Tuhan Sang Pembunuh?

DAN YANG TERAKHIR…

Pemikiran keempat. Kata “membunuh” itu sendiri mungkin mesti dilihat dengan sudut pandang yang agak luas.

Sang penulis kitab Keluaran adalah pihak yang berseberangan dengan Mesir. Wajar sekali ketika dia menulis cerita ini, dia menggunakan kata “membunuh”. Sehingga, kita yang membacanya, seolah langsung memiliki gambaran seperti Tuhan yang membawa pedang dan menusuki anak-anak sulung itu. Belum lagi gambaran film-film Hollywood dimana peristiwa ini divisualisasikan dengan gambaran seperti ada kabut “beracun” yang menghinggapi anak-anak sulung seolah meracuni mereka hingga mati.

Gambaran kita soal pembunuhan sudah begitu mengerikan, baik karena peristiwa nyata maupun karena cuci otak dari film-film keren yang kita lihat. Sehingga ada kata “membunuh” muncul, pemaknaan internal kita sudah langsung “berpihak” kepada gambaran-gambaran mengerikan.

Padahal, bukankah bisa terjadi bahwa tidak ada peristiwa yang heboh-heboh. Hanya anak-anak sulung itu diambil nyawanya. Bahkan mungkin ada yang terjadi dengan senyum dalam tidur mereka karena mungkin orang tua mereka baru menidurkan mereka dengan dongeng dan peluk cium kasih sayang. Bukankah bisa saja mereka meninggal dalam ketenangan dan kebahagiaan?

Bukankah cara kematian seperti ini yang diidam-idamkan semua orang? Dan kita malah menggugatnya sebagai sebuah kejahatan dan meminta anak-anak sulung ini tetap hidup dengan kemungkinan nantinya mereka mati dalam peperangan, penyakit, atau penderitaan? Bukankah tuntutan kita ini “agak jahat”?

Dengan adanya pemikiran ini, kita semakin teguh bahwa Alkitab sungguh-sungguh ditulis dengan cara manusiawi dan menggunakan sudut pandang terbatas penulisnya. Namun yang membuat Alkitab menjadi keren, karena walaupun ditulis dalam kemanusiawian dan dalam sudut pandang terbatas penulisnya, Alkitab mengandung unsur keIlahian yang membuatnya layak disebut sebagai kitab suci. (Apa bukti keIlahian Alkitab? Saya menulisnya di buku “Corrupted Bible”).

Itu sebabnya, ketika kita membaca sebuah ayat Alkitab, kita harus mengingat betapa manusiawi dan terbatasnya sang penulis kitab itu. Pewahyuan dari Tuhanlah yang membuat kita sanggup melihat sisi pencerahan keIlahian Alkitab. Kalau kita membaca Alkitab tanpa hati yang terbuka untuk menerima pewahyuan Ilahi, maka yang kita lihat hanyalah tulisan dari manusia-manusia yang terbatas sudut pandangnya. Sehingga mungkin saja seolah kita melihat banyak “kelemahan” disana.

Tapi sekali lagi, karena adanya unsur keIlahian dalam Alkitab, tulisan-tulisan yang penuh keterbatasan, kelemahan, dan sangat manusiawi itu justru saling melengkapi, menguatkan, dan menyempurnakan membentuk sebuah kisah abadi yang melewati proses penulisan berabad-abad. Keren banget!

Kalau kita memahami ini, maka cara kita dalam memahami isi Alkitab juga akan menjadi berbeda.

 

Well, sepertinya ini menjadi tulisan terpanjang saya di blog ini. Semoga memberkati yang membacanya!

Selamat Paskah 2017! Tuhan memberkati!

 

by Josua Iwan Wahyudi
Instagram: JosuaIwanWahyudi

3 thoughts on “Tuhan Sang Pembunuh?

  1. Tulisan ini mencerahkan saya akan pertanyaan saya akan “kejamnya” Allah sebagai pribadi yang penuh kasih…. Thanks for writing… Thanks for sharing…
    Memberkati sekali…

  2. Tulisan yang mencerahkan, membuat sadar bahwa rencana Tuhan seringkali tidak terselami dan manusia sering meng”kotakkan” Tuhan sebatas apa yang dipikir baik.

    Keep writing ko JIW 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *