Yesus Mengijinkan Perceraian?

Namun, Yesus mengetahui maksud pertanyaan ini. Pertanyaan ini bukan diajukan karena mereka “polos” dan benar-benar ingin belajar dari Yesus. Pertanyaan ini diajukan karena sebenarnya beberapa orang farisi memang ingin mempraktekkan perceraian dan ingin menikah lagi, tetapi mereka juga ingin tetap tampak tidak bercela di mata hukum Taurat, itu sebabnya, mereka bertanya pada Yesus untuk mencari “legalisasi” bahwa mereka tidaklah bercela menurut hukum, sekalipun mereka akan melakukan perceraian.

Banyak orang Kristen masih melihat pernikahan dan perceraian hanya dari sudut pandang “hukum” dan “taurat”. “Asalkan terms and condition yang ditulis di Alkitab terpenuhi, maka saya boleh cerai!” Itulah yang ada dalam benak kita.

Kalau kita hanya sekedar “pintar-pintar’an” mengotak-atik hukum tertulis, maka kita tidak ada bedanya dengan para koruptor yang bilang, “secara hukum saya tidak mencuri uang rakyat, karena saya sudah melakukan semua prosedur hukum”, padahal secara etika dan prinsip bisa saja dia sebenarnya sudah melakukan kejahatan.

Berkali-kali, dalam berbagai pelayanan kotbah, saya sering sekali menekankan, bahwa kekristenan bukanlah sebuah keyakinan “law based”. Banyak agama menekankan sekali kepada “law based”, yaitu mementingkan pemenuhan aturan-aturan dan hukum yang dibuat.

Kekristenan adalah “relationship based”. Tuhan mencari penyembah, bukan persembahan dan penyembahan. Tuhan mencari pribadi, bukan aktifitas maupun barang. TUHAN MENCARI HUBUNGAN, bukan ritual. Anda harus memahami betul semua ini. Itu sebabnya, Yesus pernah berkata “kalau hidup keagamaanmu tidak lebih baik daripada orang farisi, kamu tidak bisa masuk dalam kerajaan Allah”

Apa arti pernyataan ini? Bukankah orang-orang farisi sudah melakukan semua aturan taurat yang jumlah lebih dari 600 aturan? Bagaimana mungkin kita bisa lebih hebat dari mereka?

Orang farisi melakukan semuanya karena “law based”, hati mereka tidak sungguh-sungguh tertuju pada Tuhan. Mereka melakukan semuanya hanya demi tampak tak bercela di mata hukum, sehingga bisa membanggakan diri sebagai orang kudus dan pada gilirannya, bisa bertindak seolah-olah kastanya lebih tinggi dari orang lain.

Di mata Tuhan, bukan itu yang penting, yang penting adalah apakah hatimu benar-benar tertuju pada Tuhan, RELATE kepada Dia, dan benar-benar dijaga sesuai kehendak Tuhan? Itu yang dianggap lebih ketimbang mempraktekkan semua aturan-aturan Taurat.

Buat Anda yang sudah punya pasangan, Anda tentu mengerti. Lebih baik pasangan Anda diam tak melakukan apa-apa di sisi Anda, tetapi hatinya tertambat untuk Anda. Ketimbang dia melakukan semua hal yang tampak baik untuk Anda, tapi sesungguhnya hatinya tertambat kepada orang lain.

Ini yang disebut “relationship based”.

Jika hanya sekedar dari sisi hukum dan aturan. Hukum di Indonesia jelas melegalkan perceraian asal Anda memenuhi semua proses dan dokumen yang ada. Hukum taurat? Memperbolehkan juga perceraian, asal ada kondisi-kondisi yang dipenuhi.

Tapi bagaimana dengan sisi hati Tuhan? Apakah Anda mengerti kenapa Yesus mengutip “apa yang sudah disatukan oleh Tuhan TIDAK BISA (bukan “tidak mau” atau “tidak boleh”) diceraikan oleh manusia. Ini bukan berbicara soal sisi hukum dan aturan, karena kalau dari sisi hukum dan aturan, bisa-bisa saja manusia menceraikan sebuah pernikahan.

Ini juga bukan berbicara dari sisi fisik, karena pada kenyataannya, secara fisik, mudah sekali menceraikan sebuah pasangan.

INI BERBICARA SOAL KESATUAN ROH!

3 thoughts on “Yesus Mengijinkan Perceraian?

  1. Bagaimana dengan kasus KDRT – yang sampai mengancam jiwa – dalam sebuah pernikahan, misalnya, atau perselingkuhan dan poligami? Bisakah perceraian dipandang dari perspektif hitam atau putih?

  2. Tapi saya banyak melihat orang yang bercerai karena suami melakukan perselingkuhan a tau tidak memberikan nafkah ke Istri dan Anak Anak,sedangkan menuntut hak sebagai suami,nah jika ini terjadi Kak Iwan,tindakan bijak apa yang harus dilakukan?

  3. @dewi & @vina

    ini my personal opinion yah… tidak mewakili gereja saya, hehehe…

    pertama, apakah pernikahannya dilakukan di “dalam Kristus”? bukan cuma sekedar urusan ada pemberkatan nikah lho, tapi apakah keduanya sudah lahir baru dan memiliki roh yang sama dari Yesus? Jika iya, maka hukum penyatuan roh itu terjadi. jika tidak, maka sebenarnya pemberkatan nikah itu cuma ritual “fisik” semata. karena bagaimana mungkin terang dan gelap bisa bersatu? kalau rohnya udah beda asalnya, gimana Tuhan mau nyatuin dengan diriNya juga?

    maka, menurut saya, kalau memang dari awal udah tidak di dalam kristus, maka boleh2 saja untuk berpisah. makanya pasangan yang lahir barunya belakangan, melakukan re-marriage dan pemberkatan nikah, karena itu bukan bicara ritual, itu bicara spiritual.

    kedua, kalau keduanya sudah di dalam kristus (benar2 lahir baru). maka, saya berpendapat tetap harus menjadi covenant keeper apapun yang terjadi. Karena kalau roh Kristus ada dalam diri seseorang, pastilah dia tidak akan tahan berlama2 hidup dalam dosa dan pelanggaran, sehingga potensi untuk berubahnya ada.

    Kalau terjadi KDRT? ketidakadilan dll? Boleh berpisah sementara (demi alasan keamanan dan perlindungan terhadap anak), tetapi harus tetap didoakan agar terjadi pemulihan dan tetap menjadi covenant keeper. Mudah? tentu saja tidak. Tapi apakah ini masuk akal? menurut saya ya! Karena sudah ada banyak kasus dan testimoni dimana ketika salah satu pihak “error”, pihak yang benar berdoa dan membawa sungguh2 ke hadapan Tuhan, dan terjadi pemulihan.

    Bahkan ada beberapa kasus yang sudah sangat parah dan tampaknya sudah tak mungkin bisa pulih, tapi toh ternyata Tuhan bisa melakukan keajaiban ketika salah satu tetap berdoa dan memegang covenant.

    Ketiga, bagi saya, kalau memang dari awal bangun hubungannya benar. Memang dari awal membangun hubungan di dalam kristus dan melibatkan kristus, rasanya KDRT akan kecil peluangnya untuk terjadi.

    Keempat, poligami? Kok bisa2nya orang di dalam kristus berpikir tentang poligami? perlu dicek benar2 sudah lahir baru atau belum? hehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *