepi jalan, ada yang dengan tersenyum dalam tidurnya. Bukankah Dia hanya mengambil dan “bertindak” pada apa yang memang menjadi milikNya? Bisakah kita menggugatnya sebagai kejahatan?

 

RASA KEADILAN

Pemikiran ketiga. Saya mengerti, bahwa peristiwa “pembunuhan” anak sulung ini mengusik rasa keadilan kita sebagai manusia. Apalagi mengingat anak-anak sulung itu mungkin bahkan tak tahu-menahu dan tak terkait dengan masalahnya. Firaunlah biangnya, harusnya dialah yang diambil nyawanya.

Akan panjang untuk mendalami soal ini.

Tapi izinkan saya sedikit membahas soal keadilan.

Apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang adil? Kalau kita sedang order makanan di KFC, lalu tiba-tiba manajer resto itu menambahkan 1 potongan ayam secara gratis tanpa alasan apapun. Apakah itu adil? Kalau adil artinya menerima perlakuan sesuai dengan yang seharusnya/selayaknya, maka harusnya bonus KFC itu adalah sebuah bentuk ketidakadilan karena kita tidak melakukan tindakan apapun yang membuat kita layak dan harus menerima bonus.

Harusnya, kalau itu terjadi, kita harus menolak potongan ayam bonus itu sebagai bentuk rasa keadilan kita.

Tapi, sebaliknya, kalau manajer itu mengurangi potongan ayam dari yang seharusnya, kita akan menyebutnya tidak adil bukan?

Segala sesuatu yang kita anggap rugi dalam pandangan kita akan kita sebut “tidak adil” dan “jahat”. Sedangkan segala sesuatu yang menambahkan untuk kita, kita menyebutnya “berkat”, “keberuntungan”, atau “favor”. Padahal, sebenarnya kedua-duanya sama tidak adilnya.

Dan kalau kita menggugat Tuhan dengan standar keadilan ini, maka celakalah kita karena kasih karunia dan pengampunan yang Dia tunjukkan lewat salib jelas-jelas sangat tidak adil baik bagi pihak Tuhan maupun pihak kita, apalagi bagi pihak Iblis.

Ketika kita diuntungkan, kita tidak menggugat keadilan. Ketika kita dirugikan, kita menggugat keadilan. Itulah natur kita sebagai manusia.

Kalau kita bisa mengerti bahwa kasih seringkali diungkapkan melalui cara-cara yang tampaknya “tak adil” dalam pandangan kita. Kita mungkin jadi lebih bisa memahami bahwa bisa jadi peristiwa tulah kesepuluh inipun bisa juga menjadi salah satu ekspresi kasih Tuhan yang muncul dalam penampakan “ketidakadilan”.

3 thoughts on “Tuhan Sang Pembunuh?

  1. Tulisan ini mencerahkan saya akan pertanyaan saya akan “kejamnya” Allah sebagai pribadi yang penuh kasih…. Thanks for writing… Thanks for sharing…
    Memberkati sekali…

  2. Tulisan yang mencerahkan, membuat sadar bahwa rencana Tuhan seringkali tidak terselami dan manusia sering meng”kotakkan” Tuhan sebatas apa yang dipikir baik.

    Keep writing ko JIW 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *