Yesus Mengijinkan Perceraian?

Ingat, Anda bukan hanya melakukan pernikahan secara hukum, tetapi juga secara roh, itu sebabnya ada pemberkatan nikah yang dilakukan secara rohani. Banyak orang Kristen yang tidak memahami ini dan menganggap pemberkatan nikah hanyalah bagian proses prosedural saja agar bisa keluar sertifikat gereja yang dibutuhkan untuk legalisasi secara hukum. Mereka tidak melihat (dan bahkan tidak percaya) ada unsur rohani dalam sebuah pemberkatan pernikahan.

Ketika Anda menikah secara rohani dan melibatkan Tuhan, maka inilah yang terjadi: Anda dan pasangan Anda bukan lagi dua, melainkan sudah menjadi satu roh bersama-sama dengan roh Tuhan. Disinilah pernikahan menjadi refleksi dan duplikasi dari Allah tritunggal (3 dalam 1), yaitu Anda, pasangan Anda, dan Tuhan.

Hanya Tuhan yang bisa menyatukan roh manusia dan hanya Tuhan yang bisa memisahkannya, itu sebabnya apa yang sudah disatukan Tuhan secara roh, tidak akan pernah bisa diceraikan secara manusia.

Inilah alasan mengapa Tuhan MEMBENCI perceraian.

Saya ingat sekali, pada waktu saya masih SMP, saya ingin sekali menginap di rumah teman saya dan menghabiskan semalaman untuk main dan seru-seru’an dengan teman-teman lain. Ketika saya meminta izin kepada mama saya, dengan tegas dan langsung dia berkata “tidak”.

Saya merengek-rengek dan terus memohon, dan mama saya tetap pada pendiriannya. Namun keinginan saya yang begitu kuat, membuat saya terus konsisten membuntuti mama saya dan mengeluarkan rengekan permohonan yang konsisten tanpa henti, sampai suatu titik, saya melihat wajah mama saya yang sudah sangat kesal dan berkata “terserah kamulah!”

Seketika saya bersorak dan gembira, karena bagi saya, perkataan “terserah kamu” artinya sebuah “ya”. Saya diijinkan untuk menginap!

Tapi, sorenya, saya membatalkan agenda menginap saya. Selama beberapa jam saya melihat mama saya memasang wajah “tidak enak” dan saya tahu, meski ia mengijinkan saya pergi, tetapi sebenarnya dia BENCI kalau saya benar-benar pergi.

Secara “hukum” tidak salah kalau saya pergi, karena legally mama saya sudah mengijinkan saya. Kalau saya hanya memandang semua ini “law based”, tentu saya tidaklah bercela untuk tetap pergi menginap. Tapi dari sisi “relationship based” jelas saya akan melakukan apa yang mama saya tidak sukai dan itu artinya saya menganggap remeh hubungan ibu dan anak yang kami miliki.

Tuhan memang mengijinkan dan tidak melarang, tapi bukan berarti Dia menyukainya. Kalau kekristenan Anda hanyalah “kulit permukaan” yang mengukur semuanya dari sisi “law based”, maka Anda mirip seperti orang farisi. Yang penting tidak melanggar aturan, apapun menjadi legal.

Tapi kalau kekristenan Anda lebih dalam dari sekedar itu. Anda benar-benar punya relationship yang dalam dengan Tuhan, Anda tidak akan mau melakukan hal-hal yang Tuhan tidak sukai. Bukan karena tidak boleh, tapi karena Anda mengerti itu melukai hatiNya.

Kalau kekristenan kita masih bermain di arena “boleh dan tidak boleh”, maka inilah yang dikatakan Yesus, hidup kerohanian kita belum lebih baik daripada orang-orang farisi. Karena inti sesungguhnya adalah apa yang berkenan di mata Tuhan, bukan apa yang boleh.

 

Josua Iwan Wahyudi
Master Trainer EQ Indonesia
Instagram: JosuaIwanWahyudi

3 thoughts on “Yesus Mengijinkan Perceraian?

  1. Bagaimana dengan kasus KDRT – yang sampai mengancam jiwa – dalam sebuah pernikahan, misalnya, atau perselingkuhan dan poligami? Bisakah perceraian dipandang dari perspektif hitam atau putih?

  2. Tapi saya banyak melihat orang yang bercerai karena suami melakukan perselingkuhan a tau tidak memberikan nafkah ke Istri dan Anak Anak,sedangkan menuntut hak sebagai suami,nah jika ini terjadi Kak Iwan,tindakan bijak apa yang harus dilakukan?

  3. @dewi & @vina

    ini my personal opinion yah… tidak mewakili gereja saya, hehehe…

    pertama, apakah pernikahannya dilakukan di “dalam Kristus”? bukan cuma sekedar urusan ada pemberkatan nikah lho, tapi apakah keduanya sudah lahir baru dan memiliki roh yang sama dari Yesus? Jika iya, maka hukum penyatuan roh itu terjadi. jika tidak, maka sebenarnya pemberkatan nikah itu cuma ritual “fisik” semata. karena bagaimana mungkin terang dan gelap bisa bersatu? kalau rohnya udah beda asalnya, gimana Tuhan mau nyatuin dengan diriNya juga?

    maka, menurut saya, kalau memang dari awal udah tidak di dalam kristus, maka boleh2 saja untuk berpisah. makanya pasangan yang lahir barunya belakangan, melakukan re-marriage dan pemberkatan nikah, karena itu bukan bicara ritual, itu bicara spiritual.

    kedua, kalau keduanya sudah di dalam kristus (benar2 lahir baru). maka, saya berpendapat tetap harus menjadi covenant keeper apapun yang terjadi. Karena kalau roh Kristus ada dalam diri seseorang, pastilah dia tidak akan tahan berlama2 hidup dalam dosa dan pelanggaran, sehingga potensi untuk berubahnya ada.

    Kalau terjadi KDRT? ketidakadilan dll? Boleh berpisah sementara (demi alasan keamanan dan perlindungan terhadap anak), tetapi harus tetap didoakan agar terjadi pemulihan dan tetap menjadi covenant keeper. Mudah? tentu saja tidak. Tapi apakah ini masuk akal? menurut saya ya! Karena sudah ada banyak kasus dan testimoni dimana ketika salah satu pihak “error”, pihak yang benar berdoa dan membawa sungguh2 ke hadapan Tuhan, dan terjadi pemulihan.

    Bahkan ada beberapa kasus yang sudah sangat parah dan tampaknya sudah tak mungkin bisa pulih, tapi toh ternyata Tuhan bisa melakukan keajaiban ketika salah satu tetap berdoa dan memegang covenant.

    Ketiga, bagi saya, kalau memang dari awal bangun hubungannya benar. Memang dari awal membangun hubungan di dalam kristus dan melibatkan kristus, rasanya KDRT akan kecil peluangnya untuk terjadi.

    Keempat, poligami? Kok bisa2nya orang di dalam kristus berpikir tentang poligami? perlu dicek benar2 sudah lahir baru atau belum? hehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *